FAMILY
Green Flag yang Sering Diremehkan: Pasangan yang Benar-Benar Ngertiin Kamu
A. Firdaus
Jumat 24 Juli 2026 / 07:10
- Rendahnya responsivitas pasangan yang dirasakan berkaitan dengan meningkatnya reaksi emosional negatif.
- Semakin tinggi tingkat responsivitas pasangan yang dirasakan, semakin positif pula seseorang memandang berbagai bentuk pengorbanan.
- Saat seseorang merasa didengar, dimengerti, dan diterima apa adanya, hubungan akan terasa lebih nyaman.
Jakarta: Hubungan yang sehat bukan hanya membuat hati terasa lebih tenang, melainkan dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan tubuh. Banyak orang mengira kualitas hubungan hanya diukur, dari seberapa sering pasangan menunjukkan perhatian atau seberapa jarang terjadi pertengkaran.
Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu perasaan benar-benar dipahami oleh pasangan. Saat seseorang merasa didengar, dimengerti, dan diterima apa adanya, hubungan akan terasa lebih nyaman.
Sebaliknya, jika perasaan itu tidak pernah hadir dalam waktu yang lama, dampaknya bukan hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan.
Jika merasa dimengerti hanya berdampak pada kebahagiaan emosional, hal itu saja sudah cukup penting. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruhnya juga dapat terlihat dari sisi fisiologis.
Dilansir dari Psychology Today, salah satu studi longitudinal selama 20 tahun yang diterbitkan dalam Psychosomatic Medicine, mengikuti lebih dari 1.200 orang dewasa melalui tiga tahap pengumpulan data. Penelitian ini mengukur apa yang disebut sebagai "responsivitas pasangan yang dirasakan", yaitu sejauh mana seseorang merasa pasangannya benar-benar memahami, peduli, dan menerima dirinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya responsivitas pasangan yang dirasakan berkaitan dengan meningkatnya reaksi emosional negatif, dalam kehidupan sehari-hari dari waktu ke waktu.
Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan meningkatnya angka kematian, akibat segala penyebab selama periode penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa perasaan tidak dipahami atau tidak mendapat perhatian dari pasangan, dalam jangka panjang dapat membawa dampak nyata bagi kesehatan.
Temuan serupa juga muncul dalam studi tahun 2022, yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology.
Penelitian tersebut menemukan bahwa semakin tinggi tingkat responsivitas pasangan yang dirasakan, semakin positif pula seseorang memandang berbagai bentuk pengorbanan dalam hubungan, seperti berkompromi, pindah tempat tinggal, atau mengalah demi pasangan.
Mereka yang merasa benar-benar dipahami oleh pasangannya mengaku lebih ringan menjalani pengorbanan, memiliki kepuasan hubungan yang lebih tinggi, serta lebih sedikit merasakan penyesalan setelah mengambil keputusan.
Bahkan, mereka juga cenderung lebih siap berkorban sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan dipahami tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga mengubah cara seseorang memaknai setiap tantangan, yang dihadapi bersama pasangan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Padahal, ada hal lain yang tidak kalah penting, yaitu perasaan benar-benar dipahami oleh pasangan. Saat seseorang merasa didengar, dimengerti, dan diterima apa adanya, hubungan akan terasa lebih nyaman.
Sebaliknya, jika perasaan itu tidak pernah hadir dalam waktu yang lama, dampaknya bukan hanya memengaruhi kondisi emosional, tetapi juga kesehatan secara keseluruhan.
Baca Juga :
Cinta yang Sehat Selalu Punya Ciri Khas, yaitu Bikin Kamu Jadi Versi Terbaik dari Dirimu
Merasa dipahami ternyata berpengaruh pada kesehatan
Jika merasa dimengerti hanya berdampak pada kebahagiaan emosional, hal itu saja sudah cukup penting. Namun, berbagai penelitian menunjukkan bahwa pengaruhnya juga dapat terlihat dari sisi fisiologis.
Dilansir dari Psychology Today, salah satu studi longitudinal selama 20 tahun yang diterbitkan dalam Psychosomatic Medicine, mengikuti lebih dari 1.200 orang dewasa melalui tiga tahap pengumpulan data. Penelitian ini mengukur apa yang disebut sebagai "responsivitas pasangan yang dirasakan", yaitu sejauh mana seseorang merasa pasangannya benar-benar memahami, peduli, dan menerima dirinya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa rendahnya responsivitas pasangan yang dirasakan berkaitan dengan meningkatnya reaksi emosional negatif, dalam kehidupan sehari-hari dari waktu ke waktu.
Kondisi tersebut kemudian dikaitkan dengan meningkatnya angka kematian, akibat segala penyebab selama periode penelitian. Temuan ini menunjukkan bahwa perasaan tidak dipahami atau tidak mendapat perhatian dari pasangan, dalam jangka panjang dapat membawa dampak nyata bagi kesehatan.
Pengorbanan terasa lebih ringan dalam hubungan yang sehat
Temuan serupa juga muncul dalam studi tahun 2022, yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology.
Penelitian tersebut menemukan bahwa semakin tinggi tingkat responsivitas pasangan yang dirasakan, semakin positif pula seseorang memandang berbagai bentuk pengorbanan dalam hubungan, seperti berkompromi, pindah tempat tinggal, atau mengalah demi pasangan.
Mereka yang merasa benar-benar dipahami oleh pasangannya mengaku lebih ringan menjalani pengorbanan, memiliki kepuasan hubungan yang lebih tinggi, serta lebih sedikit merasakan penyesalan setelah mengambil keputusan.
Bahkan, mereka juga cenderung lebih siap berkorban sejak awal. Hal ini menunjukkan bahwa perasaan dipahami tidak hanya mempererat hubungan, tetapi juga mengubah cara seseorang memaknai setiap tantangan, yang dihadapi bersama pasangan.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)