FITNESS & HEALTH
Susah Fokus karena Terus Menunggu? Kenali Fenomena Waiting Mode yang Bisa Ganggu Aktivitas
A. Firdaus
Sabtu 11 Juli 2026 / 10:12
- Waiting mode merupakan istilah dalam psikologi yang menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa hidupnya seperti "berhenti"..
- Fenomena ini tidak hanya dialami penyandang ADHD.
- Pada sebagian orang, waiting mode juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis di masa lalu.
Jakarta: Pernah merasa tidak bisa mengerjakan apa pun hanya karena sedang menunggu hasil ujian, balasan chat, panggilan kerja, atau hasil pemeriksaan kesehatan? Jika iya, kamu mungkin sedang mengalami kondisi yang dikenal sebagai waiting mode.
Meski bukan diagnosis gangguan mental, waiting mode merupakan istilah dalam psikologi yang menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa hidupnya seperti "berhenti" sampai sesuatu yang dinantikan benar-benar terjadi. Akibatnya, pikiran terus terpaku pada satu hal sehingga sulit berkonsentrasi dan menyelesaikan aktivitas lain.
Dikutip dari Psychology Today, waiting mode pertama kali banyak dibahas di komunitas penyandang attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Pada sebagian orang dengan ADHD, kondisi ini muncul sebagai cara otak untuk menghindari lupa terhadap jadwal, janji, atau tugas penting yang akan datang.
Namun, fenomena ini tidak hanya dialami penyandang ADHD. Orang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, perfeksionis, atau terbiasa mengantisipasi berbagai kemungkinan juga dapat mengalami hal serupa.
Salah satu penyebab yang diduga berperan adalah intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan menerima situasi yang hasilnya belum pasti. Berbagai penelitian menunjukkan kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan maupun depresi.
Ketika seseorang tidak nyaman menghadapi ketidakpastian, otak akan terus memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Alhasil, energi mental terkuras hanya untuk menunggu, meski sebenarnya belum ada tindakan yang perlu dilakukan.
Pada sebagian orang, waiting mode juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis di masa lalu. Lingkungan yang penuh ketidakpastian atau pengalaman hidup yang tidak stabil dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap situasi yang belum memiliki kepastian.
Psikolog menilai waiting mode dapat dikurangi dengan melatih kemampuan menerima bahwa tidak semua hal dapat diprediksi atau dikendalikan.
Membuat jadwal aktivitas, tetap menjalankan rutinitas harian, membatasi kebiasaan mengecek ponsel atau email secara berulang, serta mengalihkan perhatian pada aktivitas yang produktif dapat membantu mengurangi kecenderungan terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum pasti.
Jika kondisi ini berlangsung lama hingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Meski bukan diagnosis gangguan mental, waiting mode merupakan istilah dalam psikologi yang menggambarkan kondisi ketika seseorang merasa hidupnya seperti "berhenti" sampai sesuatu yang dinantikan benar-benar terjadi. Akibatnya, pikiran terus terpaku pada satu hal sehingga sulit berkonsentrasi dan menyelesaikan aktivitas lain.
Dikutip dari Psychology Today, waiting mode pertama kali banyak dibahas di komunitas penyandang attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). Pada sebagian orang dengan ADHD, kondisi ini muncul sebagai cara otak untuk menghindari lupa terhadap jadwal, janji, atau tugas penting yang akan datang.
Namun, fenomena ini tidak hanya dialami penyandang ADHD. Orang yang memiliki tingkat kecemasan tinggi, perfeksionis, atau terbiasa mengantisipasi berbagai kemungkinan juga dapat mengalami hal serupa.
Mengapa waiting mode bisa terjadi?
Salah satu penyebab yang diduga berperan adalah intolerance of uncertainty, yaitu kesulitan menerima situasi yang hasilnya belum pasti. Berbagai penelitian menunjukkan kondisi ini berkaitan dengan meningkatnya risiko gangguan kecemasan maupun depresi.
Ketika seseorang tidak nyaman menghadapi ketidakpastian, otak akan terus memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi. Alhasil, energi mental terkuras hanya untuk menunggu, meski sebenarnya belum ada tindakan yang perlu dilakukan.
Pada sebagian orang, waiting mode juga dapat dipengaruhi oleh pengalaman traumatis di masa lalu. Lingkungan yang penuh ketidakpastian atau pengalaman hidup yang tidak stabil dapat membuat seseorang menjadi lebih waspada terhadap situasi yang belum memiliki kepastian.
Bagaimana mengatasinya?
Psikolog menilai waiting mode dapat dikurangi dengan melatih kemampuan menerima bahwa tidak semua hal dapat diprediksi atau dikendalikan.
Membuat jadwal aktivitas, tetap menjalankan rutinitas harian, membatasi kebiasaan mengecek ponsel atau email secara berulang, serta mengalihkan perhatian pada aktivitas yang produktif dapat membantu mengurangi kecenderungan terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum pasti.
Jika kondisi ini berlangsung lama hingga mengganggu pekerjaan, hubungan sosial, atau aktivitas sehari-hari, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan penanganan yang sesuai.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)