FITNESS & HEALTH

Misi Nyari Maaf yang Tulus di Momen Lebaran, Bukan Cuma Biar Suasana Jadi 'Biasa Aja' Lagi

Yatin Suleha
Sabtu 21 Maret 2026 / 12:05
Ringkasnya gini..
  • Lebaran waktunya maaf-maafan. Pada dasarnya, permintaan maaf memiliki kekuatan.
  • Sayangnya, tidak semua permintaan maaf tulus.
  • Terkadang, orang menggunakan permintaan maaf sebagai senjata, bukan solusi.
Jakarta: Lebaran waktunya maaf-maafan. Pada dasarnya, permintaan maaf memiliki kekuatan. Sayangnya, tidak semua permintaan maaf tulus. Terkadang, orang menggunakan permintaan maaf sebagai senjata, bukan solusi. 

Pelaku kekerasan, misalnya, sering kali memanfaatkan hal ini, dengan menawarkan permintaan maaf tanpa perubahan yang nyata. 

Dan kita sebagai korban kadang mau tidak mau turut memaafkannya. Padahal di hati yang paling dalam, rasa sakit itu masih ada. 

 

Penelitian



(Memaafkan secara drastis meningkatkan kesehatan fisik dan mental dengan menurunkan stres, kecemasan, dan depresi. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Penelitian telah menemukan bahwa memaafkan dapat menghasilkan kesehatan mental, emosional, dan bahkan fisik yang lebih baik. 

Pengampunan yang autentik dan sehat, menurut sebuah blog Self Archeology, merupakan keadaan emosional ketika pihak yang dirugikan tidak lagi merasa sakit hati, merasa damai, dan kembali mempercayai pihak yang bersalah. 

Pasalnya pihak yang bersalah telah menyadari kesalahannya, telah mengubah tindakannya, dan telah memberikan ganti rugi dengan cara yang dapat diterima oleh pihak yang dirugikan. Jangan sampai kata maaf itu hanya karena sebuah kebiasaan. 
 

Maaf yang semu 


Setelah mengalami kerugian, seseorang merasa sakit hati, marah, sedih, bingung, takut, dan/atau emosi tidak menyenangkan lainnya.

Dan karena keadaan emosional tersebut dapat berlangsung lama, pihak yang dirugikan terkadang meyakinkan diri mereka sendiri atau diyakinkan oleh orang lain bahwa mereka harus menekan emosi tidak menyenangkan tersebut dan membuat diri mereka merasa diampuni dan bertindak seolah-olah semuanya baik-baik saja. 

Fenomena ini disebut maaf semu atau maaf palsu dan sering kali menjadi alasan mengapa orang mengalami beberapa masalah kesehatan mental, fisik, dan sosial yang serius. 
 
Ingat, memaafkan seseorang memang bukanlah perkara yang mudah karena butuh kebesaran dan kesiapan hati untuk melakukannya. 

Jadi, kamu sendiri yang paling tahu kapan dan kenapa kamu harus memaafkan seseorang. Satu lagi, perasaan lega dan damai akan muncul kalau kamu benar-benar sudah membebaskan diri dari orang yang membuatmu sakit hati, yaitu dengan cara memaafkannya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH