FITNESS & HEALTH

Belum Ada di Indonesia, Tapi Virus Nipah Udah Bikin Waspada: Ini Gejala & Faktanya

A. Firdaus
Sabtu 21 Februari 2026 / 16:10
Ringkasnya gini..
  • Potensi wabah Virus Nipah tetap ada.
  • Gejala Virus Nipah biasanya muncul dalam waktu 5–14 hari.
  • Virus Nipah adalah penyakit infeksi akibat virus Nipah (NiV).
Jakarta: Demam tinggi yang muncul mendadak, disertai gangguan pernapasan hingga penurunan kesadaran, tidak boleh dianggap sepele. Salah satu penyakit infeksi langka namun berisiko tinggi yang perlu diwaspadai adalah Virus Nipah.

Meski hingga saat ini belum ditemukan kasus Virus Nipah di Indonesia, potensi penularannya tetap menjadi perhatian karena sifat virus yang mematikan dan kemampuan menyebar dari hewan ke manusia.

Virus Nipah dikenal sebagai penyakit zoonosis dengan tingkat kematian yang tinggi dan belum memiliki vaksin maupun antivirus spesifik. Deteksi dini dan kewaspadaan menjadi kunci utama dalam mencegah dampak yang lebih luas. Menurut dr. Timoteus Richard, Sp.PD, dokter spesialis penyakit dalam di Bethsaida Hospital Gading Serpong, penyakit infeksi dengan fatalitas tinggi seperti Virus Nipah menuntut kewaspadaan sejak gejala awal.

"Semakin cepat dikenali, semakin besar peluang pasien mendapatkan penanganan yang optimal," kata dr. Timoteus.
 

Apa itu Virus Nipah?


Virus Nipah adalah penyakit infeksi akibat virus Nipah (NiV), yaitu virus RNA dari kelompok Paramyxovirus. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, terutama pada peternakan babi.

Virus Nipah tergolong penyakit zoonosis, artinya dapat menular dari hewan ke manusia. Reservoir alami virus ini adalah kelelawar pemakan buah, sementara hewan perantara seperti babi dapat mempercepat penyebaran ke manusia. 
  
Infeksi Virus Nipah dapat menyerang berbagai organ penting, terutama saluran pernapasan dan sistem saraf, sehingga berisiko menyebabkan gangguan berat hingga kematian.
 

Apakah Virus Nipah bisa menjadi wabah?


Potensi wabah Virus Nipah tetap ada, terutama karena beberapa faktor berikut:
- Indonesia memiliki reservoir alami dan habitat kelelawar buah.
- Belum tersedia vaksin maupun antivirus spesifik.
- Kemudahan akses perjalanan internasional termasuk  ke negara dengan kasus Nipah (India, Bangladesh).
- Risiko imported case dari pelaku perjalanan.

“Walaupun belum ada kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap penting. Mobilitas global yang tinggi membuat risiko penyakit lintas negara tidak bisa diabaikan," ucap dr. Timoteus.
 

Gejala Virus Nipah


Gejala Virus Nipah biasanya muncul dalam waktu 5–14 hari setelah terpapar, namun pada beberapa kasus bisa lebih cepat atau lebih lambat.

Gejala awal yang sering muncul:
- Demam tinggi mendadak.
- Sakit kepala berat.
- Nyeri otot.
- Mual dan muntah.
- Tubuh terasa sangat lemas.

Jika kondisi memburuk, dapat muncul gejala berat seperti:

- Batuk dan sesak napas.
- Gangguan pernapasan akut.
- Penurunan kesadaran.
- Kejang
- Radang otak (ensefalitis).

“Gejala awal Virus Nipah sering menyerupai infeksi biasa. Namun, bila disertai penurunan kesadaran atau gangguan napas, kondisi ini harus segera ditangani di fasilitas kesehatan,” ujar dr. Timoteus.

Pada kondisi berat, pasien dapat mengalami koma dalam waktu singkat, sehingga penanganan medis segera menjadi sangat penting. Kewaspadaan masyarakat dan tenaga kesehatan berperan besar dalam mencegah dampak yang lebih luas dari penyakit infeksi berisiko tinggi ini.

Di tengah mobilitas global yang semakin tinggi, kewaspadaan terhadap penyakit infeksi berisiko tinggi seperti Virus Nipah tetap penting, meskipun hingga saat ini belum ditemukan kasus di Indonesia. Pemahaman yang tepat, deteksi dini, dan kesiapan layanan kesehatan menjadi kunci untuk mencegah dampak yang lebih luas.

Hospital dengan layanan medis komprehensif, didukung tenaga kesehatan berpengalaman serta sistem penanganan penyakit infeksi yang terintegrasi, berperan penting dalam memastikan penanganan yang cepat, tepat, dan aman bagi pasien.

“Kesiapan hospital tidak hanya diukur dari kemampuan menangani penyakit yang umum terjadi sehari-hari, tetapi juga dari kesiapan dalam mengantisipasi penyakit infeksi berisiko tinggi yang dapat muncul sewaktu-waktu," ucap dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong.

"Di Bethsaida Hospital Gading Serpong, kami memastikan setiap pasien mendapatkan evaluasi menyeluruh melalui kolaborasi tim medis multidisiplin, didukung fasilitas diagnostik yang lengkap dan sistem penanganan infeksi yang terintegrasi. Deteksi dini, respons cepat, serta edukasi yang berkelanjutan kepada masyarakat menjadi fondasi utama kami dalam menjaga keselamatan dan kualitas hidup pasien,” tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH