FITNESS & HEALTH
Prosedur TPVI: Alternatif Pengganti Katup Jantung Tanpa Operasi Terbuka
Aulia Putriningtias
Kamis 22 Oktober 2026 / 20:00
- Masalah kesehatan jantung masih terus melingkupi warga Indonesia.
- Ada kabar baik perihal operasi jantung, yaitu kehadiran prosedur TPVI.
- Prosedur ini memungkinkan penggantian katup pulmonal melalui pembuluh darah menggunakan kateter, tanpa harus operasi terbuka.
Jakarta: Masalah kesehatan jantung masih terus melingkupi warga Indonesia. Ada kabar baik perihal operasi jantung, yaitu kehadiran prosedur TPVI. Apa itu?
Penanganan penyakit jantung, khususnya pada pasien dengan riwayat kelainan jantung bawaan dan operasi sebelumnya, membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Salah satu prosedur yang kini menjadi alternatif dalam penanganan gangguan katup jantung pulmonal adalah Transcatheter Pulmonary Valve Implantation (TPVI).
Prosedur ini memungkinkan penggantian katup pulmonal melalui pembuluh darah menggunakan kateter, tanpa harus membuka rongga dada seperti pada operasi jantung terbuka. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pilihan bagi pasien yang memenuhi kriteria klinis dan anatomi tertentu.
Heartology Cardiovascular Hospital menerapkan prosedur TPVI pada seorang pasien perempuan berusia 25 tahun dengan riwayat kelainan jantung bawaan Tetralogy of Fallot (ToF). Tindakan ini menjadi salah satu upaya penanganan gangguan katup pulmonal pada pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi jantung.
Transcatheter Pulmonary Valve Implantation atau TPVI merupakan prosedur penggantian katup pulmonal dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung. Katup buatan kemudian ditempatkan pada posisi yang telah ditentukan berdasarkan hasil evaluasi anatomi jantung dan kebutuhan klinis pasien.
Berbeda dengan operasi jantung terbuka yang memerlukan pembukaan rongga dada, prosedur TPVI menggunakan pendekatan transkateter. Dengan demikian, pada pasien yang memenuhi kriteria, tindakan ini berpotensi mengurangi trauma pembedahan dan mendukung proses pemulihan yang lebih cepat.
Meski demikian, TPVI tidak dapat diterapkan pada semua pasien. Kelayakannya bergantung pada kondisi klinis, struktur dan anatomi jantung, kondisi katup, serta hasil pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Menurut Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Interventional Cardiologist dan Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, keberhasilan TPVI tidak hanya ditentukan oleh pemasangan katup baru, tetapi juga oleh perencanaan tindakan yang matang.
Hal ini mencakup evaluasi anatomi jantung, pemilihan perangkat katup yang sesuai, hingga penilaian hasil pemasangan. Terlebih pada pasien yang memiliki riwayat operasi jantung sebelumnya, setiap kondisi memiliki karakteristik dan tantangan klinis yang berbeda.
Sebelum menjalani TPVI, pasien membutuhkan evaluasi menyeluruh untuk memastikan kesesuaian kondisi jantung dengan prosedur yang akan dilakukan.
Salah satu pemeriksaan yang berperan dalam tindakan ini adalah transesophageal echocardiography (TEE). Pemeriksaan tersebut membantu dokter memperoleh gambaran struktur jantung secara lebih detail, termasuk kondisi dan fungsi katup.
Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), Consultant Cardiologist dan Echocardiologist Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan bahwa evaluasi struktur dan fungsi jantung menjadi bagian penting dalam tindakan kompleks seperti TPVI.
Informasi dari pemeriksaan ekokardiografi membantu tim medis memahami kondisi katup sekaligus menilai hasil tindakan sesuai kebutuhan klinis pasien.
Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada pemasangan katup baru, tetapi juga memastikan seluruh proses dilakukan berdasarkan kondisi anatomi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Salah satu pasien yang menjalani prosedur TPVI di Heartology Cardiovascular Hospital memiliki riwayat ToF, yaitu kelainan jantung bawaan yang memengaruhi struktur jantung dan aliran darah.
Pasien tersebut telah menjalani operasi koreksi ToF ketika berusia satu tahun empat bulan. Pada usia 19 tahun, ia juga menjalani pemasangan implantable cardioverter-defibrillator (ICD). Namun, ketika berusia 24 tahun, pasien kembali mengalami insufisiensi katup pulmonal atau kebocoran pada katup pulmonal.
Kondisi ini menyebabkan sebagian darah yang seharusnya mengalir dari bilik kanan jantung menuju paru-paru kembali mengalir ke bilik kanan. Jika kebocoran berlangsung signifikan, beban kerja jantung dapat meningkat dan berpotensi memengaruhi fungsi bilik kanan.
Menurut dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Consultant of Pediatric Cardiology & Congenital Heart Disease Heartology Cardiovascular Hospital, pasien dengan riwayat ToF tetap membutuhkan pemantauan jangka panjang meskipun telah menjalani operasi koreksi kelainan jantung bawaan.
Pada pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi jantung terbuka, keputusan untuk melakukan operasi ulang juga memerlukan pertimbangan klinis yang cermat. Risiko perdarahan dan komplikasi selama prosedur menjadi beberapa hal yang perlu diperhitungkan.
Dalam kasus tersebut, tim medis Heartology memilih pendekatan transkateter melalui TPVI setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien. Prosedur ini memungkinkan penggantian katup pulmonal tanpa harus kembali menjalani operasi jantung terbuka.
Pengembangan prosedur ini menjadi bagian dari upaya Heartology dalam memperkuat layanan penanganan penyakit kardiovaskular, termasuk kasus yang membutuhkan pendekatan medis khusus.
Meski menawarkan alternatif penggantian katup tanpa operasi jantung terbuka, TPVI tetap membutuhkan seleksi pasien dan perencanaan yang cermat. Setiap keputusan tindakan harus didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kondisi klinis, anatomi jantung, serta pertimbangan manfaat dan risiko bagi pasien.
(TIN)
Penanganan penyakit jantung, khususnya pada pasien dengan riwayat kelainan jantung bawaan dan operasi sebelumnya, membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.
Salah satu prosedur yang kini menjadi alternatif dalam penanganan gangguan katup jantung pulmonal adalah Transcatheter Pulmonary Valve Implantation (TPVI).
Prosedur ini memungkinkan penggantian katup pulmonal melalui pembuluh darah menggunakan kateter, tanpa harus membuka rongga dada seperti pada operasi jantung terbuka. Pendekatan tersebut menjadi salah satu pilihan bagi pasien yang memenuhi kriteria klinis dan anatomi tertentu.
Heartology Cardiovascular Hospital menerapkan prosedur TPVI pada seorang pasien perempuan berusia 25 tahun dengan riwayat kelainan jantung bawaan Tetralogy of Fallot (ToF). Tindakan ini menjadi salah satu upaya penanganan gangguan katup pulmonal pada pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi jantung.
Bagaimana TPVI bekerja?
Transcatheter Pulmonary Valve Implantation atau TPVI merupakan prosedur penggantian katup pulmonal dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah menuju jantung. Katup buatan kemudian ditempatkan pada posisi yang telah ditentukan berdasarkan hasil evaluasi anatomi jantung dan kebutuhan klinis pasien.
Berbeda dengan operasi jantung terbuka yang memerlukan pembukaan rongga dada, prosedur TPVI menggunakan pendekatan transkateter. Dengan demikian, pada pasien yang memenuhi kriteria, tindakan ini berpotensi mengurangi trauma pembedahan dan mendukung proses pemulihan yang lebih cepat.
Meski demikian, TPVI tidak dapat diterapkan pada semua pasien. Kelayakannya bergantung pada kondisi klinis, struktur dan anatomi jantung, kondisi katup, serta hasil pemeriksaan medis secara menyeluruh.
Menurut Dr. dr. Faris Basalamah, Sp.JP(K), Interventional Cardiologist dan Electrophysiologist Heartology Cardiovascular Hospital, keberhasilan TPVI tidak hanya ditentukan oleh pemasangan katup baru, tetapi juga oleh perencanaan tindakan yang matang.
Hal ini mencakup evaluasi anatomi jantung, pemilihan perangkat katup yang sesuai, hingga penilaian hasil pemasangan. Terlebih pada pasien yang memiliki riwayat operasi jantung sebelumnya, setiap kondisi memiliki karakteristik dan tantangan klinis yang berbeda.
Bagaimana prosedur melakukan TPVI?
Sebelum menjalani TPVI, pasien membutuhkan evaluasi menyeluruh untuk memastikan kesesuaian kondisi jantung dengan prosedur yang akan dilakukan.
Salah satu pemeriksaan yang berperan dalam tindakan ini adalah transesophageal echocardiography (TEE). Pemeriksaan tersebut membantu dokter memperoleh gambaran struktur jantung secara lebih detail, termasuk kondisi dan fungsi katup.
Dr. BRM Ario Soeryo Kuncoro, Sp.JP(K), Consultant Cardiologist dan Echocardiologist Heartology Cardiovascular Hospital, menjelaskan bahwa evaluasi struktur dan fungsi jantung menjadi bagian penting dalam tindakan kompleks seperti TPVI.
Informasi dari pemeriksaan ekokardiografi membantu tim medis memahami kondisi katup sekaligus menilai hasil tindakan sesuai kebutuhan klinis pasien.
Dengan demikian, penanganan tidak hanya berfokus pada pemasangan katup baru, tetapi juga memastikan seluruh proses dilakukan berdasarkan kondisi anatomi dan kebutuhan masing-masing pasien.
Salah satu pasien yang menjalani prosedur TPVI di Heartology Cardiovascular Hospital memiliki riwayat ToF, yaitu kelainan jantung bawaan yang memengaruhi struktur jantung dan aliran darah.
Pasien tersebut telah menjalani operasi koreksi ToF ketika berusia satu tahun empat bulan. Pada usia 19 tahun, ia juga menjalani pemasangan implantable cardioverter-defibrillator (ICD). Namun, ketika berusia 24 tahun, pasien kembali mengalami insufisiensi katup pulmonal atau kebocoran pada katup pulmonal.
Kondisi ini menyebabkan sebagian darah yang seharusnya mengalir dari bilik kanan jantung menuju paru-paru kembali mengalir ke bilik kanan. Jika kebocoran berlangsung signifikan, beban kerja jantung dapat meningkat dan berpotensi memengaruhi fungsi bilik kanan.
Menurut dr. Radityo Prakoso, Sp.JP(K), Consultant of Pediatric Cardiology & Congenital Heart Disease Heartology Cardiovascular Hospital, pasien dengan riwayat ToF tetap membutuhkan pemantauan jangka panjang meskipun telah menjalani operasi koreksi kelainan jantung bawaan.
Pada pasien yang sebelumnya telah menjalani operasi jantung terbuka, keputusan untuk melakukan operasi ulang juga memerlukan pertimbangan klinis yang cermat. Risiko perdarahan dan komplikasi selama prosedur menjadi beberapa hal yang perlu diperhitungkan.
Dalam kasus tersebut, tim medis Heartology memilih pendekatan transkateter melalui TPVI setelah melakukan evaluasi terhadap kondisi pasien. Prosedur ini memungkinkan penggantian katup pulmonal tanpa harus kembali menjalani operasi jantung terbuka.
Pengembangan prosedur ini menjadi bagian dari upaya Heartology dalam memperkuat layanan penanganan penyakit kardiovaskular, termasuk kasus yang membutuhkan pendekatan medis khusus.
Meski menawarkan alternatif penggantian katup tanpa operasi jantung terbuka, TPVI tetap membutuhkan seleksi pasien dan perencanaan yang cermat. Setiap keputusan tindakan harus didasarkan pada evaluasi menyeluruh terhadap kondisi klinis, anatomi jantung, serta pertimbangan manfaat dan risiko bagi pasien.
(TIN)