FITNESS & HEALTH
Protokol 5R Disebut Efektif Membantu Penderita GERD
Elang Riki Yanuar
Selasa 28 April 2026 / 17:27
- GERD dan maag kronis membuat banyak penderita takut makan karena khawatir nyeri, sesak dada, dan gejala kambuh.
- Dokter memperkenalkan Protokol 5R untuk membantu pemulihan GERD dan maag kronis, bukan sekadar menekan asam lambung.
- Makanan sehat untuk penderita GERD tak harus hambar, rasa nyaman saat makan juga penting untuk proses pemulihan.
Jakarta: GERD dan maag kronis sering kali membuat waktu makan berubah menjadi momen yang menegangkan. Banyak penderita merasa takut setiap kali rasa lapar datang karena khawatir gejala seperti nyeri ulu hati, dada sesak, tenggorokan panas, hingga mulut terasa pahit akan kembali muncul setelah makan.
Kondisi ini membuat banyak orang terjebak dalam lingkaran masalah yang tidak sederhana. Saat rasa takut makan semakin besar, asupan nutrisi berkurang dan tubuh menjadi lemah. Di sisi lain, stres dan kecemasan yang meningkat justru dapat memperburuk kondisi lambung.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam Health Talk bertajuk Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety yang digelar di The Mirah Hotel Bogor. Dalam diskusi itu, para ahli menyoroti pentingnya penanganan GERD secara menyeluruh, termasuk melalui pendekatan Protokol 5R.
dr. Ratri Saumi, Sp.GK., menjelaskan bahwa banyak orang masih salah memahami GERD sebagai masalah kelebihan asam lambung semata. Padahal, menurutnya, asam lambung memiliki fungsi penting dalam proses pencernaan, terutama untuk mencerna protein.
“Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia ‘muncrat’ ke tempat yang salah,” jelasnya.
Ia menerangkan bahwa masalah utama GERD justru terletak pada melemahnya katup esofagus, sehingga asam lambung naik ke area yang seharusnya tidak terkena. Ketika kondisi ini terjadi terus-menerus, iritasi lambung dapat mengirimkan sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis.
Sinyal tersebut kemudian memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol yang membuat produksi asam lambung semakin tinggi. Akibatnya, gejala GERD menjadi lebih berat dan penderita merasa semakin takut untuk makan.
Untuk membantu memutus rantai tersebut, dr. Ratri memperkenalkan Protokol 5R yang terdiri dari Remove, Replace, Reinoculate, Repair, dan Rebalance. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada menekan asam lambung dengan obat, tetapi juga memperbaiki kondisi lambung dari akar masalahnya.
Tahap Remove bertujuan menghilangkan faktor pemicu yang memperparah gangguan lambung, seperti pola makan yang salah, makanan pemicu, hingga stres berlebihan. Setelah itu, tahap Replace dilakukan dengan mengganti kebutuhan tubuh yang kurang, termasuk dukungan nutrisi yang tepat agar proses pencernaan tetap berjalan optimal.
Langkah berikutnya adalah Reinoculate, yaitu membantu mengembalikan keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Setelah itu, tahap Repair dilakukan untuk membantu pemulihan lapisan lambung yang mengalami iritasi atau peradangan akibat gangguan asam lambung berkepanjangan.
Tahap terakhir adalah Rebalance, yakni menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan, termasuk pola tidur, manajemen stres, aktivitas fisik, dan pola makan harian agar gejala tidak mudah kambuh kembali.
Dera Nur Tresna, M.Kes., Brand Owner Nutriged sekaligus caregiver penyintas GERD, juga membagikan pengalaman pribadinya saat mendampingi sang suami yang sempat mengalami serangan panik akibat gangguan lambung berat pada 2019.
“Malam itu, jam 2 pagi, rasanya seperti perpisahan terakhir,” kenang Dera.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa makanan untuk penderita GERD tidak harus selalu hambar dan membosankan. Menurutnya, makanan yang tidak menggugah selera justru dapat menambah tekanan mental pasien dan membuat proses pemulihan semakin sulit.
“Kami ingin menciptakan solusi di mana pengidap asam lambung tetap bisa makan enak dan nyaman tanpa rasa khawatir,” tambah Dera.
Hal serupa juga disampaikan Nutraceutical Researcher Ramdani Husnul Huluq. Ia menilai rasa nyaman saat makan merupakan bagian penting dalam proses pemulihan, sehingga makanan sehat tetap perlu terasa nikmat.
“Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya,” ujar Ramdani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Kondisi ini membuat banyak orang terjebak dalam lingkaran masalah yang tidak sederhana. Saat rasa takut makan semakin besar, asupan nutrisi berkurang dan tubuh menjadi lemah. Di sisi lain, stres dan kecemasan yang meningkat justru dapat memperburuk kondisi lambung.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam Health Talk bertajuk Memutus Lingkaran Setan GERD dan Anxiety yang digelar di The Mirah Hotel Bogor. Dalam diskusi itu, para ahli menyoroti pentingnya penanganan GERD secara menyeluruh, termasuk melalui pendekatan Protokol 5R.
dr. Ratri Saumi, Sp.GK., menjelaskan bahwa banyak orang masih salah memahami GERD sebagai masalah kelebihan asam lambung semata. Padahal, menurutnya, asam lambung memiliki fungsi penting dalam proses pencernaan, terutama untuk mencerna protein.
“Asam lambung itu penting untuk mencerna protein. Masalahnya adalah ketika ia ‘muncrat’ ke tempat yang salah,” jelasnya.
Baca Juga :
Waspadai Gejala-gejala GERD Ini pada Anak-anak
Ia menerangkan bahwa masalah utama GERD justru terletak pada melemahnya katup esofagus, sehingga asam lambung naik ke area yang seharusnya tidak terkena. Ketika kondisi ini terjadi terus-menerus, iritasi lambung dapat mengirimkan sinyal bahaya ke otak melalui mekanisme Gut-Brain Axis.
Sinyal tersebut kemudian memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol yang membuat produksi asam lambung semakin tinggi. Akibatnya, gejala GERD menjadi lebih berat dan penderita merasa semakin takut untuk makan.
Untuk membantu memutus rantai tersebut, dr. Ratri memperkenalkan Protokol 5R yang terdiri dari Remove, Replace, Reinoculate, Repair, dan Rebalance. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada menekan asam lambung dengan obat, tetapi juga memperbaiki kondisi lambung dari akar masalahnya.
Tahap Remove bertujuan menghilangkan faktor pemicu yang memperparah gangguan lambung, seperti pola makan yang salah, makanan pemicu, hingga stres berlebihan. Setelah itu, tahap Replace dilakukan dengan mengganti kebutuhan tubuh yang kurang, termasuk dukungan nutrisi yang tepat agar proses pencernaan tetap berjalan optimal.
Langkah berikutnya adalah Reinoculate, yaitu membantu mengembalikan keseimbangan bakteri baik di saluran cerna. Setelah itu, tahap Repair dilakukan untuk membantu pemulihan lapisan lambung yang mengalami iritasi atau peradangan akibat gangguan asam lambung berkepanjangan.
Tahap terakhir adalah Rebalance, yakni menjaga keseimbangan tubuh secara keseluruhan, termasuk pola tidur, manajemen stres, aktivitas fisik, dan pola makan harian agar gejala tidak mudah kambuh kembali.
Dera Nur Tresna, M.Kes., Brand Owner Nutriged sekaligus caregiver penyintas GERD, juga membagikan pengalaman pribadinya saat mendampingi sang suami yang sempat mengalami serangan panik akibat gangguan lambung berat pada 2019.
“Malam itu, jam 2 pagi, rasanya seperti perpisahan terakhir,” kenang Dera.
Pengalaman tersebut membuatnya menyadari bahwa makanan untuk penderita GERD tidak harus selalu hambar dan membosankan. Menurutnya, makanan yang tidak menggugah selera justru dapat menambah tekanan mental pasien dan membuat proses pemulihan semakin sulit.
“Kami ingin menciptakan solusi di mana pengidap asam lambung tetap bisa makan enak dan nyaman tanpa rasa khawatir,” tambah Dera.
Hal serupa juga disampaikan Nutraceutical Researcher Ramdani Husnul Huluq. Ia menilai rasa nyaman saat makan merupakan bagian penting dalam proses pemulihan, sehingga makanan sehat tetap perlu terasa nikmat.
“Jika anak kecil suka, maka orang dewasa yang sedang sakit pun akan merasa bahagia saat memakannya,” ujar Ramdani.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)