FITNESS & HEALTH

Bukan Cuma Kepanasan, Heatstroke Bisa Ganggu Fungsi Otak

A. Firdaus
Kamis 25 Juni 2026 / 14:04
Ringkasnya gini..
  • Heatstroke merupakan kondisi yang lebih serius dibandingkan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).
  • Seseorang yang mengalami heat exhaustion umumnya masih dalam kondisi sadar dan responsif.
  • Masyarakat menghindari aktivitas berat saat suhu udara sedang tinggi, terutama ketika tingkat kelembapan juga meningkat.
Jakarta: Cuaca panas ekstrem tidak hanya membuat tubuh terasa gerah dan lelah. Dalam kondisi tertentu, paparan panas berlebih dapat memicu heatstroke atau sengatan panas, sebuah kondisi darurat medis yang berpotensi mengancam nyawa jika tidak segera ditangani.

Dokter spesialis kegawatdaruratan dan trauma dari Medanta Noida, Dr. Santosh Pandey, menjelaskan bahwa heatstroke merupakan kondisi yang lebih serius dibandingkan kelelahan akibat panas (heat exhaustion).

"Heat exhaustion dan heatstroke berada dalam spektrum yang sama, tetapi heatstroke merupakan keadaan darurat medis," ujar Pandey, dikutip dari Hindustan Times.

Bedanya heat exhaustion dan heatstroke


Menurut Pandey, seseorang yang mengalami heat exhaustion umumnya masih dalam kondisi sadar dan responsif. Gejalanya meliputi keringat berlebih, tubuh lemas, pusing, sakit kepala, mual, kram otot, serta denyut jantung yang meningkat.

Namun, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi heatstroke ketika suhu inti tubuh naik hingga lebih dari 40 derajat Celsius dan mulai memengaruhi fungsi otak.

"Tanda peringatannya meliputi kebingungan, disorientasi, bicara pelo, kejang, hilang kesadaran, atau perilaku yang tidak biasa," jelasnya.

Perubahan kondisi mental menjadi salah satu tanda paling penting untuk membedakan heatstroke dari kelelahan akibat panas biasa.
 

Jangan terpaku pada kulit kering


Banyak orang menganggap penderita heatstroke pasti berhenti berkeringat. Padahal, menurut Pandey, anggapan tersebut tidak selalu benar. Pada kasus heatstroke yang dipicu aktivitas fisik berat, seperti olahraga atau pekerjaan lapangan di bawah terik matahari, penderita masih bisa mengeluarkan banyak keringat.

"Kulit panas dan kering memang bisa menjadi tanda heatstroke yang sudah lanjut, tetapi tidak boleh dijadikan satu-satunya acuan diagnosis," kata Pandey.

Karena itu, gejala seperti kebingungan, sulit berkonsentrasi, bicara tidak jelas, atau kehilangan kesadaran perlu lebih diwaspadai dibanding hanya melihat kondisi kulit.
 

Mengapa heatstroke berbahaya?


Secara normal, tubuh memiliki sistem pendingin alami melalui proses penguapan keringat. Namun ketika suhu lingkungan terlalu tinggi atau kelembapan udara meningkat, mekanisme tersebut bisa gagal bekerja secara optimal.

Akibatnya, suhu tubuh meningkat dengan cepat dan dapat merusak berbagai organ vital, termasuk otak, jantung, ginjal, dan hati. Jika tidak segera ditangani, heatstroke dapat menyebabkan komplikasi serius hingga kematian.
 

Pertolongan pertama saat terjadi heatstroke


Pandey menyarankan untuk segera menghubungi layanan medis darurat apabila menemukan seseorang yang diduga mengalami heatstroke.

Sambil menunggu bantuan medis datang, korban perlu dipindahkan ke tempat yang lebih sejuk, teduh, atau memiliki pendingin udara.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

- Melepaskan pakaian berlebih.
- Mendinginkan tubuh menggunakan handuk basah atau air dingin.
- Menyalakan kipas angin untuk membantu proses pendinginan.
- Menempatkan kompres es pada area leher, ketiak, dan selangkangan.
- Memberikan cairan dingin sedikit demi sedikit jika korban masih sadar dan mampu menelan.

"Jangan memaksa memberi minum apabila korban kebingungan atau tidak sadar," tegasnya.

Pada kasus yang lebih berat, perendaman tubuh dalam air dingin juga dapat membantu menurunkan suhu tubuh dengan cepat, asalkan dilakukan secara tepat dan aman.
 

Siapa yang paling berisiko?


Menurut Pandey, beberapa kelompok memiliki risiko lebih tinggi mengalami gangguan kesehatan akibat panas karena kemampuan tubuh mereka dalam mengatur suhu tidak seefektif orang sehat pada umumnya.

Kelompok tersebut meliputi:

Lansia.
Anak-anak.
Penyandang obesitas.
Penderita diabetes.
Penderita penyakit jantung.
Penderita gangguan ginjal.
Pekerja lapangan.
Atlet atau individu yang sering beraktivitas fisik berat di luar ruangan.
Cara mencegah heatstroke

Untuk mengurangi risiko heatstroke, Pandey menyarankan kamu untuk menghindari aktivitas berat saat suhu udara sedang tinggi, terutama ketika tingkat kelembapan juga meningkat.

Olahraga di luar ruangan sebaiknya dilakukan pada pagi hari ketika suhu udara masih relatif sejuk dan paparan sinar matahari belum terlalu intens.

Selain itu, penting untuk menjaga hidrasi, mengenakan pakaian yang nyaman, serta segera beristirahat jika muncul tanda-tanda seperti pusing, sakit kepala, mual, kelelahan berlebihan, atau sesak napas yang tidak biasa.

"Kurangi intensitas olahraga saat gelombang panas dan segera berhenti jika muncul pusing, kelelahan berlebihan, sakit kepala, mual, atau sesak napas yang tidak biasa," pungkas Pandey.

Dengan cuaca panas yang semakin sering terjadi di berbagai wilayah, mengenali gejala heatstroke dan mengetahui langkah pertolongan pertama dapat menjadi kunci untuk mencegah kondisi yang lebih serius.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH