Jakarta: Angka kasus tuberkulosis (TB) di Indonesia terbilang tinggi. Persoalan terbesar yang masih membayangi bukan hanya soal medis, melainkan stigma sosial yang membuat banyak penyintas memilih diam dan terlambat berobat.
Dokter sekaligus penulis, Gia Pratama Putra, mengungkapkan tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah hilangnya harapan akibat stigma dan minimnya dukungan lingkungan sekitar.
“Banyak pasien merasa dunia runtuh saat divonis TB. Mereka takut dijauhi, malu, bahkan putus asa. Padahal, TB itu bisa sembuh. Yang dibutuhkan bukan hanya obat, tetapi juga dukungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara medis TB merupakan penyakit infeksi bakteri yang dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur. Namun dalam praktiknya, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien yang kerap terganggu oleh stigma sosial.
Baca Juga :
Kasus TBC Peringkat Dua di Dunia, Alarm Keras bagi Indonesia
Realitas stigma ini diakui oleh Dewi, penyintas TB sekaligus pendiri komunitas ‘Terus Berjuang Jawa Barat’.
Ia berbagi bahwa dirinya pernah mengalami penurunan berat badan hingga 32 kilogram akibat TB dan mendapati perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.
“Ada yang bilang saya tidak akan sembuh. Itu sangat menyakitkan. Namun justru dari situ saya ingin membuktikan bahwa TB bisa disembuhkan,” ungkapnya.
Waspada gejala TBC
Dewi menambahkan, pada awalnya ia tidak menyadari gejala TB karena kurangnya pengetahuan. Batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga demam dianggap sebagai kelelahan biasa. Ia baru memeriksakan diri setelah mengalami batuk berdarah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan masih menjadi persoalan serius. Banyak masyarakat belum memahami gejala awal TB.
Bahkan masih ada kesalahpahaman yang beredar di masyarakat, mulai dari cara penularan hingga kemungkinan kesembuhan.
Melalui Temu Komunitas KLIK, Komdigi mengusung pendekatan komunikasi publik yang lebih empatik dan partisipatif. Kampanye ‘Rangkul, Jangan Jauhi’ menjadi pesan utama untuk mengubah cara pandang masyarakat dari yang tadinya menjauhi menjadi mendukung.
Kegiatan ini diharapkan membangun kesadaran kolektif bahwa TB bukanlah aib, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan lewat pengobatan dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Jakarta: Angka kasus
tuberkulosis (TB) di Indonesia terbilang tinggi. Persoalan terbesar yang masih membayangi bukan hanya soal
medis, melainkan stigma sosial yang membuat banyak penyintas memilih diam dan terlambat berobat.
Dokter sekaligus penulis, Gia Pratama Putra, mengungkapkan tantangan terbesar dalam penanganan TB adalah hilangnya harapan akibat stigma dan minimnya dukungan lingkungan sekitar.
“Banyak pasien merasa dunia runtuh saat divonis TB. Mereka takut dijauhi, malu, bahkan putus asa. Padahal, TB itu bisa sembuh. Yang dibutuhkan bukan hanya obat, tetapi juga dukungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, secara medis TB merupakan penyakit infeksi bakteri yang dapat disembuhkan dengan pengobatan teratur. Namun dalam praktiknya, keberhasilan terapi sangat bergantung pada kepatuhan pasien yang kerap terganggu oleh stigma sosial.
Realitas stigma ini diakui oleh Dewi, penyintas TB sekaligus pendiri komunitas ‘Terus Berjuang Jawa Barat’.
Ia berbagi bahwa dirinya pernah mengalami penurunan berat badan hingga 32 kilogram akibat TB dan mendapati perlakuan diskriminatif dari lingkungan sekitar.
“Ada yang bilang saya tidak akan sembuh. Itu sangat menyakitkan. Namun justru dari situ saya ingin membuktikan bahwa TB bisa disembuhkan,” ungkapnya.
Waspada gejala TBC
Dewi menambahkan, pada awalnya ia tidak menyadari gejala TB karena kurangnya pengetahuan. Batuk berkepanjangan, penurunan berat badan, hingga demam dianggap sebagai kelelahan biasa. Ia baru memeriksakan diri setelah mengalami batuk berdarah.
Fenomena ini menunjukkan bahwa rendahnya literasi kesehatan masih menjadi persoalan serius. Banyak masyarakat belum memahami gejala awal TB.
Bahkan masih ada kesalahpahaman yang beredar di masyarakat, mulai dari cara penularan hingga kemungkinan kesembuhan.
Melalui Temu Komunitas KLIK, Komdigi mengusung pendekatan komunikasi publik yang lebih empatik dan partisipatif. Kampanye ‘Rangkul, Jangan Jauhi’ menjadi pesan utama untuk mengubah cara pandang masyarakat dari yang tadinya menjauhi menjadi mendukung.
Kegiatan ini diharapkan membangun kesadaran kolektif bahwa TB bukanlah aib, melainkan penyakit yang bisa disembuhkan lewat pengobatan dan dukungan dari lingkungan sekitar.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)