FAMILY
Masih Denial Ditinggal Mantan? Yuk, Move On Pelan-Pelan
A. Firdaus
Kamis 10 September 2026 / 09:12
- Hubungan romantis dapat memunculkan proses berduka.
- Kadang kita masih memiliki 1.000 pertanyaan, sementara mantan sudah tidak ingin memberikan 1.001 jawaban.
- Karena pada akhirnya, move on bukan perlombaan untuk melupakan mantan.
Jakarta: “Kayaknya dia cuma butuh waktu.” “Nanti juga dia balik.” “Masa sih hubungan selama ini berakhir begitu saja?”
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar familiar buat kamu yang baru saja diputuskan pasangan. Secara logika, hubungan memang sudah selesai. Tapi hati masih sibuk mencari alasan kenapa semuanya tidak bisa kembali seperti semula.
Kalau sedang berada di fase ini, kamu tidak sendirian. Putus cinta bukan cuma kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan rutinitas, rencana masa depan, kebiasaan, bahkan gambaran tentang diri sendiri ketika masih bersama pasangan.
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa berakhirnya hubungan romantis dapat memunculkan proses berduka. Seseorang bisa mengalami penyangkalan, kemarahan, kesedihan hingga penerimaan. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan berurutan dan tidak memiliki batas waktu yang sama bagi setiap orang.
Jadi, kalau beberapa hari atau minggu setelah putus kamu masih merasa “ini nggak mungkin berakhir”, bukan berarti kamu lemah. Bisa jadi, pikiran dan emosi kamu memang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan baru.
Lantas, bagaimana cara keluar dari fase denial dan mulai move on?
Langkah pertama mungkin terdengar paling menyebalkan, tetapi justru penting: berhenti bernegosiasi dengan kenyataan.
Kalau pasangan sudah menyatakan ingin mengakhiri hubungan, menerima keputusan tersebut bukan berarti kamu setuju dengan alasannya. Penerimaan berarti mengakui bahwa keputusan itu sudah terjadi dan kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk tetap tinggal.
Coba ubah kalimat:
“Dia pasti balik.”
menjadi:
“Aku memang masih berharap, tetapi saat ini hubungan kami sudah berakhir.”
Perubahan kalimat sederhana ini membantu kamu membedakan antara harapan dan kenyataan.
Menurut Cleveland Clinic, penerimaan setelah putus bukan berarti kamu tiba-tiba tidak sedih atau tidak lagi menyayangi mantan. Penerimaan lebih kepada memahami bahwa hubungan tersebut tidak berjalan sesuai harapan dan mulai memilih untuk menjalani hidup dengan cara yang sehat.
Ada kalanya setelah putus kita ingin buru-buru terlihat kuat.
Upload foto happy. Nongkrong setiap malam. Mengaku sudah tidak peduli. Bahkan buru-buru mencari pasangan baru supaya tidak merasa sendirian.
Padahal, tidak ada hadiah untuk orang yang paling cepat pura-pura move on.
Cleveland Clinic menyarankan agar seseorang memberi ruang untuk berduka setelah hubungan berakhir. Mengakui kesedihan justru menjadi bagian dari proses untuk bisa bergerak maju.
Jadi, kalau hari ini masih sedih, ya sudah. Akui saja.
Kamu tidak harus menang melawan perasaan sendiri setiap hari.
Ini bagian yang sering bikin seseorang gagal move on.
Kamu kangen, lalu berpikir ingin balikan.
Padahal, rasa kangen tidak selalu berarti hubungan tersebut harus dihidupkan kembali.
Kamu bisa merindukan seseorang sekaligus menyadari bahwa hubungan itu sudah tidak sehat atau memang tidak bisa dilanjutkan.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah aku benar-benar ingin kembali kepadanya?
- Atau aku hanya merindukan rutinitas ketika masih punya pasangan?
- Apakah aku merindukan dirinya atau perasaan dicintai?
- Kalau kembali, apakah masalah yang menyebabkan putus benar-benar sudah berubah?
Pertanyaan tersebut membantu kamu melihat hubungan secara lebih utuh, bukan hanya mengingat bagian manisnya.
“Seandainya aku tidak marah waktu itu.”
“Andai aku lebih perhatian.”
“Harusnya aku tidak mengatakan itu.”
Pikiran seperti ini bisa membuat seseorang terus terjebak dalam hubungan yang sebenarnya sudah selesai.
Memikirkan kembali apa yang terjadi boleh saja. Bahkan bisa membantu kamu belajar dari pengalaman. Tetapi jangan sampai seluruh hidup dihabiskan untuk mengulang masa lalu yang tidak bisa diedit.
American Psychological Association (APA) mencatat bahwa putus hubungan memang dapat memunculkan kesepian, tekanan emosional dan rasa kehilangan terhadap diri sendiri. Namun, pengalaman tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali pengalaman hubungan dan menemukan pertumbuhan personal.
Jadi, daripada bertanya “bagaimana supaya aku bisa membuat dia kembali?”, coba ganti dengan “apa yang bisa aku pelajari dari hubungan ini?”
Ini dia pekerjaan rumah paling berat di era media sosial.
Sudah bilang putus, tetapi Instagram masih dicek. Story masih ditunggu. Last seen masih diperhatikan. Foto lama masih dibuka. Bahkan teman mantan ikut dipantau.

Mencoba detox media sosial juga menjadi cara bagus untukmu melupakannya. Ilustrasi Generate Gemini AI
Kalau setiap membuka media sosial kamu selalu menemukan pemicu yang membuat luka kembali terbuka, tidak ada salahnya mengambil jarak.
Kamu bisa mute, unfollow, mengarsipkan foto atau membatasi interaksi untuk sementara.
Ini bukan berarti kamu kekanak-kanakan. Kamu sedang membuat ruang agar pikiran bisa beradaptasi.
Saat pacaran, banyak kegiatan yang otomatis dilakukan bersama.
Makan malam bersama. Jalan-jalan. Video Call-an sebelum tidur. Bertukar chat sepanjang hari.
Ketika hubungan berakhir, tiba-tiba ada banyak waktu kosong.
Nah, ruang kosong inilah yang sering membuat pikiran kembali kepada mantan.
Coba isi perlahan dengan aktivitas yang memang membuat kamu hidup kembali. Olahraga, memasak, membaca, traveling, bertemu teman, mengikuti kelas atau kembali menjalankan hobi yang sempat terbengkalai.
Cleveland Clinic juga merekomendasikan aktivitas sehat, hobi dan dukungan dari orang-orang terdekat sebagai bagian dari proses pemulihan setelah putus.
Tidak perlu memendam semuanya sendirian.
Pilih satu atau dua orang yang bisa mendengarkan tanpa terus mengatakan, “Sudahlah, cari yang baru.”
Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk mengatakan, “Aku ternyata masih sakit.”
Dukungan sosial juga penting dalam menghadapi proses kehilangan. APA menyebut dukungan sosial dan kebiasaan yang sehat sebagai bagian dari proses pemulihan setelah kehilangan.
Namun, kalau setiap kali bercerita kamu justru semakin terobsesi dengan mantan, coba batasi obrolan tentang hubungan tersebut. Tujuannya bukan memendam perasaan, tetapi membantu pikiran perlahan beralih ke kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.
Ini penting.
Dia memilih pergi bukan berarti kamu tidak layak dicintai.
Keputusan seseorang untuk mengakhiri hubungan bisa terasa seperti penolakan terhadap seluruh diri kita. Akibatnya, muncul pertanyaan seperti, “Apa aku kurang cantik?”, “Apa aku kurang baik?”, atau “Kenapa dia bisa bahagia tanpa aku?”
Padahal, berakhirnya sebuah hubungan tidak otomatis menjadi penilaian atas nilai diri seseorang.
Hubungan bisa berakhir karena ketidakcocokan, perubahan kebutuhan, perbedaan tujuan hidup atau berbagai persoalan lain.
Jangan mengubah keputusan pasangan menjadi vonis terhadap diri sendiri.
Tidak semua hubungan berakhir dengan penjelasan yang memuaskan.
Kadang kita masih memiliki 1.000 pertanyaan, sementara mantan sudah tidak ingin memberikan 1.001 jawaban.
Di titik tertentu, kamu perlu membuat penutupan untuk dirimu sendiri.
Kamu bisa menulis apa yang terjadi, apa yang membuat hubungan tersebut berarti, apa yang menyakitkan, apa yang kamu pelajari dan seperti apa hubungan yang kamu inginkan di masa depan.
Riset yang dibahas Psychology Today menunjukkan bahwa membangun pemaknaan yang sehat terhadap berakhirnya hubungan dapat membantu seseorang memahami kehilangan dan bergerak menuju arah hidup yang baru.
Closure tidak selalu datang dari mantan.
Kadang closure datang ketika kamu akhirnya berkata:
“Aku tidak suka bagaimana semuanya berakhir, tetapi aku menerima bahwa ini sudah berakhir.”
Rebound relationship mungkin terasa seperti jalan pintas untuk menghilangkan kesepian.
Tetapi kalau hati masih sibuk dengan mantan, hubungan baru bisa menjadi tempat pelarian, bukan hubungan yang benar-benar dibangun dengan sehat.
Tidak ada salahnya sendiri untuk sementara waktu.
Gunakan fase ini untuk kembali mengenal diri sendiri: apa yang kamu suka, apa yang tidak bisa kamu toleransi dalam hubungan, batasan apa yang kamu butuhkan dan seperti apa pasangan yang sebenarnya kamu inginkan.
Move on bukan berarti kamu lupa nama mantan.
Bukan juga berarti kamu tidak pernah menangis lagi.
Bahkan, kamu mungkin masih bisa merasa sedih ketika mendengar lagu tertentu atau melihat tempat yang pernah dikunjungi bersama.
Move on lebih dekat dengan kondisi ketika kenangan tersebut tidak lagi mengendalikan hidupmu.
Kamu mulai bisa menjalani hari tanpa menunggu chat dari doi. Tidak lagi mencari-cari alasan untuk bertemu. Tidak lagi menjadikan kehidupan mantan sebagai pusat perhatian.
Dan yang paling penting, kamu mulai bisa membayangkan masa depan tanpa harus memasukkan doi di dalamnya.
Prosesnya tidak harus cepat. Cleveland Clinic menekankan bahwa tidak ada durasi baku dalam proses berduka setelah putus dan emosi dapat muncul kembali meski seseorang merasa sudah lebih baik.
Kalau kesedihan terasa sangat berat, berlangsung lama, membuat aktivitas sehari-hari terganggu atau membuat kamu merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, mencari bantuan psikolog atau profesional kesehatan mental merupakan pilihan yang tepat.
Karena pada akhirnya, move on bukan perlombaan untuk melupakan mantan.
Ini tentang belajar menerima bahwa seseorang bisa menjadi bagian penting dari cerita kita, tetapi tidak harus menjadi bagian dari seluruh hidup kita.
Dan ya, kalau hari ini kamu masih loading, tidak apa-apa.
Yang penting jangan terus-terusan tinggal di halaman yang sama.
(FIR)
Kalimat-kalimat seperti itu mungkin terdengar familiar buat kamu yang baru saja diputuskan pasangan. Secara logika, hubungan memang sudah selesai. Tapi hati masih sibuk mencari alasan kenapa semuanya tidak bisa kembali seperti semula.
Kalau sedang berada di fase ini, kamu tidak sendirian. Putus cinta bukan cuma kehilangan seseorang, tetapi juga kehilangan rutinitas, rencana masa depan, kebiasaan, bahkan gambaran tentang diri sendiri ketika masih bersama pasangan.
Baca Juga :
Cowok Green Flag Itu Kayak Gimana Sih?
Cleveland Clinic menjelaskan bahwa berakhirnya hubungan romantis dapat memunculkan proses berduka. Seseorang bisa mengalami penyangkalan, kemarahan, kesedihan hingga penerimaan. Namun, proses tersebut tidak selalu berjalan berurutan dan tidak memiliki batas waktu yang sama bagi setiap orang.
Jadi, kalau beberapa hari atau minggu setelah putus kamu masih merasa “ini nggak mungkin berakhir”, bukan berarti kamu lemah. Bisa jadi, pikiran dan emosi kamu memang sedang berusaha menyesuaikan diri dengan kenyataan baru.
Lantas, bagaimana cara keluar dari fase denial dan mulai move on?
1. Akui dulu kalau hubungan memang sudah berakhir
Langkah pertama mungkin terdengar paling menyebalkan, tetapi justru penting: berhenti bernegosiasi dengan kenyataan.
Kalau pasangan sudah menyatakan ingin mengakhiri hubungan, menerima keputusan tersebut bukan berarti kamu setuju dengan alasannya. Penerimaan berarti mengakui bahwa keputusan itu sudah terjadi dan kamu tidak bisa memaksa orang lain untuk tetap tinggal.
Coba ubah kalimat:
“Dia pasti balik.”
menjadi:
“Aku memang masih berharap, tetapi saat ini hubungan kami sudah berakhir.”
Perubahan kalimat sederhana ini membantu kamu membedakan antara harapan dan kenyataan.
Menurut Cleveland Clinic, penerimaan setelah putus bukan berarti kamu tiba-tiba tidak sedih atau tidak lagi menyayangi mantan. Penerimaan lebih kepada memahami bahwa hubungan tersebut tidak berjalan sesuai harapan dan mulai memilih untuk menjalani hidup dengan cara yang sehat.
2. Jangan paksa diri untuk langsung baik-baik saja
Ada kalanya setelah putus kita ingin buru-buru terlihat kuat.
Upload foto happy. Nongkrong setiap malam. Mengaku sudah tidak peduli. Bahkan buru-buru mencari pasangan baru supaya tidak merasa sendirian.
Padahal, tidak ada hadiah untuk orang yang paling cepat pura-pura move on.
Cleveland Clinic menyarankan agar seseorang memberi ruang untuk berduka setelah hubungan berakhir. Mengakui kesedihan justru menjadi bagian dari proses untuk bisa bergerak maju.
Jadi, kalau hari ini masih sedih, ya sudah. Akui saja.
Kamu tidak harus menang melawan perasaan sendiri setiap hari.
3. Bedakan kangen dengan ingin kembali
Ini bagian yang sering bikin seseorang gagal move on.
Kamu kangen, lalu berpikir ingin balikan.
Padahal, rasa kangen tidak selalu berarti hubungan tersebut harus dihidupkan kembali.
Kamu bisa merindukan seseorang sekaligus menyadari bahwa hubungan itu sudah tidak sehat atau memang tidak bisa dilanjutkan.
Coba tanyakan kepada diri sendiri:
- Apakah aku benar-benar ingin kembali kepadanya?
- Atau aku hanya merindukan rutinitas ketika masih punya pasangan?
- Apakah aku merindukan dirinya atau perasaan dicintai?
- Kalau kembali, apakah masalah yang menyebabkan putus benar-benar sudah berubah?
Pertanyaan tersebut membantu kamu melihat hubungan secara lebih utuh, bukan hanya mengingat bagian manisnya.
4. Stop mengulang adegan “andai waktu itu...”
“Seandainya aku tidak marah waktu itu.”
“Andai aku lebih perhatian.”
“Harusnya aku tidak mengatakan itu.”
Pikiran seperti ini bisa membuat seseorang terus terjebak dalam hubungan yang sebenarnya sudah selesai.
Memikirkan kembali apa yang terjadi boleh saja. Bahkan bisa membantu kamu belajar dari pengalaman. Tetapi jangan sampai seluruh hidup dihabiskan untuk mengulang masa lalu yang tidak bisa diedit.
American Psychological Association (APA) mencatat bahwa putus hubungan memang dapat memunculkan kesepian, tekanan emosional dan rasa kehilangan terhadap diri sendiri. Namun, pengalaman tersebut juga bisa menjadi kesempatan untuk melihat kembali pengalaman hubungan dan menemukan pertumbuhan personal.
Jadi, daripada bertanya “bagaimana supaya aku bisa membuat dia kembali?”, coba ganti dengan “apa yang bisa aku pelajari dari hubungan ini?”
5. Kurangi kebiasaan stalking mantan
Ini dia pekerjaan rumah paling berat di era media sosial.
Sudah bilang putus, tetapi Instagram masih dicek. Story masih ditunggu. Last seen masih diperhatikan. Foto lama masih dibuka. Bahkan teman mantan ikut dipantau.

Mencoba detox media sosial juga menjadi cara bagus untukmu melupakannya. Ilustrasi Generate Gemini AI
Kalau setiap membuka media sosial kamu selalu menemukan pemicu yang membuat luka kembali terbuka, tidak ada salahnya mengambil jarak.
Kamu bisa mute, unfollow, mengarsipkan foto atau membatasi interaksi untuk sementara.
Ini bukan berarti kamu kekanak-kanakan. Kamu sedang membuat ruang agar pikiran bisa beradaptasi.
6. Kembalikan rutinitas yang sempat hilang
Saat pacaran, banyak kegiatan yang otomatis dilakukan bersama.
Makan malam bersama. Jalan-jalan. Video Call-an sebelum tidur. Bertukar chat sepanjang hari.
Ketika hubungan berakhir, tiba-tiba ada banyak waktu kosong.
Nah, ruang kosong inilah yang sering membuat pikiran kembali kepada mantan.
Coba isi perlahan dengan aktivitas yang memang membuat kamu hidup kembali. Olahraga, memasak, membaca, traveling, bertemu teman, mengikuti kelas atau kembali menjalankan hobi yang sempat terbengkalai.
Cleveland Clinic juga merekomendasikan aktivitas sehat, hobi dan dukungan dari orang-orang terdekat sebagai bagian dari proses pemulihan setelah putus.
7. Cerita ke orang yang tepat
Tidak perlu memendam semuanya sendirian.
Pilih satu atau dua orang yang bisa mendengarkan tanpa terus mengatakan, “Sudahlah, cari yang baru.”
Kadang seseorang tidak membutuhkan solusi. Mereka hanya membutuhkan ruang untuk mengatakan, “Aku ternyata masih sakit.”
Dukungan sosial juga penting dalam menghadapi proses kehilangan. APA menyebut dukungan sosial dan kebiasaan yang sehat sebagai bagian dari proses pemulihan setelah kehilangan.
Namun, kalau setiap kali bercerita kamu justru semakin terobsesi dengan mantan, coba batasi obrolan tentang hubungan tersebut. Tujuannya bukan memendam perasaan, tetapi membantu pikiran perlahan beralih ke kehidupan yang sedang kamu jalani sekarang.
8. Jangan jadikan penolakan sebagai ukuran harga diri
Ini penting.
Dia memilih pergi bukan berarti kamu tidak layak dicintai.
Keputusan seseorang untuk mengakhiri hubungan bisa terasa seperti penolakan terhadap seluruh diri kita. Akibatnya, muncul pertanyaan seperti, “Apa aku kurang cantik?”, “Apa aku kurang baik?”, atau “Kenapa dia bisa bahagia tanpa aku?”
Padahal, berakhirnya sebuah hubungan tidak otomatis menjadi penilaian atas nilai diri seseorang.
Hubungan bisa berakhir karena ketidakcocokan, perubahan kebutuhan, perbedaan tujuan hidup atau berbagai persoalan lain.
Jangan mengubah keputusan pasangan menjadi vonis terhadap diri sendiri.
9. Buat “penutupan” versi kamu sendiri
Tidak semua hubungan berakhir dengan penjelasan yang memuaskan.
Kadang kita masih memiliki 1.000 pertanyaan, sementara mantan sudah tidak ingin memberikan 1.001 jawaban.
Di titik tertentu, kamu perlu membuat penutupan untuk dirimu sendiri.
Kamu bisa menulis apa yang terjadi, apa yang membuat hubungan tersebut berarti, apa yang menyakitkan, apa yang kamu pelajari dan seperti apa hubungan yang kamu inginkan di masa depan.
Riset yang dibahas Psychology Today menunjukkan bahwa membangun pemaknaan yang sehat terhadap berakhirnya hubungan dapat membantu seseorang memahami kehilangan dan bergerak menuju arah hidup yang baru.
Closure tidak selalu datang dari mantan.
Kadang closure datang ketika kamu akhirnya berkata:
“Aku tidak suka bagaimana semuanya berakhir, tetapi aku menerima bahwa ini sudah berakhir.”
10. Jangan buru-buru mencari pengganti
Rebound relationship mungkin terasa seperti jalan pintas untuk menghilangkan kesepian.
Tetapi kalau hati masih sibuk dengan mantan, hubungan baru bisa menjadi tempat pelarian, bukan hubungan yang benar-benar dibangun dengan sehat.
Tidak ada salahnya sendiri untuk sementara waktu.
Gunakan fase ini untuk kembali mengenal diri sendiri: apa yang kamu suka, apa yang tidak bisa kamu toleransi dalam hubungan, batasan apa yang kamu butuhkan dan seperti apa pasangan yang sebenarnya kamu inginkan.
Jadi, kapan sebenarnya kita sudah move on?
Move on bukan berarti kamu lupa nama mantan.
Bukan juga berarti kamu tidak pernah menangis lagi.
Bahkan, kamu mungkin masih bisa merasa sedih ketika mendengar lagu tertentu atau melihat tempat yang pernah dikunjungi bersama.
Move on lebih dekat dengan kondisi ketika kenangan tersebut tidak lagi mengendalikan hidupmu.
Kamu mulai bisa menjalani hari tanpa menunggu chat dari doi. Tidak lagi mencari-cari alasan untuk bertemu. Tidak lagi menjadikan kehidupan mantan sebagai pusat perhatian.
Dan yang paling penting, kamu mulai bisa membayangkan masa depan tanpa harus memasukkan doi di dalamnya.
Prosesnya tidak harus cepat. Cleveland Clinic menekankan bahwa tidak ada durasi baku dalam proses berduka setelah putus dan emosi dapat muncul kembali meski seseorang merasa sudah lebih baik.
Kalau kesedihan terasa sangat berat, berlangsung lama, membuat aktivitas sehari-hari terganggu atau membuat kamu merasa tidak mampu mengatasinya sendiri, mencari bantuan psikolog atau profesional kesehatan mental merupakan pilihan yang tepat.
Karena pada akhirnya, move on bukan perlombaan untuk melupakan mantan.
Ini tentang belajar menerima bahwa seseorang bisa menjadi bagian penting dari cerita kita, tetapi tidak harus menjadi bagian dari seluruh hidup kita.
Dan ya, kalau hari ini kamu masih loading, tidak apa-apa.
Yang penting jangan terus-terusan tinggal di halaman yang sama.
(FIR)