FAMILY

Hubungan Sehat Bikin Kamu Glow Up, Bukan Kehilangan Jati Diri

A. Firdaus
Jumat 24 Juli 2026 / 07:00
Ringkasnya gini..
  • Pasangan yang tepat mampu melihat potensi.
  • Ketika seseorang merasa didukung untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya, hubungan akan terasa lebih bermakna.
  • Istilah ini diambil dari cara Michelangelo menggambarkan proses memahat patung.
Jakarta: Hubungan yang baik, bukan hanya soal saling mencintai atau selalu menghabiskan waktu bersama. Lebih dari itu, pasangan yang tepat mampu melihat potensi, yang mungkin bahkan belum sepenuhnya disadari oleh pasangannya sendiri. 

Dukungan yang diberikan tidak berhenti pada kata-kata penyemangat, tetapi juga tercermin dari sikap, perhatian, dan cara memperlakukan satu sama lain setiap hari.

Ketika seseorang merasa didukung untuk berkembang menjadi versi terbaik dirinya, hubungan akan terasa lebih bermakna. Sebaliknya, jika pasangan hanya terpaku pada masa lalu atau enggan menerima perubahan, pertumbuhan dalam hubungan pun bisa terhambat.
 

Efek Michelangelo dalam hubungan


Psikologi mengenal sebuah konsep yang disebut “efek Michelangelo”, untuk menjelaskan bagaimana pasangan dapat membantu satu sama lain berkembang.

Istilah ini diambil dari cara Michelangelo menggambarkan proses memahat patung. Menurutnya, sosok yang indah sebenarnya sudah ada di dalam bongkahan marmer, dan tugas pemahat hanyalah mengungkapkannya.

Konsep tersebut kemudian digunakan untuk menjelaskan dinamika dalam hubungan romantis. Seiring berjalannya waktu, pasangan dapat membantu mengeluarkan potensi terbaik satu sama lain, atau justru menghambat perkembangannya. Hal itu terjadi melalui dua proses utama.
 

Melihat potensi, bukan hanya kondisi saat ini


Proses pertama disebut pengakuan perseptual. Dalam tahap ini, pasangan tidak hanya melihat diri seseorang berdasarkan kondisi saat ini, melainkan mampu melihat potensi terbaik yang bisa dicapai di masa depan. 

Dilansir dari Psychology Today, mereka memperlakukan versi terbaik tersebut sebagai sesuatu yang nyata dan layak diperjuangkan, bukan sekadar angan-angan.

Selanjutnya ada pengakuan perilaku. Bentuknya terlihat dari tindakan sehari-hari, yang secara konsisten mendukung perkembangan pasangan. 

Mulai dari pertanyaan yang memotivasi, dukungan terhadap peluang baru, hingga memberi ruang agar pasangan terus belajar dan bertumbuh, bukan memaksanya tetap berada di tempat yang sama.
 

Dukungan ini bertahan sepanjang usia


Sebuah studi rentang hidup tiga generasi menemukan, bahwa proses Michelangelo berlangsung sepanjang masa dewasa, mulai usia 18 hingga 90 tahun. 

Penelitian tersebut menunjukkan bahwa pasangan yang mampu mendukung perkembangan satu sama lain, cenderung memiliki kesejahteraan dan kepuasan hubungan yang lebih baik, terlepas dari usia mereka.

Temuan ini juga memperlihatkan bahwa efek Michelangelo bukan hanya muncul pada masa-masa awal, ketika hubungan masih dipenuhi rasa jatuh cinta. 

Dinamika tersebut dapat terus bertahan selama puluhan tahun jika kedua belah pihak tetap saling melihat potensi, memberi dukungan, dan membantu satu sama lain menjadi versi terbaik dirinya.

Pada akhirnya, pertanyaan yang patut direnungkan bukan sekadar apakah pasangan mengenal diri dengan baik, tetapi apakah pasangan masih mampu melihat sosok yang sedang terus berkembang, atau justru hanya terpaku pada gambaran diri di masa lalu.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH