FITNESS & HEALTH
Tren Hidup Sehat Makin Populer, Tapi Risiko Infodemic Mengintai Pekerja Urban
A. Firdaus
Sabtu 11 April 2026 / 17:13
- Risiko kesehatan justru ikut meningkat akibat maraknya informasi yang belum tentu akurat.
- Banyak orang merasa sudah cukup aktif hanya dari aktivitas harian.
- Upaya pencegahan berbasis sains seperti imunisasi juga tetap menjadi fondasi penting.
Jakarta: Gaya hidup sehat kini semakin digemari, terutama di kalangan pekerja urban. Mulai dari diet viral hingga berbagai workout challenge ramai diikuti. Namun, di balik tren tersebut, risiko kesehatan justru ikut meningkat akibat maraknya informasi yang belum tentu akurat.
Fenomena ini dikenal sebagai infodemic, yaitu penyebaran informasi berlebihan, termasuk yang salah atau menyesatkan, yang menjadi perhatian World Health Organization. Di era digital, kondisi ini membuat banyak orang terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing dalam momentum World Health Day bertema 'Together for Health, Stand with Science'. Inisiatif ini bertujuan mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti ilmiah.
Chief People & Culture Allianz Life Indonesia, Nina Hatumena, menilai bahwa banyak pekerja masih menempatkan kesehatan sebagai prioritas terakhir.
“Kami ingin menggeser cara pandang bahwa hidup sehat bukan menunggu waktu luang, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil setiap hari. Ini adalah investasi jangka panjang,” ujar Nina.
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Melanie Putria, seorang wellness enthusiast yang menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik.
Menurutnya, banyak orang merasa sudah cukup aktif hanya dari aktivitas harian seperti berjalan atau beres-beres rumah. Padahal, hal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yang belum bisa menggantikan olahraga terstruktur.
Ia menekankan empat pilar utama hidup sehat, yaitu olahraga, nutrisi, istirahat dan pemulihan, serta manajemen stres.
Sementara itu, ahli gizi Rinta Agustiani Dwiputra menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan kurangnya informasi, melainkan kesalahan dalam memahami informasi kesehatan.
Ia mencontohkan fenomena diet instan yang berisiko memicu efek yo-yo, yakni penurunan berat badan drastis yang kemudian naik kembali dengan cepat, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
Beberapa tren diet yang sering disalahpahami antara lain:
- Very low-calorie diet, yang memang menurunkan berat badan cepat, namun berisiko mengurangi massa otot dan memperlambat metabolisme.
- Keto diet, efektif dalam kondisi tertentu, tetapi berisiko jika konsumsi lemak jenuh berlebihan tanpa pengawasan.
- Intermittent fasting, yang relatif aman selama asupan nutrisi tetap seimbang.
- Juice fasting, yang perlu dilakukan dengan durasi dan komposisi tepat agar tidak berdampak negatif.
Kunci Sehat: Konsisten dan Realistis
Rinta menegaskan, pendekatan sederhana justru lebih efektif jika dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang disarankan antara lain:
- Pola makan seimbang dengan gizi lengkap.
- Aktivitas fisik rutin (cardio dan latihan beban).
- Tidur berkualitas dan cukup.
- Micro-break setiap 90 menit.
- Power nap 15–20 menit untuk memulihkan energi
Selain itu, upaya pencegahan berbasis sains seperti imunisasi juga tetap menjadi fondasi penting. Data World Health Organization menunjukkan bahwa imunisasi telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa dalam 50 tahun terakhir.
Hal ini menegaskan bahwa di tengah derasnya tren kesehatan, pendekatan berbasis bukti tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan, khususnya bagi kelompok usia produktif. Di tengah dunia kerja yang serba cepat, tren boleh datang dan pergi. Namun, kesehatan hanya bisa dibangun melalui kebiasaan yang konsisten, realistis, dan berbasis sains.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Fenomena ini dikenal sebagai infodemic, yaitu penyebaran informasi berlebihan, termasuk yang salah atau menyesatkan, yang menjadi perhatian World Health Organization. Di era digital, kondisi ini membuat banyak orang terjebak pada tren kesehatan instan yang tidak berkelanjutan.
Menjawab tantangan tersebut, Allianz Indonesia menghadirkan inisiatif wellbeing dalam momentum World Health Day bertema 'Together for Health, Stand with Science'. Inisiatif ini bertujuan mendorong gaya hidup sehat yang lebih realistis dan berbasis bukti ilmiah.
Baca Juga :
Sirka Perkuat Layanan Terintegrasi, Kombinasikan Teknologi dan Klinik untuk Atasi Obesitas
Chief People & Culture Allianz Life Indonesia, Nina Hatumena, menilai bahwa banyak pekerja masih menempatkan kesehatan sebagai prioritas terakhir.
“Kami ingin menggeser cara pandang bahwa hidup sehat bukan menunggu waktu luang, tetapi dibangun dari kebiasaan kecil setiap hari. Ini adalah investasi jangka panjang,” ujar Nina.
Aktivitas harian belum cukup gantikan olahraga
Dalam kegiatan tersebut, hadir pula Melanie Putria, seorang wellness enthusiast yang menyoroti kesalahpahaman umum terkait aktivitas fisik.
Menurutnya, banyak orang merasa sudah cukup aktif hanya dari aktivitas harian seperti berjalan atau beres-beres rumah. Padahal, hal itu termasuk Non-Exercise Physical Activity (NEPA), yang belum bisa menggantikan olahraga terstruktur.
Ia menekankan empat pilar utama hidup sehat, yaitu olahraga, nutrisi, istirahat dan pemulihan, serta manajemen stres.
Salah kaprah diet bisa picu efek Yo-Yo
Sementara itu, ahli gizi Rinta Agustiani Dwiputra menjelaskan bahwa tantangan terbesar saat ini bukan kurangnya informasi, melainkan kesalahan dalam memahami informasi kesehatan.
Ia mencontohkan fenomena diet instan yang berisiko memicu efek yo-yo, yakni penurunan berat badan drastis yang kemudian naik kembali dengan cepat, bahkan lebih tinggi dari sebelumnya.
Beberapa tren diet yang sering disalahpahami antara lain:
- Very low-calorie diet, yang memang menurunkan berat badan cepat, namun berisiko mengurangi massa otot dan memperlambat metabolisme.
- Keto diet, efektif dalam kondisi tertentu, tetapi berisiko jika konsumsi lemak jenuh berlebihan tanpa pengawasan.
- Intermittent fasting, yang relatif aman selama asupan nutrisi tetap seimbang.
- Juice fasting, yang perlu dilakukan dengan durasi dan komposisi tepat agar tidak berdampak negatif.
Kunci Sehat: Konsisten dan Realistis
Rinta menegaskan, pendekatan sederhana justru lebih efektif jika dilakukan secara konsisten. Beberapa kebiasaan yang disarankan antara lain:
- Pola makan seimbang dengan gizi lengkap.
- Aktivitas fisik rutin (cardio dan latihan beban).
- Tidur berkualitas dan cukup.
- Micro-break setiap 90 menit.
- Power nap 15–20 menit untuk memulihkan energi
Selain itu, upaya pencegahan berbasis sains seperti imunisasi juga tetap menjadi fondasi penting. Data World Health Organization menunjukkan bahwa imunisasi telah menyelamatkan sekitar 154 juta nyawa dalam 50 tahun terakhir.
Hal ini menegaskan bahwa di tengah derasnya tren kesehatan, pendekatan berbasis bukti tetap menjadi kunci utama menjaga kesehatan, khususnya bagi kelompok usia produktif. Di tengah dunia kerja yang serba cepat, tren boleh datang dan pergi. Namun, kesehatan hanya bisa dibangun melalui kebiasaan yang konsisten, realistis, dan berbasis sains.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)