FITNESS & HEALTH

Hari Anak Nasional 2026, UNICEF dan Novo Nordisk Perkuat Pencegahan Obesitas Anak

Elang Riki Yanuar
Kamis 23 Juli 2026 / 11:00
Ringkasnya gini..
  • Hampir satu dari lima anak usia 5-12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, sehingga pencegahan dini semakin penting.
  • Obesitas pada anak diperkirakan dapat memicu kerugian ekonomi hingga Rp4.980 triliun jika tidak ditangani dengan kebijakan yang efektif.
  • Program CDiC telah menjangkau 2.671 anak dengan diabetes tipe 1 dan melatih lebih dari 8.000 tenaga kesehatan di Indonesia.
Jakarta: Ancaman obesitas dan diabetes tipe 1 pada anak menjadi tantangan kesehatan yang membutuhkan perhatian serius. Momentum Hari Anak Nasional pada 23 Juli pun menjadi pengingat pentingnya menciptakan lingkungan sehat sekaligus memastikan anak-anak mendapatkan akses layanan kesehatan yang memadai.

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan hampir satu dari lima anak berusia 5 hingga 12 tahun mengalami kelebihan berat badan atau obesitas. Sementara itu, International Diabetes Federation (IDF) memperkirakan satu dari tiga orang dengan diabetes tipe 1 di Indonesia merupakan anak-anak dan remaja.

Kondisi tersebut mendorong perlunya upaya pencegahan sejak dini yang berjalan beriringan dengan penguatan layanan kesehatan. Selama hampir 30 tahun beroperasi di Indonesia, Novo Nordisk berkolaborasi dengan pemerintah, organisasi medis, dan berbagai pemangku kepentingan untuk mendukung penanganan obesitas serta diabetes.

Dalam momentum Hari Anak Nasional, perusahaan kesehatan global asal Denmark tersebut kembali menegaskan komitmennya dalam mendukung kesehatan generasi muda, terutama melalui pencegahan obesitas sejak usia dini dan peningkatan layanan bagi anak dengan diabetes tipe 1.

"Masa depan Indonesia ditentukan oleh kualitas kesehatan generasi mudanya. Oleh karena itu, segala upaya dan investasi untuk meningkatkan kesehatan anak harus dimulai sedini mungkin, mulai dari menciptakan lingkungan yang mendukung gaya hidup sehat untuk mencegah kelebihan berat badan dan obesitas, hingga memastikan setiap anak yang hidup dengan diabetes tipe 1 memperoleh akses terhadap diagnosis, pengobatan, dan pendampingan yang tepat," ujar Banarsono Trimandojo, Associate Director Market Access and Public Affairs Novo Nordisk Indonesia.
Salah satu upaya pencegahan obesitas dilakukan melalui kemitraan Novo Nordisk dan UNICEF yang telah berlangsung secara global sejak 2019. Di Indonesia, kolaborasi tersebut berfokus pada penguatan bukti ilmiah, advokasi kebijakan, serta program intervensi berbasis sekolah untuk menciptakan lingkungan pangan dan pola hidup yang lebih sehat bagi anak.

Sejumlah kajian telah dilakukan untuk mendukung penyusunan kebijakan berbasis data. Salah satu penelitian menemukan bahwa 85 persen merek makanan dan minuman mempromosikan setidaknya satu produk melalui media sosial yang tidak sesuai untuk dipasarkan kepada anak-anak.

Studi Cost of Inaction yang dilakukan bersama University of Lausanne, UNICEF Indonesia, dan Kementerian Kesehatan RI juga menunjukkan besarnya dampak ekonomi yang dapat ditimbulkan. 

Tanpa intervensi kebijakan yang efektif, kelebihan berat badan dan obesitas pada anak diperkirakan dapat menyebabkan kerugian ekonomi hingga USD294 miliar atau sekitar Rp4.980 triliun sepanjang masa hidup kelompok anak yang terdampak.

Temuan ilmiah tersebut turut digunakan untuk mendorong kebijakan pencegahan obesitas di Indonesia. Salah satunya adalah implementasi Nutri-Level, sistem pelabelan gizi pada bagian depan kemasan pangan siap konsumsi yang diharapkan membantu masyarakat menentukan pilihan makanan yang lebih sehat.

Upaya membangun kebiasaan hidup sehat juga dilakukan langsung di lingkungan sekolah. Program Petualangan Bergizi telah memberikan manfaat kepada lebih dari 2.000 anak melalui edukasi gizi, promosi aktivitas fisik, penyediaan pilihan makanan sehat di kantin, hingga pengembangan kebun sekolah.

Setelah diintegrasikan dengan program Usaha Kesehatan Sekolah/Madrasah atau UKS/M, jangkauan program tersebut diperluas hingga sekitar 50.000 anak di sembilan provinsi. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang semakin mendukung tumbuh kembang anak secara sehat.

Selain obesitas, perhatian juga diberikan kepada anak-anak yang hidup dengan diabetes tipe 1. Mereka membutuhkan terapi insulin seumur hidup, pemantauan kadar gula darah secara rutin, dan layanan kesehatan berkelanjutan agar dapat tumbuh serta menjalani aktivitas sehari-hari secara optimal.

Melalui program Changing Diabetes in Children atau CDiC yang hadir di Indonesia sejak 2021, Novo Nordisk Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan RI dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk memperkuat layanan diabetes tipe 1 pada anak. Program ini berfokus pada edukasi pasien, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan, perluasan akses layanan dan insulin, serta dukungan pemantauan diabetes.

Edukasi kepada anak dan keluarga diberikan melalui berbagai kegiatan, termasuk Diabetes Camp. Sejak 2023, empat kegiatan Diabetes Camp telah diselenggarakan di Jawa Timur, DKI Jakarta, Jawa Tengah, dan Sumatera Selatan dengan melibatkan dokter spesialis endokrin anak, dokter anak, perawat, serta ahli gizi.

Melalui kegiatan tersebut, anak dan remaja mendapatkan pemahaman mengenai penggunaan insulin, pengaturan pola makan, aktivitas fisik yang aman, pemantauan gula darah, hingga pengenalan kondisi darurat. Kegiatan juga dikemas melalui permainan, olahraga, dan aktivitas kelompok untuk membantu membangun kemandirian serta kepercayaan diri peserta.

Di sisi lain, peningkatan kemampuan tenaga kesehatan terus dilakukan melalui pelatihan dasar dan lanjutan bagi dokter, perawat, dan ahli gizi. Program CDiC juga mendukung penguatan 49 klinik diabetes serta akses insulin bagi pasien.

Registrasi nasional diabetes tipe 1 juga telah terintegrasi dengan platform SATU SEHAT sejak 2024. Selain itu, anak-anak dengan diabetes tipe 1 yang tergabung dalam CDiC mendapatkan dukungan berupa glukometer dan strip tes untuk membantu pemantauan kadar gula darah secara rutin.

Project Leader CDiC Indonesia, Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan, Sp.A(K), Subsp. End., FAAP, FRCPI (Hon.), menilai keterlambatan diagnosis masih menjadi salah satu tantangan terbesar dalam penanganan diabetes tipe 1 pada anak.

"Diabetes tipe 1 pada anak masih sering terlambat dikenali karena gejalanya kerap disalahartikan sebagai penyakit lain. Padahal, diagnosis dan penanganan yang tepat sejak dini sangat menentukan kualitas hidup anak serta membantu mencegah komplikasi yang mengancam jiwa," ujar Prof. Aman.

Sejak diluncurkan di Indonesia pada 2021, program CDiC telah menjangkau 2.671 anak dengan diabetes tipe 1. Program tersebut juga telah melatih lebih dari 8.000 tenaga kesehatan, memperkuat 49 klinik diabetes, dan memberikan edukasi kepada sekitar 20.000 pasien, keluarga, serta masyarakat.

“Momentum Hari Anak Nasional mengingatkan kita bahwa investasi pada kesehatan anak merupakan investasi bagi masa depan bangsa. Kami berharap semakin banyak sinergi yang terbangun untuk menciptakan lingkungan yang mendukung anak tumbuh sehat serta memperkuat akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas sehingga setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh, berkembang, dan meraih masa depan terbaiknya,” tutup Banarsono.









 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)

MOST SEARCH