FITNESS & HEALTH

Dari Cedera hingga Jatuh Cinta pada Pilates

A. Firdaus
Kamis 01 Oktober 2026 / 09:16
Ringkasnya gini..
  • Head Coach VAURA Pilates Menteng, Camila Arreaga, berbagi perjalanan mengenal Pilates dan alasan olahraga ini bisa melengkapi berbagai jenis latihan.
  • Pilates dapat disesuaikan dengan berbagai usia dan latar belakang kebugaran.
  • Pendekatan tersebut bukan berarti mengubah dasar Pilates.
Jakarta: Pilates kini semakin populer sebagai bagian dari gaya hidup sehat. Namun, olahraga yang identik dengan gerakan terkontrol dan penggunaan Reformer ini masih kerap dianggap sebagai latihan ringan atau sekadar peregangan. Padahal, Pilates memiliki pendekatan yang lebih luas, terutama dalam melatih kekuatan, koordinasi, dan kontrol tubuh.

Bagi Camila Arreaga, Head Coach VAURA Pilates Menteng, Pilates bahkan menjadi bagian penting yang sebelumnya hilang dari rutinitas olahraganya. Pengalamannya mengenal Pilates bermula sekitar 10 tahun lalu di Guatemala, ketika ia masih aktif mengajar berbagai kelas kebugaran, mulai dari strength training, HIIT, hingga endurance training.

Dengan latar belakang tari jazz, kontemporer, dan Latin, Camila sebenarnya sudah terbiasa dengan keseimbangan, presisi, serta kontrol gerakan. Namun, saat itu Pilates masih dianggapnya sebagai latihan yang lebih tenang untuk melengkapi olahraga berintensitas tinggi.
 

Pandangan tersebut berubah setelah ia mengalami sejumlah cedera pada lutut, pergelangan kaki, dan pinggul akibat aktivitas lari. Pengalaman itu membuatnya menyadari bahwa membangun kekuatan otot saja tidak cukup untuk menjaga kemampuan tubuh bergerak secara optimal.

"Saya sadar bahwa sekadar membangun kekuatan otot belum cukup. Saya perlu memahami bagaimana tubuh bergerak melalui setiap rentang geraknya dengan kekuatan yang terkontrol," ungkap Camila.

Menariknya, Camila awalnya mempelajari Pilates dengan tujuan mengajarkannya kepada orang lain. Namun, setelah menjadi instruktur, ia justru menemukan manfaat latihan tersebut bagi dirinya sendiri.

"Saat itulah saya memahami bahwa Pilates adalah missing piece dalam latihan saya sendiri. Dan mungkin, ini juga menjadi bagian yang selama ini belum ditemukan orang lain dalam rutinitas mereka," tuturnya.
 

Pilates Bukan Pengganti Olahraga Lain


Bagi Camila, Pilates tidak harus menggantikan olahraga yang sudah menjadi favorit seseorang. Sebaliknya, latihan ini dapat menjadi pelengkap bagi berbagai aktivitas fisik, mulai dari lari, angkat beban, golf, olahraga raket, menari, hingga latihan di pusat kebugaran.

Setiap jenis olahraga memiliki pola gerakan dan tantangan tersendiri. Pelari, misalnya, lebih sering bergerak ke arah depan sehingga dapat memperoleh variasi latihan melalui gerakan rotasi dan lateral dalam Pilates.

Sementara itu, orang yang terbiasa mengangkat beban akan menghadapi tantangan berbeda ketika harus melakukan gerakan secara presisi tanpa mengandalkan beban berat. Begitu pula dengan pemain golf dan olahraga raket yang kerap melakukan gerakan rotasi berulang.

Menurut Camila, Pilates dapat membantu melengkapi pola gerakan tersebut melalui latihan kontrol dan keseimbangan tubuh.

"Pilates memang punya peran dalam rehabilitasi, dan tentu ada unsur stretching di dalamnya. Tetapi kalau Pilates hanya dipahami sebatas itu, kita kehilangan gambaran besarnya," kata Camila.

"Ini adalah metode latihan yang juga membutuhkan strength, coordination, dan control," lanjutnya.

Dengan pendekatan tersebut, Pilates dapat menjadi pilihan latihan tambahan bagi mereka yang ingin mengembangkan kemampuan fisik tanpa harus meninggalkan olahraga yang selama ini digemari.
 

Pilates Bukan Sekadar Tren atau Hot Girl Workout


Popularitas Pilates di media sosial turut membentuk persepsi bahwa olahraga ini hanya cocok untuk kelompok tertentu. Gerakan yang terlihat elegan dan suasana studio yang identik dengan gaya hidup urban membuat Pilates kerap dianggap sebagai olahraga yang mudah atau sekadar tren hot girl workout.

Namun, Camila menilai persepsi tersebut lebih banyak dipengaruhi tampilan Pilates dari luar dibandingkan pengalaman yang dirasakan saat menjalaninya.

Ia justru berharap orang yang baru pertama kali mencoba Pilates datang tanpa terlalu banyak ekspektasi. Dengan begitu, mereka dapat merasakan sendiri tantangan dan manfaat dari setiap gerakan.

"Saya justru lebih suka kalau seseorang datang dengan menganggap Pilates akan mudah, lalu keluar dari kelas dengan rasa terkejut, daripada mereka merasa Pilates bukan untuk mereka dan akhirnya tidak pernah mencoba," ujarnya.

Menurut Camila, Pilates dapat disesuaikan dengan berbagai usia dan latar belakang kebugaran. Fokus latihannya bisa berbeda sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Pada usia muda, misalnya, latihan dapat diarahkan untuk mendukung performa dan kekuatan. Sementara itu, bagi kelompok usia yang lebih matang, latihan dapat difokuskan pada kemampuan menjaga keseimbangan, kontrol sendi, dan kemandirian dalam bergerak.

Remaja pun dapat mulai mengenal Pilates melalui latihan yang sesuai dengan kemampuan mereka, terutama untuk membangun kesadaran tubuh (body awareness), keselarasan postur (alignment), teknik pernapasan, dan kontrol gerakan.

Karena itu, Pilates tidak terbatas pada kelompok usia atau bentuk tubuh tertentu. Dengan penyesuaian latihan dan pendampingan instruktur, olahraga ini dapat menjadi bagian dari rutinitas kebugaran yang lebih beragam.
 

Menggabungkan Prinsip Klasik dengan Latihan Dinamis


Di VAURA Pilates Menteng, prinsip dasar Pilates diterapkan melalui pengalaman athletic Reformer Pilates yang lebih dinamis. Latihan dikemas dengan perpaduan musik, ritme, rangkaian gerakan (sequencing), serta energi kolektif di dalam kelas.

Pendekatan tersebut menghadirkan suasana latihan yang lebih aktif tanpa meninggalkan prinsip utama Pilates, yakni kontrol, pernapasan, dan keselarasan tubuh.

Camila mengatakan, pendekatan tersebut bukan berarti mengubah dasar Pilates, melainkan menghadirkannya dengan tempo dan energi yang lebih sesuai dengan preferensi olahraga masyarakat saat ini.

"Kami tidak mencoba menciptakan ulang Pilates. Kami membawanya dengan tempo dan energi yang terasa relevan dengan bagaimana orang ingin bergerak hari ini. Di balik semuanya, fondasinya tetap sama: control, breath, dan alignment," jelasnya.

Pendekatan ini juga menjadi karakter VAURA secara global, yakni memadukan presisi Reformer Pilates dengan energi athletic training, sambil tetap mempertahankan kontrol dan gerakan yang dilakukan secara sadar (intentional movement).

Bagi Camila, semakin populernya Pilates menjadi kesempatan untuk memperkenalkan olahraga ini secara lebih luas, tanpa terjebak pada stereotip yang berkembang di media sosial.

Ia berharap masyarakat dapat melihat Pilates sebagai latihan yang menantang, membutuhkan konsentrasi, dan bisa dilakukan oleh siapa saja sesuai kemampuan masing-masing.

"Saya ingin orang memahami bahwa Pilates itu benar-benar menantang, cerdas, dan bisa menjadi milik siapa saja, apa pun bentuk tubuh atau latar belakang kebugarannya. Setelah satu kelas, saya ingin mereka pulang dengan pemahaman baru tentang apa arti core strength dan control yang sebenarnya," pungkasnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH