FITNESS & HEALTH
Lacak Kontak Erat 100%, Kemenkes Gaspol Kejar Eliminasi TB 2030!
Yatin Suleha
Kamis 09 Juli 2026 / 17:13
- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lagi gaspol ubah strategi buat berantas TB di Indonesia!
- Sekarang, pemerintah mewajibkan pelacakan 100% buat keluarga dan semua kontak erat pasien.
- Kemenkes wajibkan lacak kontak erat pasien guna eliminasi TB tahun 2030.
Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) lagi gaspol ubah strategi buat berantas TB di Indonesia! Sekarang, pemerintah mewajibkan pelacakan 100% buat keluarga dan semua kontak erat pasien, supaya rantai penularan bisa putus dan target eliminasi TB di 2030 segera tercapai.
Strategi baru ini ditegaskan langsung sama Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, pas buka Forum Nasional Tuberkulosis 2026 di Jakarta, Selasa (7/7) kemarin.
"Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen. Kita jangan mancing di laut, tetapi mancing di kolam ikan. Yang sakit harus segera diobati, yang belum sakit harus dilindungi," ujar Wamenkes Beny.
Menurut Wamenkes Beny, selama ini penanganan TB cenderung berfokus pada pengobatan pasien yang sudah sakit tanpa memutus sumber penularan terdekat.
Melalui strategi baru ini, Kemenkes akan memperluas pelacakan kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), rontgen portabel, dan tes cepat.
Wamenkes Beny memastikan anggaran pelaksanaan pelacakan pada 2026 telah siap. Ia juga meminta pemerintah daerah, fasilitas kesehatan swasta, organisasi profesi, hingga kader komunitas bergerak bersama.
"Strategi dan anggaran sudah ada, alat sedang disiapkan. Tinggal kita kerjakan bersama-sama," tegasnya.
Indonesia saat ini masih berada dalam daftar negara dengan beban TB yang signifikan. Berdasarkan data 2024, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global, dengan perkiraan 1,08 juta orang sakit dan 126 ribu kematian akibat penyakit tersebut.

(Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, mengatakan, "Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen." Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Prof. Asnawi Abdullah, mengatakan bahwa dalam 5 tahun terakhir upaya pengendalian TB menunjukkan tren positif.
Notifikasi temuan kasus meningkat 31 persen, sedangkan jumlah pasien yang diobati naik 27 persen.
Capaian tersebut didorong oleh penemuan kasus secara aktif dan pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau puluhan juta warga. Kendati demikian, tantangan besar masih menghadang.
"TB bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Tantangan kita adalah deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, akses di daerah terpencil, dan kesinambungan pengobatan," kata Asnawi.
Untuk mendukung kemandirian, Kemenkes tengah mengawal pengembangan PCR-TB buatan dalam negeri, pengembangan vaksin bersama perguruan tinggi, serta penambahan laboratorium mikrobiologi di sejumlah provinsi.
Selain kesiapan medis, tantangan psikososial berupa stigma masih menjadi kendala dalam upaya penuntasan TB. Veronika Jovelina Therik, penyintas TB resistan obat (TB-RO) asal Malang, Jawa Timur, membagikan kisahnya saat kehilangan mata pencaharian sebagai guru les akibat stigma negatif dari lingkungan sekitar.
Selama masa pemulihan, Veronika harus berjuang menghadapi efek samping pengobatan yang berat, seperti mual, penurunan berat badan secara drastis, hingga kesulitan berjalan sebelum akhirnya dinyatakan sembuh total.
"Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pasien TB tidak membutuhkan stigma, tetapi dukungan. TB resistan obat memang berat, tetapi bisa disembuhkan jika pasien patuh berobat sampai tuntas," tutur Veronika.
Menutup forum tersebut, Wamenkes Beny menegaskan empat pilar utama percepatan eliminasi TB, yakni:
1. Pelacakan kasus secara masif melalui CKG
2. Pengobatan segera bagi pasien
3. Pemberian terapi pencegahan bagi kontak erat, serta
4. Penguatan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa
Buat kamu yang ngerasa ada gejala TB atau pernah kontak erat sama pasien, yuk jangan denial! Langsung gercep periksa diri ke Puskesmas terdekat, ya. Stay safe!
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)
Strategi baru ini ditegaskan langsung sama Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, pas buka Forum Nasional Tuberkulosis 2026 di Jakarta, Selasa (7/7) kemarin.
"Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen. Kita jangan mancing di laut, tetapi mancing di kolam ikan. Yang sakit harus segera diobati, yang belum sakit harus dilindungi," ujar Wamenkes Beny.
Menurut Wamenkes Beny, selama ini penanganan TB cenderung berfokus pada pengobatan pasien yang sudah sakit tanpa memutus sumber penularan terdekat.
Melalui strategi baru ini, Kemenkes akan memperluas pelacakan kontak erat dengan memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), rontgen portabel, dan tes cepat.
Wamenkes Beny memastikan anggaran pelaksanaan pelacakan pada 2026 telah siap. Ia juga meminta pemerintah daerah, fasilitas kesehatan swasta, organisasi profesi, hingga kader komunitas bergerak bersama.
"Strategi dan anggaran sudah ada, alat sedang disiapkan. Tinggal kita kerjakan bersama-sama," tegasnya.
Indonesia saat ini masih berada dalam daftar negara dengan beban TB yang signifikan. Berdasarkan data 2024, Indonesia menyumbang sekitar 10 persen kasus TB global, dengan perkiraan 1,08 juta orang sakit dan 126 ribu kematian akibat penyakit tersebut.

(Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin Paulus Octavianus, mengatakan, "Kalau mau sukses, tracing harus 100 persen." Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Pada kesempatan yang sama, Kepala Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes, Prof. Asnawi Abdullah, mengatakan bahwa dalam 5 tahun terakhir upaya pengendalian TB menunjukkan tren positif.
Notifikasi temuan kasus meningkat 31 persen, sedangkan jumlah pasien yang diobati naik 27 persen.
Capaian tersebut didorong oleh penemuan kasus secara aktif dan pemanfaatan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau puluhan juta warga. Kendati demikian, tantangan besar masih menghadang.
"TB bukan sekadar masalah kesehatan, tetapi juga menyangkut produktivitas dan kualitas sumber daya manusia. Tantangan kita adalah deteksi kelompok berisiko, stigma masyarakat, akses di daerah terpencil, dan kesinambungan pengobatan," kata Asnawi.
Untuk mendukung kemandirian, Kemenkes tengah mengawal pengembangan PCR-TB buatan dalam negeri, pengembangan vaksin bersama perguruan tinggi, serta penambahan laboratorium mikrobiologi di sejumlah provinsi.
Selain kesiapan medis, tantangan psikososial berupa stigma masih menjadi kendala dalam upaya penuntasan TB. Veronika Jovelina Therik, penyintas TB resistan obat (TB-RO) asal Malang, Jawa Timur, membagikan kisahnya saat kehilangan mata pencaharian sebagai guru les akibat stigma negatif dari lingkungan sekitar.
Selama masa pemulihan, Veronika harus berjuang menghadapi efek samping pengobatan yang berat, seperti mual, penurunan berat badan secara drastis, hingga kesulitan berjalan sebelum akhirnya dinyatakan sembuh total.
"Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa pasien TB tidak membutuhkan stigma, tetapi dukungan. TB resistan obat memang berat, tetapi bisa disembuhkan jika pasien patuh berobat sampai tuntas," tutur Veronika.
Menutup forum tersebut, Wamenkes Beny menegaskan empat pilar utama percepatan eliminasi TB, yakni:
1. Pelacakan kasus secara masif melalui CKG
2. Pengobatan segera bagi pasien
3. Pemberian terapi pencegahan bagi kontak erat, serta
4. Penguatan kolaborasi lintas sektor hingga tingkat desa
Buat kamu yang ngerasa ada gejala TB atau pernah kontak erat sama pasien, yuk jangan denial! Langsung gercep periksa diri ke Puskesmas terdekat, ya. Stay safe!
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)