FITNESS & HEALTH

Newborn Health Guide! Memahami Penyebab & Fakta di Balik Bayi Kuning

Yatin Suleha
Rabu 29 Juli 2026 / 15:00
Ringkasnya gini..
  • Penyebab utama bayi baru lahir masih kuning atau ikterus neonatorum adalah penumpukan bilirubin di dalam darah.
  • Bilirubin merupakan pigmen berwarna kuning, yang terbentuk dari proses pemecahan sel darah merah.
  • Pada bayi baru lahir, hati masih belum bekerja secara optimal, sehingga bilirubin belum dapat diproses dan dikeluarkan melalui urine, maupun feses.
Jakarta: Kulit dan bagian putih mata yang tampak kekuningan pada bayi baru lahir, sering membuat orang tua merasa khawatir. 

Padahal, kondisi ini termasuk masalah yang sangat umum terjadi pada masa awal kehidupan. Dalam banyak kasus, bayi kuning merupakan kondisi normal, yang akan membaik seiring perkembangan fungsi hati. 

 

Namun, ada juga kondisi tertentu, yang menandakan bayi membutuhkan penanganan medis lebih lanjut.

Oleh karena itu, penting untuk memahami penyebab, jenis, serta tanda bahaya yang tidak boleh diabaikan.

Penyebab utama bayi baru lahir masih kuning atau ikterus neonatorum, adalah penumpukan bilirubin di dalam darah. Bilirubin merupakan pigmen berwarna kuning, yang terbentuk dari proses pemecahan sel darah merah. 

Pada bayi baru lahir, organ hati masih belum bekerja secara optimal, sehingga bilirubin belum dapat diproses dan dikeluarkan melalui urine, maupun feses dengan baik.

Akibatnya, kadar bilirubin meningkat dan membuat kulit serta mata tampak kekuningan.

Secara medis, bayi kuning dibagi menjadi dua kelompok berdasarkan penyebabnya, yaitu kuning fisiologis dan kuning patologis.
 

1. Kuning normal (fisiologis)


Kuning fisiologis merupakan kondisi, yang paling sering terjadi dan dialami sekitar 40–60% bayi cukup bulan. Warna kuning biasanya mulai muncul pada hari ke-2 atau ke-3 setelah lahir, kemudian berangsur menghilang dalam waktu 1 hingga 2 minggu ketika fungsi hati semakin matang.

Dilansir dari berbagai sumber, berikut adalah beberapa penyebab kuning fisiologis.

• Produksi bilirubin lebih tinggi.
Sel darah merah bayi memiliki masa hidup yang lebih pendek, dibandingkan orang dewasa sehingga lebih cepat mengalami pemecahan. Proses ini menghasilkan bilirubin dalam jumlah yang lebih banyak.

• Fungsi hati belum berkembang sempurna.
Hati bayi masih membutuhkan waktu untuk memproses dan membuang bilirubin secara optimal, sehingga sebagian bilirubin menumpuk di dalam darah.

• Kurang asupan ASI (breastfeeding jaundice).
Kondisi ini biasanya terjadi pada hari-hari pertama setelah lahir, ketika produksi ASI masih sedikit atau bayi belum menyusu dengan efektif.

Akibatnya, pergerakan usus menjadi lebih lambat, sehingga bilirubin kembali diserap oleh tubuh, bukan dikeluarkan melalui feses.

• Pengaruh zat tertentu dalam ASI (breast milk jaundice).
Pada beberapa bayi, terdapat zat dalam ASI, yang dapat memperlambat proses pemecahan bilirubin oleh hati.

Kondisi ini tergolong jarang, dapat berlangsung selama 3–12 minggu, dan umumnya tidak berbahaya selama bayi tetap aktif menyusu, berat badan bertambah, serta tumbuh dengan baik.
 

2. Kuning tidak normal (patologis)



(Perlu dicurigai, apabila warna kuning muncul sebelum bayi berusia 24 jam, berlangsung lebih dari 14 hari, Foto: Dok. Pexels.com)

Kuning patologis memerlukan perhatian lebih, karena dapat berkaitan dengan gangguan kesehatan tertentu.

Kondisi ini perlu dicurigai, apabila warna kuning muncul sebelum bayi berusia 24 jam, berlangsung lebih dari 14 hari, atau kadar bilirubin meningkat dengan sangat cepat.

Beberapa penyebab kuning patologis antara lain:

• Ketidakcocokan golongan darah (inkompatibilitas ABO/rhesus).
Perbedaan golongan darah atau rhesus antara ibu dan bayi, dapat menyebabkan antibodi ibu menyerang sel darah merah bayi, sehingga proses pemecahan sel darah merah menjadi lebih cepat.

• Infeksi atau sepsis.
Infeksi bakteri maupun virus pada bayi baru lahir dapat mengganggu fungsi tubuh, termasuk kemampuan hati dalam memproses bilirubin.

• Gangguan hati dan saluran empedu.
Masalah seperti kerusakan hati atau penyumbatan saluran empedu (atresia bilier), dapat menghambat pembuangan bilirubin dari tubuh.

 

• Kekurangan enzim.
Salah satu contohnya adalah defisiensi G6PD. Kondisi ini membuat sel darah merah lebih rapuh, sehingga lebih mudah pecah dan menghasilkan bilirubin dalam jumlah berlebih.

• Memar saat proses persalinan.
Memar seperti ekimosis atau sefalhematoma, menyebabkan penumpukan darah di bawah kulit. Saat darah tersebut dipecah oleh tubuh, jumlah bilirubin yang dihasilkan menjadi lebih banyak.

Secillia Nur Hafifah


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(TIN)

MOST SEARCH