FITNESS & HEALTH

RS MMC Perkenalkan Inovasi Bedah Robotik yang Lebih Presisi dan Minim Risiko

A. Firdaus
Jumat 16 Januari 2026 / 19:12
Jakarta: Teknologi bedah robotik semakin populer di dunia kedokteran, termasuk di bidang urologi. Bedah robotik bukan hanya tentang membuat sayatan lebih kecil, tetapi juga tentang meningkatkan akurasi, mengurangi risiko, dan memberikan kenyamanan bagi dokter dan pasien.

Dalam laparoskopi, operasi dilakukan melalui lubang kecil dengan bantuan instrumen panjang yang mirip sumpit, memungkinkan pemisahan organ dan penjahitan tanpa membuka tubuh lebar-lebar. Namun, teknik ini tidak mudah karena gerakan instrumen terbatas dan memerlukan keterampilan tinggi.

Di sinilah bedah robotik masuk sebagai solusi. Teknologi ini memungkinkan operasi laparoskopi dilakukan dengan instrumen yang lebih fleksibel, hampir menyerupai gerakan tangan manusia di luar tubuh.
"Robotic surgery memungkinkan kita melakukan operasi laparoscopic dengan instrumen yang lebih fleksibel, hampir seperti tangan manusia di luar tubuh," jelas dr. Gerhard Reinaldi Situmorang, Sp.U(K), PhD dalam acara Press Conference & Medical Innovation Event: World-Class Precision di Auditorium Soerjo RS Metropolitan Medical Centre, Kamis (15/01/2026).

Teknologi ini tidak hanya meniru gerakan tangan dokter, tetapi bahkan bisa melebihi kemampuan sendi manusia. Salah satu keunggulan utamanya adalah stabilitas kamera yang dipegang oleh robot, bukan asisten manusia yang bisa goyang setelah berjam-jam operasi.

"Dengan robot, kamera tetap stabil selama 3-4 jam, dan dokter bisa mengubah sudut pandang sendiri tanpa perlu meminta asisten," tambahnya.

Dokter Aldi juga menyoroti kemungkinan tele-robotic surgery, di mana dokter bisa mengoperasi pasien dari jarak jauh. Indonesia adalah salah satu negara pertama di Asia yang melakukan ini.

Hal ini membuka peluang besar terutama untuk daerah terpencil, meskipun dr. Aldi menekankan bahwa dokter tetap harus siap di lokasi pasien untuk situasi darurat.

Fokus utama dr. Aldi adalah tiga bidang yang ia geluti, yaitu urologi pediatrik, transplantasi ginjal, dan rekonstruksi. Di bidang pediatrik, ia membahas pieloplasty suatu operasi untuk memperbaiki penyempitan saluran ginjal pada anak-anak.

"Ini memerlukan banyak penjahitan halus, yang lebih mudah dilakukan dengan robot karena presisi dan stabilitasnya," kata dr. Aldi.

Ia menunjukkan video operasi nyata, di mana dokter duduk nyaman sambil mengontrol robot untuk menjahit saluran ginjal dan ureter. Keuntungan lainnya termasuk kehilangan darah yang lebih sedikit yang krusial untuk anak-anak dengan berat badan kecil.

Untuk transplantasi ginjal, dr. Aldi menjelaskan bahwa robotik mengurangi ukuran sayatan dari insisi besar menjadi lebih kecil, meskipun bukan hanya soal ukuran luka.

"Setiap sentimeter luka berarti trauma jaringan yang perlu sembuh, sehingga pemulihan lebih cepat, rawat inap lebih singkat, dan pasien bisa kembali produktif," jelasnya.

Data dari Eropa menunjukkan 624 kasus transplantasi ginjal robotik aman, dengan infeksi lebih rendah dan hasil jangka panjang setara dengan operasi terbuka.

Di bidang rekonstruksi, seperti penyambungan ureter ke kandung kemih karena robotik menawarkan keunggulan di area sempit seperti panggul. dr. Aldi menekankan bahwa robotik ideal untuk prosedur yang membutuhkan penjahitan banyak dan gerakan presisi.

"Operasi ini sulit bahkan dengan terbuka, tapi robot membuatnya lebih mudah dengan gerakan halus dan pandangan yang diperbesar," kata dr. Aldi.

"Setiap nyawa layak mendapat perawatan kelas dunia. Dengan robotik, kita bisa bawa inovasi ini ke Indonesia, kurangi biaya kesehatan di luar negeri, dan buktikan ahli kita tak kalah," tutup dr. Aldi dengan pesan inspiratif. 

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH