FITNESS & HEALTH
Bukan untuk Pasangan, Justru Ini Alasan Orang Melakukan Bedah Estetik
Aulia Putriningtias
Rabu 01 April 2026 / 17:09
- Esensi dari bedah estetik bukan tentang 'mengubah.
- bedah estetik menginjak kenaikan sekitar 6,05 persen dari 2019 hingga 2027.
- Alasan tertinggi mengapa orang-orang melakukan bedah estetik self-investment /
Jakarta: Bedah estetik atau operasi plastik masih menjadi tren, bahkan fenomena global yang tetap naik daun. Ternyata inilah alasan-alasan mengapa orang melakukan bedah plastik.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruktif dan Estetik RSPI Pondok Indah, dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp.BPRE., M.Ked.Klin, bedah estetik masih banyak dianggap sebagai mengubah bentuk wajah.
Padahal, esensi dari bedah estetik bukan tentang 'mengubah', tetapi mengembalikan proporsi, karakter, dan kesan wajah yang selaras. Dalam dunia medis, hal ini dikenal dengan istilah facial harmony atau harmoni wajah.
Kulit kendur, kerutan, bekas luka pada wajah, hingga penipisan rambut sering kali memengaruhi tingkat kepercayaan diri. Problematika estetika ini membutuhkan penanganan yang tepat dan presisi agar tercipta harmonisasi wajah yang selaras.
Menurut dr. Alex, di Asia Timur, bedah estetik menginjak kenaikan sekitar 6,05 persen dari 2019 hingga 2027. Hal ini tentunya diimbangi dengan bedah kecantikan ala Asia, bukan lagi negara barat.
"Berapa banyak yang dipengaruhi oleh pasangan atau selebriti? Bedah estetik dilakukan karena permintaan pasangan hanya 9,2 persen, yang ingin mirip idola hanya 2,2 persen," papar dr. Alex dalam temu media bersama RSPI di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Dokter Spesialis bedah plastik Rekonstruktif dan Estetik RSPI Pondok Indah, dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp.BPRE., M.Ked.Klin. Dok. Ist
Saat ini, alasan tertinggi mengapa orang-orang melakukan bedah estetik adalah karena self-investment dan self-confidence. Self-investment atau investasi diri mencapai 26,5 persen dan self-confidence atau kepercayaan diri mencapai 33,9 persen.
Adapun tiga teknik unggulan yang saat ini menjadi tren global meliputi:
Prosedur seperti rhinoplasty (bedah hidung) dan blepharoplasty (bedah kelopak mata) di Asia kini dirancang khusus untuk memperkuat struktur anatomi khas masyarakat Asia.
Teknik ini bekerja dengan mengangkat dan mereposisi jaringan otot serta lemak di bawah kulit ke posisi asalnya. Hasilnya, wajah tampak 15-20 tahun lebih muda dengan tampilan yang sangat natural.
FUE mengambil unit folikel rambut satu per satu secara presisi. Keunggulannya adalah tidak ada jahitan, minim rasa nyeri, dan masa pemulihan yang relatif singkat, yaitu sekitar 3-5 hari dengan hasil kepadatan rambut yang tampak alami.
Selain teknik bedah, inovasi seperti cell-assisted lipotransfer, terapi pengobatan exosome dan regenerative, serta laser liposuction juga menjadi masa depan bedah plastik.
Teknologi ini dapat membantu proses regenerasi sel kulit dari dalam, memperbaiki tekstur, dan memberikan efek glowing yang sehat, melengkapi hasil pembedahan estetik agar semakin sempurna.
"Sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur bedah estetik, penting bagi pasien untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif dan estetik," imbuh dr. Alex.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Menurut Dokter Spesialis Bedah Plastik Rekonstruktif dan Estetik RSPI Pondok Indah, dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp.BPRE., M.Ked.Klin, bedah estetik masih banyak dianggap sebagai mengubah bentuk wajah.
Padahal, esensi dari bedah estetik bukan tentang 'mengubah', tetapi mengembalikan proporsi, karakter, dan kesan wajah yang selaras. Dalam dunia medis, hal ini dikenal dengan istilah facial harmony atau harmoni wajah.
Kulit kendur, kerutan, bekas luka pada wajah, hingga penipisan rambut sering kali memengaruhi tingkat kepercayaan diri. Problematika estetika ini membutuhkan penanganan yang tepat dan presisi agar tercipta harmonisasi wajah yang selaras.
Menurut dr. Alex, di Asia Timur, bedah estetik menginjak kenaikan sekitar 6,05 persen dari 2019 hingga 2027. Hal ini tentunya diimbangi dengan bedah kecantikan ala Asia, bukan lagi negara barat.
"Berapa banyak yang dipengaruhi oleh pasangan atau selebriti? Bedah estetik dilakukan karena permintaan pasangan hanya 9,2 persen, yang ingin mirip idola hanya 2,2 persen," papar dr. Alex dalam temu media bersama RSPI di Jakarta, Senin, 30 Maret 2026.

Dokter Spesialis bedah plastik Rekonstruktif dan Estetik RSPI Pondok Indah, dr. Alexander Perkasa Hendropriyono, Sp.BPRE., M.Ked.Klin. Dok. Ist
Saat ini, alasan tertinggi mengapa orang-orang melakukan bedah estetik adalah karena self-investment dan self-confidence. Self-investment atau investasi diri mencapai 26,5 persen dan self-confidence atau kepercayaan diri mencapai 33,9 persen.
Adapun tiga teknik unggulan yang saat ini menjadi tren global meliputi:
1. Rhinoplasty dan Blepharoplasty yang menonjolkan kecantikan Asia
Prosedur seperti rhinoplasty (bedah hidung) dan blepharoplasty (bedah kelopak mata) di Asia kini dirancang khusus untuk memperkuat struktur anatomi khas masyarakat Asia.
2. Modern Facelift dengan teknik SMAS deep-plane
Teknik ini bekerja dengan mengangkat dan mereposisi jaringan otot serta lemak di bawah kulit ke posisi asalnya. Hasilnya, wajah tampak 15-20 tahun lebih muda dengan tampilan yang sangat natural.
3. Transplantasi rambut dengan Teknik FUE
FUE mengambil unit folikel rambut satu per satu secara presisi. Keunggulannya adalah tidak ada jahitan, minim rasa nyeri, dan masa pemulihan yang relatif singkat, yaitu sekitar 3-5 hari dengan hasil kepadatan rambut yang tampak alami.
Selain teknik bedah, inovasi seperti cell-assisted lipotransfer, terapi pengobatan exosome dan regenerative, serta laser liposuction juga menjadi masa depan bedah plastik.
Teknologi ini dapat membantu proses regenerasi sel kulit dari dalam, memperbaiki tekstur, dan memberikan efek glowing yang sehat, melengkapi hasil pembedahan estetik agar semakin sempurna.
"Sebelum memutuskan untuk menjalani prosedur bedah estetik, penting bagi pasien untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis bedah plastik rekonstruktif dan estetik," imbuh dr. Alex.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)