FITNESS & HEALTH

Pentingnya Pengambilan Keputusan Tepat dalam Menangani Masalah Kardiovaskular

Aulia Putriningtias
Sabtu 31 Oktober 2026 / 14:35
Ringkasnya gini..
  • Permasalahan kesehatan kardiovaskular terus hadir di Indonesia.
  • Perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular yang semakin pesat menghadirkan lebih banyak pilihan dalam diagnosis maupun terapi penyakit jantung.
  • Di tengah teknologi yang pesat, pentingnya pengambilan keputusan medis yang tepat.

Jakarta: Permasalahan kesehatan kardiovaskular terus hadir di Indonesia. Di tengah teknologi yang pesat, pentingnya pengambilan keputusan medis yang tepat.
 

Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi sebesar 30,8 persen pada penduduk usia ≥18 tahun berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah. Sementara itu, hanya 8,6 persen yang pernah didiagnosis oleh dokter. 

 

 

Di tingkat layanan, Kementerian Kesehatan juga mencatat estimasi hampir 700.000 serangan jantung per tahun di Indonesia dan mempertanyakan seberapa besar pasien penyakit jantung koroner telah mendapatkan pelayanan sesuai pedoman praktik klinis yang baik.
 

Perkembangan ilmu dan teknologi kardiovaskular yang semakin pesat menghadirkan lebih banyak pilihan dalam diagnosis maupun terapi penyakit jantung. Namun, banyaknya pilihan tersebut juga menghadirkan tantangan baru bagi tenaga medis.
 

Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan layanan kardiovaskular bukan hanya menghadirkan teknologi dan ilmu terbaru. Namun, juga memastikan pengetahuan tersebut dapat diterjemahkan menjadi clinical decision yang tepat.
 

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Heartology Cardiovascular Hospital kembali menyelenggarakan CARES (Cardiac & Vascular Excellence Scientific Update) 2026 dengan tema “The Clinical Crossroads: Decoding Challenges in Modern Cardiovascular Care.” Sabtu, 31 Oktober 2026.

 

GEMBIRA_20261102_004023_0000


 

Menurut dr. Emanuel Oepangat, Sp.JP(K), Ketua CARES 2026, saat ini mereka memiliki semakin banyak pilihan dalam mendiagnosis dan menangani penyakit kardiovaskular. perkembangan teknologi perlu berjalan seiring dengan kemampuan tenaga medis dalam menerjemahkannya menjadi keputusan klinis. 
 

"Melalui CARES 2026, kami ingin menghadirkan ruang diskusi yang tidak hanya membahas perkembangan ilmu, tetapi juga bagaimana ilmu tersebut diterapkan dalam pengambilan keputusan klinis," ujar dr. Emanuel.
 

Menurut dr. Ridwan Tjahjadi Lembong, MM, MMRS, MBA, Presiden Direktur Heartology Cardiovascular Hospital, pengembangan layanan kardiovaskular tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi dan pengetahuan terbaru. Namun, juga membutuhkan kolaborasi serta kemampuan tenaga medis untuk menentukan langkah terbaik bagi setiap pasien.
 

Kemajuan ilmu dan teknologi kardiovaskular membuka semakin banyak kemungkinan dalam penanganan pasien. Namun, nilai dari setiap kemajuan tersebut ditentukan oleh bagaimana kita menggunakannya secara tepat dengan mempertimbangkan bukti ilmiah, kondisi individual pasien, serta diskusi lintas disiplin," jelasnya.
 

Ia melanjutkan, melalui forum ini, Heartology ingin mendorong ruang belajar dan bertukar pengalaman yang membantu tenaga medis mengambil keputusan klinis secara lebih terarah, sekaligus memperkuat kolaborasi untuk meningkatkan kualitas layanan kardiovaskular di Indonesia.
 

Selain itu, harapannya adalah pertukaran pengetahuan dan pengalaman antarprofesi dapat membantu memperkecil kesenjangan antara perkembangan ilmu dengan penerapannya di lapangan, sekaligus memperkuat jejaring layanan kardiovaskular di Indonesia.
 

Forum ini sendiri membahas tiga area klinis, yaitu Valvular Heart Disease melalui tema “The Valve at the Crossroads: From Diagnosis to Definitive Intervention,” Chronic Venous Disease dengan tema “Uncovering Venous Disease: Recognising and Managing Chronic Venous Disease,”.
 

Selain itu, ada Atrial Fibrillation melalui pendekatan berbasis kasus dalam “Beyond the Irregular Beat: A Case-Based Journey Through Atrial Fibrillation.”



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(TIN)

MOST SEARCH