FITNESS & HEALTH
Menkes Budi Spill Strategi Lawan Kanker Indonesia di Forum Prancis
Yatin Suleha
Kamis 28 Mei 2026 / 07:05
- Menkes Budi Gunadi Sadikin, pemerintah pamer gebrakan baru buat ngendaliin kanker di forum internasional IARC@60 di Prancis, Kamis lalu.
- Fokus utamanya keren banget: perluas layanan cek kanker sejak dini, sebar fasilitas kesehatan biar merata, dan kerja sama bareng dunia internasional.
- Langkah ini diambil biar penanganan kanker di Indonesia makin cepat dan tepat sasaran.
Jakarta: Indonesia gak main-main soal urusan kesehatan! Lewat Menkes Budi Gunadi Sadikin, pemerintah pamer gebrakan baru buat ngendaliin kanker di forum internasional IARC@60 di Prancis, Kamis lalu.
Fokus utamanya keren banget: perluas layanan cek kanker sejak dini, sebar fasilitas kesehatan biar merata, dan kerja sama bareng dunia internasional. Langkah ini diambil biar penanganan kanker di Indonesia makin cepat dan tepat sasaran.
Konferensi bertema Cancer Research into Action itu mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Forum tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memaparkan komitmen nasional dalam menekan beban kanker sekaligus berkontribusi pada upaya pencegahan global.
Dalam kesempatan itu, Menkes Budi menjelaskan bahwa Indonesia telah meluncurkan Rencana Pengendalian Kanker Nasional pertama pada 2024 sebagai fondasi reformasi layanan kanker.
Deteksi dini kini menjadi prioritas utama, terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis, dengan target skrining meningkat tajam dari 70 juta orang pada tahun lalu menjadi 136 juta orang pada tahun ini.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mempercepat pemerataan akses alat diagnostik. Langkah konkret yang dilakukan meliputi pemenuhan USG ke ~10.000 Puskesmas untuk deteksi kanker payudara, penyediaans 361 unit mamografi untuk memperkuat layanan di 514 kabupaten/kota, serta penambahan CT scan di 514 kabupaten/kota.
Selain itu, unit pencitraan PET scan akan dikembangkan dari dua menjadi 16 unit di 16 provinsi pada 2027. Di sisi pencegahan, program imunisasi HPV dipercepat menjadi satu dosis dan akan diperluas ke anak laki-laki serta kelompok usia lainnya mulai tahun ini.
Meski infrastruktur berkembang pesat, Menkes Budi mengakui keterbatasan tenaga spesialis masih menjadi tantangan utama. Kapasitas pendidikan pun dinilai belum mampu mengimbangi percepatan pembangunan fasilitas fisik.
.jpeg)
(Menkes menegaskan, kolaborasi internasional menjadi kunci agar Indonesia mampu mengadopsi praktik terbaik. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong reformasi pendidikan kedokteran serta memanfaatkan pemeriksaan patologi berbasis digital dan konsultasi jarak jauh sebagai solusi sementara.
Pemerintah juga membuka kemitraan dengan sektor swasta untuk mempercepat penyediaan alat untuk mendukung layanan kanker.
Selain itu, Indonesia berencana langsung mengadopsi terapi kanker generasi terbaru agar tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi pengobatan.
Penguatan data melalui registrasi kanker lewat platform SatuSehat juga menjadi fokus utama. Pemerintah menargetkan kota-kota di Indonesia dapat masuk ke dalam database insidensi kanker global secara bertahap setiap lima tahun.
Menkes menegaskan, kolaborasi internasional, termasuk dengan International Agency for Research on Cancer, World Health Organization, dan berbagai lembaga riset global menjadi kunci agar Indonesia mampu mengadopsi praktik terbaik secara efisien tanpa harus mengulang proses yang mahal dan memakan waktu.
“Transformasi pengendalian kanker tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan sinergi riset, kebijakan, dan kerja sama global, kita bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” ujar Menkes.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Fokus utamanya keren banget: perluas layanan cek kanker sejak dini, sebar fasilitas kesehatan biar merata, dan kerja sama bareng dunia internasional. Langkah ini diambil biar penanganan kanker di Indonesia makin cepat dan tepat sasaran.
Konferensi bertema Cancer Research into Action itu mempertemukan ilmuwan, pembuat kebijakan, dan pemangku kepentingan dari berbagai negara.
Forum tersebut menjadi momentum strategis bagi Indonesia untuk memaparkan komitmen nasional dalam menekan beban kanker sekaligus berkontribusi pada upaya pencegahan global.
Dalam kesempatan itu, Menkes Budi menjelaskan bahwa Indonesia telah meluncurkan Rencana Pengendalian Kanker Nasional pertama pada 2024 sebagai fondasi reformasi layanan kanker.
Deteksi dini kini menjadi prioritas utama, terintegrasi dengan Cek Kesehatan Gratis, dengan target skrining meningkat tajam dari 70 juta orang pada tahun lalu menjadi 136 juta orang pada tahun ini.
Untuk mendukung target tersebut, pemerintah mempercepat pemerataan akses alat diagnostik. Langkah konkret yang dilakukan meliputi pemenuhan USG ke ~10.000 Puskesmas untuk deteksi kanker payudara, penyediaans 361 unit mamografi untuk memperkuat layanan di 514 kabupaten/kota, serta penambahan CT scan di 514 kabupaten/kota.
Selain itu, unit pencitraan PET scan akan dikembangkan dari dua menjadi 16 unit di 16 provinsi pada 2027. Di sisi pencegahan, program imunisasi HPV dipercepat menjadi satu dosis dan akan diperluas ke anak laki-laki serta kelompok usia lainnya mulai tahun ini.
Meski infrastruktur berkembang pesat, Menkes Budi mengakui keterbatasan tenaga spesialis masih menjadi tantangan utama. Kapasitas pendidikan pun dinilai belum mampu mengimbangi percepatan pembangunan fasilitas fisik.
.jpeg)
(Menkes menegaskan, kolaborasi internasional menjadi kunci agar Indonesia mampu mengadopsi praktik terbaik. Foto: Dok. Birkom Kemenkes)
Untuk mengatasinya, pemerintah mendorong reformasi pendidikan kedokteran serta memanfaatkan pemeriksaan patologi berbasis digital dan konsultasi jarak jauh sebagai solusi sementara.
Pemerintah juga membuka kemitraan dengan sektor swasta untuk mempercepat penyediaan alat untuk mendukung layanan kanker.
Selain itu, Indonesia berencana langsung mengadopsi terapi kanker generasi terbaru agar tidak tertinggal dalam pengembangan teknologi pengobatan.
Penguatan data melalui registrasi kanker lewat platform SatuSehat juga menjadi fokus utama. Pemerintah menargetkan kota-kota di Indonesia dapat masuk ke dalam database insidensi kanker global secara bertahap setiap lima tahun.
Menkes menegaskan, kolaborasi internasional, termasuk dengan International Agency for Research on Cancer, World Health Organization, dan berbagai lembaga riset global menjadi kunci agar Indonesia mampu mengadopsi praktik terbaik secara efisien tanpa harus mengulang proses yang mahal dan memakan waktu.
“Transformasi pengendalian kanker tidak bisa dilakukan sendiri. Dengan sinergi riset, kebijakan, dan kerja sama global, kita bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa,” ujar Menkes.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)