FITNESS & HEALTH

GERD di Indonesia Meningkat, Terapi P-CAB Hadir untuk Pengobatan Fleksibel

Aulia Putriningtias
Senin 21 September 2026 / 11:20
Ringkasnya gini..
  • Gastroesophageal reflux disease (GERD) menjadi salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang semakin banyak ditemukan di Indonesia.
  • GERD adalah penyakit kronis pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke esofagus (kerongkongan) secara berulang.
  • Data rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif.
Jakarta: Gastroesophageal reflux disease (GERD) menjadi salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang semakin banyak ditemukan di Indonesia. 

GERD adalah penyakit kronis pada sistem pencernaan yang terjadi ketika asam lambung naik kembali ke esofagus (kerongkongan) secara berulang. Hal ini terjadi seiring dengan perubahan pola makan dan gaya hidup. 

Berdasarkan Konsensus Nasiona Penatalaksanaan Penyakit GERD Indonesia 2022, prevalensi GERD pada populasi umum diperkirakan mencapai sekitar 9,35 persen. 
 
Data IQVIA menunjukkan pasar obat antiulkus di lndonesia mencapai sekitar Rp2,55 triliun atau USD164,3 juta pada 2025 dengan pertumbuhan tahunan sekitar 6 persen. 

Selain itu, data rumah sakit rujukan tingkat tersier menunjukkan 55,4 persen pasien GERD mengalami esofagitis erosif. 

Kondisi ini menunjukkan pentingnya diagnosis yang tepat serta intervensi dini dengan terap yang efektif dalam praktik klinis.

Sejalan dengan hal tersebut, PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia (Daewoong) resmi meluncurkan fexuprazan. Ini adalah terapi baru untuk GERD.

Peluncuran ini bersamaan dengan penyelenggaraan simposium ilmiah dalam rangkaian Indonesian Digestive Disease Week (IDDW) 2026, alah satu kongres gastroenterologi utama di Indonesia.

gerd (1)
(Penyakit asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease) tidak menyebabkan kematian secara langsung, namun jika dibiarkan tanpa penanganan bisa memicu komplikasi serius. Foto: Dok. Medcom.id/Aulia Putriningtias)

Menurut Prof. Ji Won Kim, M.D., President Korean Gastroenterology Association sekaligus Professor, Division of Gastroenterology, Department of Internal Medicine, Seoul National University College of Medicine, SMG-SNU Boramae Medical Center, peluncuran resmi fexuprazan di Indonesia menjadi momentum yang sangat berarti. 

"Sebagai terapi P-CAB generasi baru, kami berharap fexuprazan dapat memberikan kontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien GERD di Indonesia," kata Prof. Kim dalam peluncuran fexuprazan di Jakarta, Jumat, 18 September 2026.

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, MMB, Sp.PD, K-GEH FACG, FACP, Ketua Pengurus Besar Perkumpulan Gastroenterologi Indonesia (PB PGI) sekaligus Profesor di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo mengatakan bahwa Indonesia memiliki proporsi pasien GERD dengan esofagitis erosif yang cukup tinggi.

"Kondisi ini menunjukkan adanya kebutuhan klinis terhadap terapi generasi baru yang mampu memberikan supresi asam secara cepat dan kuat sejak awal pengobatan," ungkap Prof. Ari.

Lebih lanjut, Prof. Ari mengungkapkan penyusunan panduan terapi berbasis bukti ilmiah yang sesuai dengan kondisi pelayanan kesehatan di Indonesia. 

Kemudian, didukung data klinis dari pasien Indonesia, memiliki nilai ilmiah yang sangat penting.

Menurut Prof. Ahn Ji Yong, Professor of Gastroenterology di Asan Medical Center dan University of Ulsan College of Medicine, penggunaan P-CAB di Korea Selatan sendiri terus berkembang untuk menjawab sejumlah kebutuhan klinis yang belum sepenuhnya terpenuhi oleh terapi proton pump inhibitor (PPI).
 
Dalam studi fase 3 vang melibatkan 263 pasien Korea Selatan dengan esofagitis erosif, fexuprazan menunjukkan tingkat penyembuhan berdasarkan pemeriksaan endoskopi sebesar 99,1 persen pada minggu ke-8, yang menunjukkan efektivitas klinis yang kuat.

Kehadiran fexuprazan pun diharapkan dapat menjadi salah satu pendorong perkembangan tata laksana GERD di Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH