FITNESS & HEALTH
Dari Malnutrisi ke Sarcopenia, Risiko Kanker pada Anak yang Nggak Boleh Diremehkan
A. Firdaus
Kamis 19 Februari 2026 / 12:07
- Nutrisi pada pejuang kanker anak bukan hanya tentang memberikan makan.
- Asupan porsi makan yang tidak besar tapi berfokus pada gizi.
- Malnutrisi adalah gejala awal dimulainya kondisi anoreksia.
Jakarta: Kanker tidak hanya dialami oleh orang dewasa, tapi juga diderita oleh anak-anak. Laporan Indonesian Pediatric Center Registry bahkan mengungkapkan bahwa pada 2021 – 2022 terjadi lonjakan jumlah kasus baru kanker anak sebanyak 3.834. Inilah mengapa Kalbe menaruh perhatian besar terhadap kanker anak.
"Kanker yang dialami oleh anak terjadi bukan karena apa yang mereka makan tidak sehat, walau ini bisa menjadi pencetus kanker ketika mereka dewasa, tapi penyebab utama kanker pada anak adalah perubahan genetik atau mutasi pada DNA," Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra M.Gizi, AIFO-K saat memperingati Hari Kanker Anak Sedunia yang bertema “Demonstrating Impact: From Challenge to Change”.
"Kedua, bisa juga karena polutan yang dapat menjadi penyebabnya. Ketiga, pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak mampu dimatikan oleh tubuh, dan dapat dikatakan bahwa nutrisi merupakan terapi pondasi keberhasilan suatu terapi kanker pada anak usia dini," sambungnya.
Nutrisi pada pejuang kanker anak bukan hanya tentang memberikan makan. Pasalnya, fondasi nutrisi yang kuat berperan penting dalam membantu tubuh menghadapi efek samping kemoterapi serta mempercepat proses pemulihan.
Sebaliknya, ketika anak mengalami kekurangan gizi, kondisi ini justru dapat menghambat jadwal kemoterapi. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai malnutrisi.
"Malnutrisi adalah gejala awal dimulainya kondisi anoreksia, yang artinya hilangnya nafsu makan. Jika kebutuhan nutrisi tubuh yang tidak tercukupi tidak ditangani, kondisi yang tadinya malnutrisi dalam stadium ringan akan berubah menjadi kondisi yang berat, yaitu cachexia," ujar dr. Dedy.
Dokter Dedi menambahkan, cachexia ini tidak bicara hanya sebatas kehilangan berat badan namun juga kehilangan massa otot secara progresif yang disertai gangguan metabolik. Salah satunya adalah turunnya kemampuan tubuh untuk mempertahankan massa otot dan lemak.
Jika hal ini tidak ditangani, maka akan menyebabkan kondisi malnutrisi menjadi lebih parah, yaitu sarcopenia. Maka dari itu, deteksi risiko sejak awal penting diperhatikan.
Hal lain yang perlu diperhatikan lainnya adalah dukungan banyak pihak. Selain dokter dan anak, ahli gizi juga dapat menjadi pendamping dalam penanganan gizi pejuang kanker anak.
Tidak hanya itu, asupan porsi makan yang tidak besar tapi berfokus pada gizi juga dapat menunjang kebutuhan nutrisi mereka. Namun, jika asupan gizi tidak terpenuhi dari makanan, maka pejuang kanker anak perlu asupan nutrisi lain, misalnya suplemen.
“Kalbe memperhatikan tantangan pemenuhan nutrisi yang dialami oleh pejuang kanker anak melalui Nutrican Xential. Umumnya, kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi bukan karena kemauan anak, tetapi karena anak memang kesulitan makan selama menjalani terapi. Misalnya muncul sariawan, mual, atau muntah yang membuat anak tidak nyaman untuk makan,” pungkas Yulius Denis Chrismaaji, Brand Owner Nutrican.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
"Kanker yang dialami oleh anak terjadi bukan karena apa yang mereka makan tidak sehat, walau ini bisa menjadi pencetus kanker ketika mereka dewasa, tapi penyebab utama kanker pada anak adalah perubahan genetik atau mutasi pada DNA," Medical General Manager PT Kalbe Farma Tbk, dr. Dedyanto Henky Saputra M.Gizi, AIFO-K saat memperingati Hari Kanker Anak Sedunia yang bertema “Demonstrating Impact: From Challenge to Change”.
"Kedua, bisa juga karena polutan yang dapat menjadi penyebabnya. Ketiga, pertumbuhan sel-sel abnormal yang tidak mampu dimatikan oleh tubuh, dan dapat dikatakan bahwa nutrisi merupakan terapi pondasi keberhasilan suatu terapi kanker pada anak usia dini," sambungnya.
Nutrisi pada pejuang kanker anak bukan hanya tentang memberikan makan. Pasalnya, fondasi nutrisi yang kuat berperan penting dalam membantu tubuh menghadapi efek samping kemoterapi serta mempercepat proses pemulihan.
Sebaliknya, ketika anak mengalami kekurangan gizi, kondisi ini justru dapat menghambat jadwal kemoterapi. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai malnutrisi.
"Malnutrisi adalah gejala awal dimulainya kondisi anoreksia, yang artinya hilangnya nafsu makan. Jika kebutuhan nutrisi tubuh yang tidak tercukupi tidak ditangani, kondisi yang tadinya malnutrisi dalam stadium ringan akan berubah menjadi kondisi yang berat, yaitu cachexia," ujar dr. Dedy.
Waspada Sarcopenia
Dokter Dedi menambahkan, cachexia ini tidak bicara hanya sebatas kehilangan berat badan namun juga kehilangan massa otot secara progresif yang disertai gangguan metabolik. Salah satunya adalah turunnya kemampuan tubuh untuk mempertahankan massa otot dan lemak.
Jika hal ini tidak ditangani, maka akan menyebabkan kondisi malnutrisi menjadi lebih parah, yaitu sarcopenia. Maka dari itu, deteksi risiko sejak awal penting diperhatikan.
Hal lain yang perlu diperhatikan lainnya adalah dukungan banyak pihak. Selain dokter dan anak, ahli gizi juga dapat menjadi pendamping dalam penanganan gizi pejuang kanker anak.
Tidak hanya itu, asupan porsi makan yang tidak besar tapi berfokus pada gizi juga dapat menunjang kebutuhan nutrisi mereka. Namun, jika asupan gizi tidak terpenuhi dari makanan, maka pejuang kanker anak perlu asupan nutrisi lain, misalnya suplemen.
“Kalbe memperhatikan tantangan pemenuhan nutrisi yang dialami oleh pejuang kanker anak melalui Nutrican Xential. Umumnya, kebutuhan nutrisi anak tidak terpenuhi bukan karena kemauan anak, tetapi karena anak memang kesulitan makan selama menjalani terapi. Misalnya muncul sariawan, mual, atau muntah yang membuat anak tidak nyaman untuk makan,” pungkas Yulius Denis Chrismaaji, Brand Owner Nutrican.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)