FITNESS & HEALTH
Glow Up Boleh, Tapi Jangan Lupa Bangun Otot. Ini Alasannya!
A. Firdaus
Sabtu 11 Juli 2026 / 15:14
- Para ahli menilai manfaat terbesar aktivitas fisik justru terletak pada kemampuannya menjaga.
- 1,8 miliar orang dewasa di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik.
- Perhatian para ahli kesehatan mulai bergeser dari sekadar membesarkan otot menjadi membangun lean muscle.
Jakarta: Banyak orang masih menjadikan angka timbangan sebagai tolok ukur keberhasilan berolahraga. Padahal, para ahli menilai manfaat terbesar aktivitas fisik justru terletak pada kemampuannya menjaga dan membangun massa otot, yang berperan penting dalam menjaga kesehatan hingga usia lanjut.
Isu ini semakin relevan di tengah meningkatnya gaya hidup sedentari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,8 miliar orang dewasa di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas tersebut diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari penyakit jantung, diabetes, hingga beberapa jenis kanker.
Tak hanya itu, minimnya aktivitas fisik juga mempercepat penurunan massa otot akibat proses penuaan atau age-related muscle loss. Kondisi ini dapat memengaruhi kekuatan tubuh, keseimbangan, postur, metabolisme, kesehatan tulang, hingga kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Karena itu, American College of Sports Medicine (ACSM) merekomendasikan latihan kekuatan (strength training) secara rutin sebagai salah satu cara efektif untuk mempertahankan massa otot, menjaga fungsi fisik, sekaligus mendukung proses penuaan yang lebih sehat.
Saat ini, perhatian para ahli kesehatan mulai bergeser dari sekadar membesarkan otot menjadi membangun lean muscle, yaitu massa otot yang kuat dengan komposisi lemak tubuh yang sehat.
Lean muscle tidak identik dengan tubuh berotot seperti atlet binaraga. Sebaliknya, kondisi ini membantu tubuh bergerak lebih efisien, menopang persendian, memperbaiki postur, meningkatkan metabolisme, serta menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa latihan kekuatan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, melainkan kesehatan mental. Resistance training diketahui dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, serta menekan gejala depresi.
Pandangan serupa juga disampaikan dokter sekaligus pakar longevity, Peter Attia, yang menilai kekuatan dan massa otot merupakan salah satu faktor penting agar seseorang tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik seiring bertambahnya usia.
Selain latihan, proses pemulihan atau recovery menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebugaran.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Angela Dalimarta, Sp.GK, mengatakan tubuh membutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu pemulihan agar dapat berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.
"Masyarakat sering berfokus pada penurunan berat badan, padahal menjaga kekuatan otot dan kemampuan tubuh untuk pulih juga merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas hidup seiring bertambahnya usia," ujar dr. Angela.
Kesadaran terhadap pentingnya kekuatan otot dan pemulihan tubuh turut mendorong berkembangnya industri wellness global. Global Wellness Institute mencatat nilai ekonomi sektor wellness mencapai 6,3 triliun dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi hampir 9 triliun dolar AS pada 2028, didorong meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pencegahan penyakit, healthy aging, dan kualitas hidup.
Tren tersebut juga melahirkan berbagai pendekatan latihan baru, salah satunya pilates-inspired strength training yang menggabungkan prinsip Pilates dengan latihan resistensi untuk membangun kekuatan otot tanpa memberikan beban berlebih pada persendian.
Pendekatan ini kini mulai diterapkan di sejumlah studio kebugaran di Indonesia, termasuk Bodyform di Jakarta Selatan. Studio tersebut mengombinasikan latihan kekuatan dengan pemantauan detak jantung secara real-time serta kelas pemulihan berbasis infrared untuk mendukung proses recovery setelah berolahraga.
Para ahli menekankan bahwa pada akhirnya tujuan utama berolahraga bukan hanya membentuk tubuh ideal, tetapi menjaga kemampuan tubuh untuk terus bergerak, beraktivitas, dan tetap mandiri hingga usia lanjut.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Isu ini semakin relevan di tengah meningkatnya gaya hidup sedentari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,8 miliar orang dewasa di dunia tidak memenuhi rekomendasi aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas tersebut diketahui meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis, mulai dari penyakit jantung, diabetes, hingga beberapa jenis kanker.
Tak hanya itu, minimnya aktivitas fisik juga mempercepat penurunan massa otot akibat proses penuaan atau age-related muscle loss. Kondisi ini dapat memengaruhi kekuatan tubuh, keseimbangan, postur, metabolisme, kesehatan tulang, hingga kemampuan seseorang menjalani aktivitas sehari-hari secara mandiri.
Karena itu, American College of Sports Medicine (ACSM) merekomendasikan latihan kekuatan (strength training) secara rutin sebagai salah satu cara efektif untuk mempertahankan massa otot, menjaga fungsi fisik, sekaligus mendukung proses penuaan yang lebih sehat.
Lean muscle bukan berarti tubuh harus berotot besar
Saat ini, perhatian para ahli kesehatan mulai bergeser dari sekadar membesarkan otot menjadi membangun lean muscle, yaitu massa otot yang kuat dengan komposisi lemak tubuh yang sehat.
Lean muscle tidak identik dengan tubuh berotot seperti atlet binaraga. Sebaliknya, kondisi ini membantu tubuh bergerak lebih efisien, menopang persendian, memperbaiki postur, meningkatkan metabolisme, serta menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa latihan kekuatan tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, melainkan kesehatan mental. Resistance training diketahui dapat membantu memperbaiki suasana hati, mengurangi stres, serta menekan gejala depresi.
Pandangan serupa juga disampaikan dokter sekaligus pakar longevity, Peter Attia, yang menilai kekuatan dan massa otot merupakan salah satu faktor penting agar seseorang tetap aktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik seiring bertambahnya usia.
Pemulihan tubuh juga tak kalah penting
Selain latihan, proses pemulihan atau recovery menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kebugaran.
Dokter spesialis gizi klinik dr. Angela Dalimarta, Sp.GK, mengatakan tubuh membutuhkan keseimbangan antara aktivitas fisik dan waktu pemulihan agar dapat berfungsi secara optimal dalam jangka panjang.
"Masyarakat sering berfokus pada penurunan berat badan, padahal menjaga kekuatan otot dan kemampuan tubuh untuk pulih juga merupakan faktor penting dalam menjaga kualitas hidup seiring bertambahnya usia," ujar dr. Angela.
Kesadaran terhadap pentingnya kekuatan otot dan pemulihan tubuh turut mendorong berkembangnya industri wellness global. Global Wellness Institute mencatat nilai ekonomi sektor wellness mencapai 6,3 triliun dolar AS pada 2023 dan diproyeksikan meningkat menjadi hampir 9 triliun dolar AS pada 2028, didorong meningkatnya perhatian masyarakat terhadap pencegahan penyakit, healthy aging, dan kualitas hidup.
Tren tersebut juga melahirkan berbagai pendekatan latihan baru, salah satunya pilates-inspired strength training yang menggabungkan prinsip Pilates dengan latihan resistensi untuk membangun kekuatan otot tanpa memberikan beban berlebih pada persendian.
Pendekatan ini kini mulai diterapkan di sejumlah studio kebugaran di Indonesia, termasuk Bodyform di Jakarta Selatan. Studio tersebut mengombinasikan latihan kekuatan dengan pemantauan detak jantung secara real-time serta kelas pemulihan berbasis infrared untuk mendukung proses recovery setelah berolahraga.
Para ahli menekankan bahwa pada akhirnya tujuan utama berolahraga bukan hanya membentuk tubuh ideal, tetapi menjaga kemampuan tubuh untuk terus bergerak, beraktivitas, dan tetap mandiri hingga usia lanjut.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)