FITNESS & HEALTH
Lari Bukan Sekadar Ngebut, Ini Cara Latihan yang Lebih Terukur
A. Firdaus
Sabtu 02 Mei 2026 / 11:40
- Latihan tanpa strategi bisa berujung pada overtraining.
- Selain fisik, faktor mental juga punya peran besar.
- Program ini dirancang untuk membantu pelari dari berbagai level mempersiapkan diri menuju Maybank Marathon 2026.
Jakarta: Olahraga lari sering dianggap sederhana, cukup pakai sepatu, keluar rumah, lalu berlari. Namun di balik itu, lari sejatinya adalah olahraga yang sangat terukur.
Setiap performa bisa menjadi acuan latihan. Misalnya, jika seseorang menyelesaikan 5K dalam 25 menit, angka tersebut bisa digunakan untuk menentukan easy run, tempo run, hingga interval training. Dengan pendekatan ini, latihan jadi lebih terarah.
"Sayangnya, masih banyak pelari yang mengabaikan hal ini. Tidak sedikit yang berlari terlalu cepat di setiap sesi, bahkan saat seharusnya berada di fase easy effort. Akibatnya, manajemen kelelahan (fatigue management) menjadi tidak optimal," ujar Coach Aditya Madya Pamungkas (Dodit), AR Jakarta Running Coach dalam peluncuran Maybank Marathon 2026.
Latihan tanpa strategi bisa berujung pada overtraining. Alih-alih meningkatkan performa, kondisi ini justru memicu kelelahan berlebih, meningkatkan risiko cedera, hingga menurunkan daya tahan tubuh.
"Padahal, hal ini bisa dihindari dengan memahami batas kemampuan diri melalui tes performa, lalu membaginya ke dalam zona latihan yang tepat," kata Coach Dodit.
"Dengan begitu, setiap sesi punya tujuan jelas, kapan harus santai, kapan harus mendorong batas," sambungnya.
Dalam latihan lari, mengenali zona sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara performa dan pemulihan. Pelari idealnya memahami:
- Pace untuk easy run.
- Pace untuk tempo run.
- Pace untuk interval training.
Pendekatan ini membantu latihan menjadi lebih efektif, sekaligus meminimalkan risiko kelelahan berlebih.
Selain fisik, faktor mental juga punya peran besar. Rasa percaya diri, mood, hingga persiapan kecil seperti outfit atau penampilan bisa ikut memengaruhi performa saat lomba.
"Karena pada akhirnya, lari bukan hanya soal fisik, tapi juga kesiapan diri secara menyeluruh," terang Coach Dodit.
Pendekatan latihan yang terukur ini menjadi semakin penting saat pelari bersiap mengikuti lomba. Sebab, berlari di race day bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga bagaimana tubuh mampu bertahan hingga garis finis dengan aman.
"Di sinilah pentingnya persiapan yang menyeluruh, mulai dari strategi latihan, pengaturan nutrisi, hingga adaptasi terhadap kondisi lintasan," ucap Coach Dodit.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Maybank Indonesia menghadirkan program Road to Maybank Marathon 2026 sebagai wadah persiapan terintegrasi bagi para pelari.
Program ini dirancang untuk membantu pelari dari berbagai level mempersiapkan diri menuju Maybank Marathon 2026 yang akan digelar pada 23 Agustus 2026 di Bali United Training Center, Gianyar, Bali.

Kick off Road to Maybank Marathon 2026. Dok. Ist
Mengusung semangat Train Smart, Race Safe, Finish Strong, program ini tidak hanya menekankan pentingnya latihan yang tepat, tetapi juga edukasi, strategi nutrisi, hingga keselamatan saat berlari.
Rangkaian programnya pun cukup komprehensif, mulai dari coaching clinics, long run, strength training, hill training, hingga heat adaptation. Seluruh sesi ini dirancang agar pelari dapat berlatih secara aman dan efektif, sekaligus siap menghadapi tantangan lintasan.
Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan, menekankan bahwa kondisi lintasan di Bali memiliki tantangan tersendiri, seperti elevasi dan kelembapan yang tinggi.
"Karena itu, persiapan yang matang menjadi kunci agar pelari dapat tampil optimal tanpa mengorbankan keselamatan," ucap Bambang.
Pada akhirnya, baik dalam latihan maupun saat lomba, kunci utama bukanlah berlari secepat mungkin, melainkan berlari dengan strategi.
Dengan memahami ritme tubuh, menjaga keseimbangan antara latihan dan pemulihan, serta didukung program persiapan yang tepat, pelari bisa mencapai performa terbaiknya—tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Karena dalam lari, yang terpenting bukan hanya cepat sampai finis, tapi juga bagaimana bisa sampai dengan kuat dan aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Setiap performa bisa menjadi acuan latihan. Misalnya, jika seseorang menyelesaikan 5K dalam 25 menit, angka tersebut bisa digunakan untuk menentukan easy run, tempo run, hingga interval training. Dengan pendekatan ini, latihan jadi lebih terarah.
"Sayangnya, masih banyak pelari yang mengabaikan hal ini. Tidak sedikit yang berlari terlalu cepat di setiap sesi, bahkan saat seharusnya berada di fase easy effort. Akibatnya, manajemen kelelahan (fatigue management) menjadi tidak optimal," ujar Coach Aditya Madya Pamungkas (Dodit), AR Jakarta Running Coach dalam peluncuran Maybank Marathon 2026.
Risiko overtraining yang sering terjadi
Latihan tanpa strategi bisa berujung pada overtraining. Alih-alih meningkatkan performa, kondisi ini justru memicu kelelahan berlebih, meningkatkan risiko cedera, hingga menurunkan daya tahan tubuh.
"Padahal, hal ini bisa dihindari dengan memahami batas kemampuan diri melalui tes performa, lalu membaginya ke dalam zona latihan yang tepat," kata Coach Dodit.
"Dengan begitu, setiap sesi punya tujuan jelas, kapan harus santai, kapan harus mendorong batas," sambungnya.
Zona latihan jadi kunci
Dalam latihan lari, mengenali zona sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara performa dan pemulihan. Pelari idealnya memahami:
- Pace untuk easy run.
- Pace untuk tempo run.
- Pace untuk interval training.
Pendekatan ini membantu latihan menjadi lebih efektif, sekaligus meminimalkan risiko kelelahan berlebih.
Mental dan persiapan juga berpengaruh
Selain fisik, faktor mental juga punya peran besar. Rasa percaya diri, mood, hingga persiapan kecil seperti outfit atau penampilan bisa ikut memengaruhi performa saat lomba.
"Karena pada akhirnya, lari bukan hanya soal fisik, tapi juga kesiapan diri secara menyeluruh," terang Coach Dodit.
Dari latihan ke Race Day: Perlu persiapan yang lebih matang
Pendekatan latihan yang terukur ini menjadi semakin penting saat pelari bersiap mengikuti lomba. Sebab, berlari di race day bukan hanya soal kecepatan, tetapi juga bagaimana tubuh mampu bertahan hingga garis finis dengan aman.
"Di sinilah pentingnya persiapan yang menyeluruh, mulai dari strategi latihan, pengaturan nutrisi, hingga adaptasi terhadap kondisi lintasan," ucap Coach Dodit.
Sejalan dengan kebutuhan tersebut, Maybank Indonesia menghadirkan program Road to Maybank Marathon 2026 sebagai wadah persiapan terintegrasi bagi para pelari.
Program ini dirancang untuk membantu pelari dari berbagai level mempersiapkan diri menuju Maybank Marathon 2026 yang akan digelar pada 23 Agustus 2026 di Bali United Training Center, Gianyar, Bali.

Kick off Road to Maybank Marathon 2026. Dok. Ist
Mengusung semangat Train Smart, Race Safe, Finish Strong, program ini tidak hanya menekankan pentingnya latihan yang tepat, tetapi juga edukasi, strategi nutrisi, hingga keselamatan saat berlari.
Rangkaian programnya pun cukup komprehensif, mulai dari coaching clinics, long run, strength training, hill training, hingga heat adaptation. Seluruh sesi ini dirancang agar pelari dapat berlatih secara aman dan efektif, sekaligus siap menghadapi tantangan lintasan.
Project Director Maybank Marathon, Bambang Irawan, menekankan bahwa kondisi lintasan di Bali memiliki tantangan tersendiri, seperti elevasi dan kelembapan yang tinggi.
"Karena itu, persiapan yang matang menjadi kunci agar pelari dapat tampil optimal tanpa mengorbankan keselamatan," ucap Bambang.
Lari lebih cerdas, hasil lebih maksimal
Pada akhirnya, baik dalam latihan maupun saat lomba, kunci utama bukanlah berlari secepat mungkin, melainkan berlari dengan strategi.
Dengan memahami ritme tubuh, menjaga keseimbangan antara latihan dan pemulihan, serta didukung program persiapan yang tepat, pelari bisa mencapai performa terbaiknya—tanpa harus mengorbankan kesehatan.
Karena dalam lari, yang terpenting bukan hanya cepat sampai finis, tapi juga bagaimana bisa sampai dengan kuat dan aman.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)