FITNESS & HEALTH
Banyak Kesamaan atau Perbedaan, Mana yang Bikin Lebih Awet & Happy?
Yatin Suleha
Senin 15 Juni 2026 / 08:05
- Sering denger gak sih, ada yang bilang pasangan ideal itu yang punya banyak kesamaan?
- Tapi di sisi lain, ada juga yang percaya kalau 'perbedaan itu justru bikin saling melengkapi'.
- "Journal of Social and Personal Relationships" ungkap antara banyak kesamaan dan perbedaan dalam hubungan.
Jakarta: Sering denger gak sih, ada yang bilang pasangan ideal itu yang punya banyak kesamaan? Tapi di sisi lain, ada juga yang percaya kalau 'perbedaan itu justru bikin saling melengkapi'. Jadi, mana yang beneran bikin hubungan awet dan bahagia?
Penasaran sama jawabannya, para peneliti terus bedah gimana sih pengaruh kesamaan ini ke kepuasan hubungan jangka panjang.
Salah satunya lewat riset yang diterbitkan di "Journal of Social and Personal Relationships" oleh tim dari University of Michigan.
Mereka ngerangkum berbagai temuan selama puluhan tahun terkait 'hipotesis kesamaan'. Intinya, teori ini bilang kalau pasangan yang punya banyak kemiripan cenderung punya hubungan yang lebih harmonis, happy, dan pastinya lebih tahan lama dibanding mereka yang punya banyak perbedaan. Interesting, ya!"
Dalam dunia psikologi hubungan, pertanyaan mengenai apakah pasangan yang mirip lebih cocok, dibandingkan pasangan yang berbeda telah lama menjadi topik penelitian.
Dilansir dari Psychology Today, sejak dulu, psikolog Donn Byrne menemukan bahwa seseorang, umumnya lebih tertarik kepada orang yang memiliki sikap, nilai, keyakinan, dan cara pandang yang serupa.
Kesamaan tersebut dianggap mampu menciptakan rasa nyaman, memperkuat pandangan hidup masing-masing, meningkatkan rasa saling menyukai, serta membuat seseorang merasa lebih dipahami oleh pasangannya.
Meski begitu, ada pula teori lain yang dikenal sebagai hipotesis komplementaritas. Teori ini berpendapat bahwa perbedaan tertentu, justru dapat memperkuat hubungan.
.jpg)
(Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa memiliki banyak kesamaan, memang dapat membantu membangun hubungan yang lebih harmonis. Namun, keberhasilan hubungan tidak hanya ditentukan oleh kemiripan semata. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Misalnya, ketika satu pasangan memiliki sifat lebih dominan, sementara pasangannya lebih akomodatif, keduanya dapat membentuk pola interaksi yang seimbang dan saling melengkapi. Dalam beberapa kasus, perbedaan seperti ini bisa membantu menciptakan hubungan yang stabil.
Namun, sebagian besar penelitian selama beberapa dekade terakhir, lebih banyak mendukung teori kesamaan dibandingkan gagasan bahwa “lawan jenis menarik”.
Kesamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketertarikan awal, dan memperkuat ikatan emosional antara pasangan.
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan jangka panjang, tidak sesederhana sekadar memiliki banyak kesamaan.
Hingga kini, masih sulit menentukan seberapa besar pengaruh kesamaan, terhadap kepuasan hubungan karena setiap penelitian menggunakan metode yang berbeda.
Ada yang menilai kesamaan berdasarkan kepribadian, nilai hidup, pendidikan, hingga latar belakang sosial. Selain itu, para ahli juga membedakan antara kesamaan aktual dan kesamaan yang dirasakan.
Kesamaan aktual merujuk pada kemiripan yang benar-benar ada secara objektif, sedangkan kesamaan yang dirasakan adalah keyakinan seseorang, bahwa dirinya mirip dengan pasangan, meskipun belum tentu demikian. Menariknya, kedua aspek ini masih jarang diteliti secara bersamaan.
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa memiliki banyak kesamaan, memang dapat membantu membangun hubungan yang lebih harmonis. Namun, keberhasilan hubungan tidak hanya ditentukan oleh kemiripan semata.
Cara pasangan memahami perbedaan, berkomunikasi, dan membangun rasa saling mengerti tetap menjadi faktor penting, yang menentukan kebahagiaan dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Penasaran sama jawabannya, para peneliti terus bedah gimana sih pengaruh kesamaan ini ke kepuasan hubungan jangka panjang.
Salah satunya lewat riset yang diterbitkan di "Journal of Social and Personal Relationships" oleh tim dari University of Michigan.
Mereka ngerangkum berbagai temuan selama puluhan tahun terkait 'hipotesis kesamaan'. Intinya, teori ini bilang kalau pasangan yang punya banyak kemiripan cenderung punya hubungan yang lebih harmonis, happy, dan pastinya lebih tahan lama dibanding mereka yang punya banyak perbedaan. Interesting, ya!"
Baca Juga :
Romantis dan Menekan di Satu Waktu? Hati-hati! Bisa Jadi Itu Love Bombing, Begini Tandanya
Mengapa kesamaan dianggap penting?
Dalam dunia psikologi hubungan, pertanyaan mengenai apakah pasangan yang mirip lebih cocok, dibandingkan pasangan yang berbeda telah lama menjadi topik penelitian.
Dilansir dari Psychology Today, sejak dulu, psikolog Donn Byrne menemukan bahwa seseorang, umumnya lebih tertarik kepada orang yang memiliki sikap, nilai, keyakinan, dan cara pandang yang serupa.
Kesamaan tersebut dianggap mampu menciptakan rasa nyaman, memperkuat pandangan hidup masing-masing, meningkatkan rasa saling menyukai, serta membuat seseorang merasa lebih dipahami oleh pasangannya.
Teori bahwa perbedaan bisa saling melengkapi
Meski begitu, ada pula teori lain yang dikenal sebagai hipotesis komplementaritas. Teori ini berpendapat bahwa perbedaan tertentu, justru dapat memperkuat hubungan.
.jpg)
(Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa memiliki banyak kesamaan, memang dapat membantu membangun hubungan yang lebih harmonis. Namun, keberhasilan hubungan tidak hanya ditentukan oleh kemiripan semata. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Misalnya, ketika satu pasangan memiliki sifat lebih dominan, sementara pasangannya lebih akomodatif, keduanya dapat membentuk pola interaksi yang seimbang dan saling melengkapi. Dalam beberapa kasus, perbedaan seperti ini bisa membantu menciptakan hubungan yang stabil.
Penelitian lebih banyak mendukung kesamaan
Namun, sebagian besar penelitian selama beberapa dekade terakhir, lebih banyak mendukung teori kesamaan dibandingkan gagasan bahwa “lawan jenis menarik”.
Kesamaan dinilai memiliki peran penting dalam membangun ketertarikan awal, dan memperkuat ikatan emosional antara pasangan.
Kesamaan tidak selalu menentukan kebahagiaan
Meski demikian, para peneliti menegaskan bahwa hubungan jangka panjang, tidak sesederhana sekadar memiliki banyak kesamaan.
Hingga kini, masih sulit menentukan seberapa besar pengaruh kesamaan, terhadap kepuasan hubungan karena setiap penelitian menggunakan metode yang berbeda.
Ada yang menilai kesamaan berdasarkan kepribadian, nilai hidup, pendidikan, hingga latar belakang sosial. Selain itu, para ahli juga membedakan antara kesamaan aktual dan kesamaan yang dirasakan.
Kesamaan aktual merujuk pada kemiripan yang benar-benar ada secara objektif, sedangkan kesamaan yang dirasakan adalah keyakinan seseorang, bahwa dirinya mirip dengan pasangan, meskipun belum tentu demikian. Menariknya, kedua aspek ini masih jarang diteliti secara bersamaan.
Hubungan bahagia tidak hanya soal kemiripan
Secara keseluruhan, penelitian menunjukkan bahwa memiliki banyak kesamaan, memang dapat membantu membangun hubungan yang lebih harmonis. Namun, keberhasilan hubungan tidak hanya ditentukan oleh kemiripan semata.
Cara pasangan memahami perbedaan, berkomunikasi, dan membangun rasa saling mengerti tetap menjadi faktor penting, yang menentukan kebahagiaan dalam jangka panjang.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)