FITNESS & HEALTH

AstraZeneca Dorong Layanan Navigasi Pasien untuk Percepat Pengobatan Kanker Paru

Elang Riki Yanuar
Selasa 18 Agustus 2026 / 17:00
Ringkasnya gini..
  • AstraZeneca mendorong penguatan patient navigation untuk mempercepat diagnosis, rujukan, dan pengobatan pasien kanker paru di Indonesia.
  • Layanan navigasi pasien dinilai dapat memangkas hambatan pengobatan kanker paru, termasuk informasi, administrasi, transportasi, biaya, dan koordinasi layanan.
  • Penguatan patient navigation membutuhkan kolaborasi pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, akademisi, pasien, dan sektor swasta.
Jakarta: Tantangan dalam penanganan kanker paru di Indonesia tidak hanya berkaitan dengan penyakit yang dihadapi pasien. Proses panjang untuk mendapatkan diagnosis, rujukan, hingga pengobatan juga menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian.

Momentum Hari Kanker Paru Sedunia menjadi kesempatan untuk kembali menyoroti pentingnya sistem layanan kesehatan yang mampu membantu pasien melewati setiap tahapan pengobatan secara lebih terkoordinasi. AstraZeneca Indonesia mendorong penguatan ekosistem layanan navigasi pasien atau patient navigation sebagai salah satu pendekatan yang dapat mendukung kebutuhan tersebut.

Kanker paru masih menjadi salah satu jenis kanker dengan beban penyakit terbesar secara global. Berdasarkan data GLOBOCAN 2022, terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker paru atau 12,4 persen dari seluruh kasus kanker. Penyakit ini juga berkontribusi terhadap 18,7 persen dari total kematian akibat kanker pada 2022.

Di Indonesia, kanker paru termasuk kanker dengan angka kematian yang tinggi. Kondisi tersebut memperkuat kebutuhan terhadap layanan kesehatan yang dapat mendukung deteksi lebih dini, mempercepat proses diagnosis, serta membantu pasien memperoleh penanganan sesuai kebutuhan tanpa hambatan yang tidak perlu.

Layanan navigasi pasien dirancang untuk mendampingi pasien, keluarga, dan caregiver selama menjalani rangkaian layanan kanker. Pendampingan tersebut dapat mencakup proses skrining, diagnosis, rujukan, pengobatan, hingga tindak lanjut setelah terapi.

Dalam praktiknya, pasien kanker dapat menghadapi berbagai kendala ketika menjalani pengobatan. Hambatan tersebut dapat berupa keterbatasan informasi, prosedur administrasi, masalah transportasi, persoalan biaya, hingga kebutuhan dukungan psikologis.
Navigator pasien dapat membantu menghubungkan berbagai kebutuhan tersebut dengan layanan kesehatan yang sesuai. Pendampingan juga dapat membantu pasien memahami hasil pemeriksaan, mengatur jadwal konsultasi dan kontrol, serta menjaga agar proses pengobatan tidak terhambat.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyebut patient navigation sebagai intervensi berbasis bukti yang dapat membantu pasien melewati sistem layanan kanker yang kompleks. Pendekatan ini terutama relevan dalam mendukung akses terhadap diagnosis dan pengobatan secara tepat waktu.

Pandangan tersebut sejalan dengan Consensus Statement: Patient Navigation: Improving Care and Outcomes in Lung Cancer yang dikeluarkan melalui inisiatif AstraZeneca. Dokumen tersebut menyoroti peran navigator pasien dalam membantu mempercepat koordinasi berbagai layanan yang diperlukan pasien kanker paru.

Pasien kanker paru dalam proses pengobatan dapat menjalani serangkaian pemeriksaan, rujukan, serta penjadwalan terapi di lebih dari satu fasilitas kesehatan. Salah satu studi yang dirangkum dalam dokumen tersebut menunjukkan bahwa keberadaan navigator pasien dikaitkan dengan pengurangan rata-rata hampir 20 hari dari temuan awal foto toraks hingga dimulainya pengobatan.

Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay mengatakan penguatan sistem kesehatan perlu melihat kemampuan layanan dalam menghubungkan setiap tahapan penanganan pasien.

“Ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat, teknologi, atau fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan sistem menghubungkan seluruh tahapan pelayanan secara efektif. Layanan navigasi pasien adalah mekanisme yang menjembatani kesenjangan tersebut," kata Esra Erkomay, Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia.

"Ketika pasien dapat bergerak lebih cepat dari deteksi, diagnosis, hingga pengobatan, manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga oleh sistem kesehatan melalui koordinasi yang lebih baik, penggunaan sumber daya yang lebih efisien, dan beban pembiayaan yang lebih terkendali,” lanjutnya.

Sejumlah negara telah mengembangkan patient navigation sebagai bagian dari sistem pelayanan kanker. Di Inggris, National Health Service atau NHS menempatkan Clinical Nurse Specialist sebagai salah satu titik kontak utama pasien, mulai dari diagnosis hingga tahap tindak lanjut.

Peran tersebut tidak hanya berkaitan dengan pendampingan pasien, tetapi juga koordinasi komunikasi antara dokter, perawat, laboratorium, serta layanan pendukung lainnya. Dengan mekanisme tersebut, pasien diharapkan dapat menjalani setiap tahapan layanan secara lebih terarah.

Sementara itu, di Amerika Serikat, program navigasi pasien telah menjadi bagian dari standar mutu rumah sakit kanker melalui Commission on Cancer. Rumah sakit yang terakreditasi diwajibkan memiliki mekanisme untuk mengidentifikasi hambatan yang dihadapi pasien sekaligus memastikan kesinambungan layanan dalam proses pengobatan.

Pengalaman dari berbagai negara tersebut menunjukkan bahwa patient navigation dapat ditempatkan sebagai bagian dari sistem layanan kanker, bukan sekadar fasilitas tambahan bagi pasien. Koordinasi yang lebih baik dapat membantu memperlancar perpindahan pasien antar layanan dan fasilitas kesehatan serta mendukung keberlanjutan proses terapi.

Indonesia juga dinilai membutuhkan pendekatan serupa dalam membangun layanan kanker yang semakin terintegrasi. Penguatan ekosistem navigasi pasien dapat menjadi bagian dari transformasi sistem kesehatan sekaligus investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas pelayanan kanker.

AstraZeneca menilai pengembangan layanan navigasi pasien di Indonesia membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, dan sektor swasta dinilai memiliki peran masing-masing dalam membangun sistem yang berkelanjutan.

“Layanan navigasi pasien tidak bisa berdiri sendiri. Agar benar-benar memberi dampak, kita membutuhkan komitmen jangka panjang, standar layanan yang jelas, dan dukungan kebijakan yang membuat layanan ini menjadi bagian dari sistem kesehatan, bukan hanya inisiatif sesaat. Ketika ketiga hal itu berjalan bersama, kita dapat membangun layanan kanker yang lebih terintegrasi dan berkelanjutan bagi pasien di seluruh Indonesia,” tutup Esra.







 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)

MOST SEARCH