FITNESS & HEALTH

Habis Sahur Langsung Tidur? Hati-Hati Risiko GERD

Aulia Putriningtias
Sabtu 07 Maret 2026 / 10:08
Ringkasnya gini..
  • Perihal GERD dapat sembuh dengan mengurangi faktor risiko.
  • Pentingnya untuk memulai olahraga dengan teratur
  • Rata-rata pengidap GERD adalah pria yang memiliki kebiasaan merokok.
Jakarta: Bulan Ramadan selalu menjadi momentum yang spesial dan hangat dalam berbagi, termasuk edukasi. Salah satunya adalah berbagi edukasi perihal gastroesophageal reflux disease atau GERD saat puasa.

Hadirnya Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Konsultan gastroenterologi–hepatologi FK UI RSCM Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH, dirinya menekankan perihal GERD dapat sembuh dengan mengurangi faktor risiko. Ia pun mendorong orang-orang yang memiliki GERD untuk juga melakukan pengobatan tuntas.

"Obatnya tadi menghilangkan gejala juga komplikasi, gaya hidup, kalau dia merokok stop merokok, kalau dia (minum) alkohol juga stop, berat badan penting untuk diturunkan, kemudian diet rendah lemak, Jadi ini memang mesti diturunkan,” kata Prof. Ari saat ditemui di acara buka puasa bersama Primaya Hospital di Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
 
Mengubah gaya hidup yang sehat melalui makanan dapat menekan keparahan dari GERD. Tak hanya itu, pentingnya untuk memulai olahraga dengan teratur, menurunkan berat badan agar tidak sampai obesitas, istirahat yang cukup, hingga mengelola stres yang baik.

Hal ini dikarenakan menurut penelitian yang dilakukan oleh Prof. Ari, rata-rata pengidap GERD adalah pria yang memiliki kebiasaan merokok, mengidap obesitas, dan usia di atas 40 tahun. Namu, tak sedikit juga GERD dialami oleh anak-anak.

"Makan cokelat keju yang berlebihan sejak kecil, kemudian juga kebiasaan makan langsung tidur gitu. Dan sekarang cenderung anak-anak ini juga kurang bergerak karena gadget, kurangin gadget jadi artinya mereka harus sering di playground," jelasnya.

Prof. Ari mengatakan jika pasien sering merasakan nyeri dada dan ulu hati, rasa terbakar di dada, hingga muntah berulang kali maka sebaiknya berkonsultasi kepada dokter ahli. Biasanya disarankan melakukan endoskopi untuk melihat kemungkinan GERD pada tubuh.

Selain itu, Prof. Ari juga memaparkan obat-obatan terbaru untuk pengidap GERD, yaitu golongan P-CAB Vonoparazan, Tegoprazan dan Fexuprazan. Obat-obatan ini menjadi harapan penderita GERD karena bakteri helicobacter pylori.

"Sekarang ini sudah eranya P-CAB, Jadi melihat bahwa memang akhirnya karena kita 20 persen pasien-pasien yang diobatin dengan obat yang sebelumnya itu gagal, Jadi ini menjadi harapan buat penderita GERD ada obat baru," paparnya.

Berbicara mengenai Primaya Hospital, Direktur Utama Primaya Hospital Group, Leona A. Karnali mengungkapkan bahwa rumah sakit ini menargetkan kehadiran ekspansi 30 cabang baru dalam 5 tahun ke depan, terhitung dari tahun 2026.

Beberapa kota besar yang masuk dalam rencana pengembangan antara lain Jakarta, Bandung, hingga Surabaya. Di luar Pulau Jawa, Primaya juga menyiapkan ekspansi ke Medan dan Makassar yang saat ini masih berada dalam tahap pengembangan.

"Jadi kami tidak melulu di Jawa. Primaya sendiri dimulai dari pinggiran Jakarta. Kami justru baru mulai masuk ke Jakarta," ungkap Leona.

Secara keseluruhan, jaringan Primaya kini memiliki 20 rumah sakit. Dalam peta jalan perusahaan, manajemen menargetkan jumlah tersebut meningkat menjadi 30 rumah sakit dalam empat hingga lima tahun mendatang.

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH