FAMILY

Saatnya Take Control! 10 Tips Safety Plan Saat Mau Lepas Dari Pasangan Toxic

A. Firdaus
Selasa 28 Juli 2026 / 11:12
Ringkasnya gini..
  • Penting untuk menyusun safety plan atau rencana keselamatan.
  • Rencana ini dapat membantu mengurangi risiko.
  • Banyak orang mengira bahaya akan berakhir setelah memutuskan berpisah.
Jakarta: Meninggalkan hubungan yang abusif bukanlah keputusan yang mudah. Banyak orang mengira bahaya akan berakhir setelah memutuskan berpisah.

Padahal, menurut para ahli, masa ketika seseorang hendak meninggalkan pelaku, justru sering menjadi periode dengan risiko paling tinggi. 

Oleh karena itu, penting untuk menyusun safety plan atau rencana keselamatan, agar proses keluar dari hubungan dapat dilakukan dengan lebih aman dan terarah.
Dilansir dari Psychology Today, Kaytee Gillis, LCSW, psikoterapis, menjelaskan bahwa rencana ini dapat membantu mengurangi risiko, sekaligus mempersiapkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.
 

1. Utamakan keselamatan anak dan orang yang bergantung


Jika memiliki anak, anggota keluarga yang tinggal serumah, atau hewan peliharaan, pastikan keselamatan mereka menjadi prioritas utama. Tentukan sejak awal siapa saja, yang akan ikut pergi dan bagaimana cara melindungi mereka.
 

2. Pikirkan tujuan setelah keluar dari rumah


Sebelum meninggalkan hubungan, tentukan tempat yang akan dituju. Lokasi tersebut bisa berupa rumah keluarga, teman yang dipercaya, atau tempat penampungan bagi korban kekerasan. Memiliki tujuan yang jelas, dapat membantu mengambil keputusan lebih cepat saat situasi darurat.
 

3. Pilih waktu yang paling aman


Usahakan meninggalkan rumah ketika pelaku tidak berada di lokasi, misalnya saat bekerja atau sedang bepergian. Langkah ini bertujuan, mengurangi kemungkinan terjadi konfrontasi yang dapat membahayakan.
 

4. Siapkan transportasi


Pastikan sudah memiliki rencana transportasi sebelum pergi. Jika menggunakan kendaraan pribadi, usahakan bahan bakarnya cukup. Jika tidak memiliki kendaraan, tentukan siapa yang dapat membantu mengantar atau menjemput menuju tempat yang aman.
 

5. Bangun jaringan dukungan


Libatkan keluarga, sahabat, atau orang terdekat yang benar-benar dapat dipercaya. Demi menjaga keamanan, bagikan rencana ini hanya kepada orang yang mampu menjaga kerahasiaannya.
 

6. Buat kode darurat


Tentukan kata sandi atau kode khusus dengan orang terdekat. Kode ini dapat digunakan untuk memberi tanda bahwa pertolongan dibutuhkan, tanpa harus menjelaskan kondisi secara langsung.
 

7. Persiapkan dana cadangan


Jika memungkinkan, sisihkan uang tunai sedikit demi sedikit untuk kebutuhan darurat. Bagi yang memiliki keuangan bersama pasangan, berkonsultasi dengan pengacara juga dapat membantu memahami langkah hukum, yang perlu diambil.
 

8. Kumpulkan dokumen penting


Siapkan atau salin dokumen penting, seperti kartu identitas, paspor, dokumen kesehatan, dokumen imigrasi, buku tabungan, surat kendaraan, hingga dokumen hewan peliharaan jika ada. Simpan semuanya di tempat yang aman dan mudah diambil saat dibutuhkan.
 

9. Tingkatkan keamanan setelah berhasil keluar


Setelah meninggalkan hubungan, ubah rutinitas sehari-hari jika diperlukan, seperti rute perjalanan atau lokasi yang sering dikunjungi. Langkah ini dapat membantu mengurangi risiko bertemu dengan pelaku.
 

10. Ganti seluruh kata sandi akun digital


Segera ubah kata sandi email, media sosial, aplikasi perbankan, serta akun digital lainnya. Langkah ini penting untuk mencegah pelaku, mengakses informasi pribadi atau melacak keberadaan korban.

Meskipun rencana keselamatan dapat membantu mengurangi risiko, kondisi setiap orang berbeda. Dalam situasi yang mengancam keselamatan secara langsung, prioritas utama tetap mencari tempat yang aman, dan meminta bantuan kepada pihak yang berwenang, atau layanan pendamping korban sesegera mungkin.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH