FITNESS & HEALTH
Spill Manfaat Slow Jogging, Bakar Lemak Jalur Santai
A. Firdaus
Sabtu 11 Juli 2026 / 07:15
- Meski dilakukan dengan kecepatan yang santai, latihan ini tetap mampu memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.
- Slow jogging menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin mulai rutin berolahraga, tanpa khawatir membebani sendi atau mudah kelelahan.
- Saat melakukan slow jogging, napas umumnya masih stabil, sehingga tetap memungkinkan untuk mengobrol atau tertawa tanpa merasa terengah-engah.
Jakarta: Belakangan ini, slow jogging semakin banyak diminati, karena dianggap sebagai olahraga yang ringan, mudah dilakukan, dan cocok untuk berbagai kalangan.
Meski dilakukan dengan kecepatan yang santai, latihan ini tetap mampu memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.
Bahkan, slow jogging menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin mulai rutin berolahraga, tanpa khawatir membebani sendi atau mudah kelelahan.
Slow jogging merupakan teknik berlari dengan tempo yang sangat pelan, yakni sekitar 3 hingga 5 kilometer per jam. Kecepatannya hampir sama dengan berjalan kaki biasa, sehingga tubuh tetap terasa nyaman selama bergerak.
Saat melakukan slow jogging, napas umumnya masih stabil, sehingga tetap memungkinkan untuk mengobrol atau tertawa tanpa merasa terengah-engah.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah lima manfaat slow jogging yang membuat olahraga ini layak dicoba:
Slow jogging termasuk olahraga yang mudah dipelajari, sehingga dapat dilakukan oleh hampir semua orang, mulai dari pemula, lansia, hingga orang dengan berat badan berlebih.
Langkah kaki yang lebih pendek dan rapat membantu mengurangi tekanan pada tubuh, sehingga risiko cedera pun lebih rendah.
Sebagai latihan aerobik, slow jogging membantu melatih jantung agar bekerja lebih efisien. Aktivitas ini meningkatkan kebugaran kardiovaskular secara bertahap, tanpa memberikan beban berlebihan pada tubuh.
Karena dilakukan dengan intensitas yang rendah, tubuh cenderung memanfaatkan lemak sebagai sumber energi utama, dibandingkan cadangan karbohidrat.
Oleh sebab itu, slow jogging sering dipilih sebagai salah satu olahraga, yang dapat mendukung program penurunan berat badan, jika dipadukan dengan pola makan yang seimbang.
Salah satu keunggulan slow jogging adalah minimnya hentakan pada kaki saat berlari. Kondisi ini membuat tekanan pada lutut dan persendian menjadi lebih ringan, dibandingkan lari dengan kecepatan tinggi.
Oleh karena itu, slow jogging dinilai lebih aman bagi pemula, lansia, maupun orang dengan berat badan berlebih.
Melakukan slow jogging secara rutin, membantu tubuh memanfaatkan oksigen dengan lebih efisien. Kemampuan ini membuat daya tahan tubuh meningkat secara bertahap, tanpa memberikan tekanan berlebihan pada jantung.
Agar manfaatnya lebih optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mulai melakukan slow jogging.
Berlarilah dengan tempo yang nyaman hingga masih bisa berbicara tanpa kesulitan. Jika napas mulai tersengal-sengal, kurangi kecepatan hingga kembali terasa ringan.
Jaga posisi tubuh tetap tegak dengan pandangan lurus ke depan. Saat kaki menyentuh permukaan, usahakan mendarat menggunakan bagian tengah atau depan kaki, bukan tumit.
Durasi latihan dapat dimulai selama 15 hingga 30 menit dalam satu sesi, sebanyak tiga kali seminggu. Setelah tubuh mulai terbiasa, durasi maupun frekuensi latihan dapat ditingkatkan secara bertahap.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Meski dilakukan dengan kecepatan yang santai, latihan ini tetap mampu memberikan banyak manfaat bagi kesehatan tubuh.
Bahkan, slow jogging menjadi pilihan bagi banyak orang yang ingin mulai rutin berolahraga, tanpa khawatir membebani sendi atau mudah kelelahan.
Slow jogging merupakan teknik berlari dengan tempo yang sangat pelan, yakni sekitar 3 hingga 5 kilometer per jam. Kecepatannya hampir sama dengan berjalan kaki biasa, sehingga tubuh tetap terasa nyaman selama bergerak.
Saat melakukan slow jogging, napas umumnya masih stabil, sehingga tetap memungkinkan untuk mengobrol atau tertawa tanpa merasa terengah-engah.
Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah lima manfaat slow jogging yang membuat olahraga ini layak dicoba:
1. Cocok untuk pemula dan berbagai kelompok usia
Slow jogging termasuk olahraga yang mudah dipelajari, sehingga dapat dilakukan oleh hampir semua orang, mulai dari pemula, lansia, hingga orang dengan berat badan berlebih.
Langkah kaki yang lebih pendek dan rapat membantu mengurangi tekanan pada tubuh, sehingga risiko cedera pun lebih rendah.
2. Menjaga kesehatan jantung
Sebagai latihan aerobik, slow jogging membantu melatih jantung agar bekerja lebih efisien. Aktivitas ini meningkatkan kebugaran kardiovaskular secara bertahap, tanpa memberikan beban berlebihan pada tubuh.
3. Membantu membakar lemak
Karena dilakukan dengan intensitas yang rendah, tubuh cenderung memanfaatkan lemak sebagai sumber energi utama, dibandingkan cadangan karbohidrat.
Oleh sebab itu, slow jogging sering dipilih sebagai salah satu olahraga, yang dapat mendukung program penurunan berat badan, jika dipadukan dengan pola makan yang seimbang.
4. Lebih aman untuk sendi
Salah satu keunggulan slow jogging adalah minimnya hentakan pada kaki saat berlari. Kondisi ini membuat tekanan pada lutut dan persendian menjadi lebih ringan, dibandingkan lari dengan kecepatan tinggi.
Oleh karena itu, slow jogging dinilai lebih aman bagi pemula, lansia, maupun orang dengan berat badan berlebih.
5. Meningkatkan stamina tubuh
Melakukan slow jogging secara rutin, membantu tubuh memanfaatkan oksigen dengan lebih efisien. Kemampuan ini membuat daya tahan tubuh meningkat secara bertahap, tanpa memberikan tekanan berlebihan pada jantung.
Cara memulai slow jogging
Agar manfaatnya lebih optimal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat mulai melakukan slow jogging.
1. Sesuaikan kecepatan
Berlarilah dengan tempo yang nyaman hingga masih bisa berbicara tanpa kesulitan. Jika napas mulai tersengal-sengal, kurangi kecepatan hingga kembali terasa ringan.
2. Perhatikan postur tubuh
Jaga posisi tubuh tetap tegak dengan pandangan lurus ke depan. Saat kaki menyentuh permukaan, usahakan mendarat menggunakan bagian tengah atau depan kaki, bukan tumit.
3. Mulai secara bertahap
Durasi latihan dapat dimulai selama 15 hingga 30 menit dalam satu sesi, sebanyak tiga kali seminggu. Setelah tubuh mulai terbiasa, durasi maupun frekuensi latihan dapat ditingkatkan secara bertahap.
Secillia Nur Hafifah
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)