FITNESS & HEALTH
WHO: Self-Care Jadi Kunci Perluas Akses Layanan Kesehatan
A. Firdaus
Sabtu 31 Oktober 2026 / 10:30
- WHO menilai self-care penting untuk memperluas akses kesehatan global.
- WHO mencatat sekitar 4,6 miliar orang belum memiliki akses terhadap layanan kesehatan esensial.
- Dunia juga diproyeksikan kekurangan 10 juta hingga 15 juta tenaga kesehatan.
Bali: Perawatan diri atau self-care dinilai semakin penting dalam memperluas akses layanan kesehatan di tengah berbagai tantangan sistem kesehatan global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, keterlibatan masyarakat dalam menjaga kesehatannya sendiri perlu diperkuat, tetapi tetap harus terhubung dengan layanan medis formal.
Hal tersebut disampaikan perwakilan WHO, Manjula Narasimhan, dalam forum APSMI Summit 2026 di Bali, Jumat 30 Oktober 2026. Ia menjelaskan, sistem kesehatan dunia menghadapi tantangan mulai dari perubahan iklim, penuaan populasi, migrasi, ancaman pandemi, resistensi antimikroba, hingga krisis kemanusiaan.
Kesenjangan akses juga masih besar. WHO mencatat sekitar 4,6 miliar orang belum memiliki akses terhadap layanan kesehatan esensial, sementara 2,1 miliar orang menghadapi kesulitan keuangan serius untuk memperoleh layanan kesehatan. Dunia juga diproyeksikan kekurangan 10 juta hingga 15 juta tenaga kesehatan. Selain itu, hampir 50 persen fasilitas kesehatan belum memiliki layanan kebersihan dasar.
"Jadi, benar-benar perlu ada cara untuk memikirkan kembali bagaimana kita melakukannya secara berbeda," ujar Manjula.
Menurut Manjula, self-care bukan konsep baru. Masyarakat telah lama melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesehatan secara mandiri. Namun, pendekatan ini perlu mendapat perhatian lebih besar sebagai bagian dari sistem kesehatan modern.
WHO mulai mengembangkan pedoman global mengenai perawatan diri sejak 2018. Pedoman tersebut mendorong sistem kesehatan yang lebih berpusat pada manusia, mengutamakan pencegahan, serta menghubungkan individu dengan layanan yang sesuai kebutuhannya.
Meski demikian, self-care bukan pengganti tenaga medis. Pendekatan ini harus melengkapi layanan kesehatan, bukan membuat masyarakat terpaksa menangani masalah kesehatan sendiri karena tidak memiliki akses ke fasilitas medis.
"Perawatan diri ini komplementer terhadap perawatan kesehatan yang ada," jelasnya.
Manjula mencontohkan peran self-care dalam mendukung target eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90. Target tersebut mencakup 90 persen anak perempuan mendapatkan vaksinasi HPV, 70 persen perempuan menjalani skrining, dan 90 persen perempuan yang terdiagnosis mendapatkan pengobatan.
Salah satu cara memperluas skrining adalah melalui HPV self-sampling atau pengambilan sampel HPV secara mandiri. Metode ini dapat membantu menjangkau perempuan yang menghadapi hambatan untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Ia juga menyoroti endometriosis yang diperkirakan memengaruhi 10 persen atau lebih perempuan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, pendidikan, pekerjaan, serta hubungan sosial. Karena itu, dukungan bagi perempuan dengan endometriosis perlu mencakup edukasi, kesehatan mental, dukungan komunitas, dan pendampingan berkelanjutan.
WHO juga melihat teknologi digital seperti telemedicine, telehealth, dan aplikasi kesehatan berpotensi memperluas akses informasi serta layanan. Namun, Manjula mengingatkan bahwa kemajuan digital tidak otomatis membuat akses kesehatan lebih merata.
"Jangkauan digital bukanlah sinonim untuk akses yang adil," tegasnya.
Sebagai contoh, WHO mengembangkan Self-Care Wheel dalam format digital dan cetak agar informasi kesehatan tetap dapat diakses masyarakat yang belum memiliki perangkat atau koneksi digital.
Selain akses informasi, kualitas produk kesehatan juga harus diperhatikan. Manjula menyebut WHO memperkirakan satu dari 10 obat di negara berpendapatan rendah dan menengah merupakan produk di bawah standar atau palsu.
Karena itu, pengawasan terhadap obat dan produk kesehatan yang beredar melalui apotek, toko ritel, platform daring, maupun distribusi komunitas menjadi penting. Produk yang digunakan untuk perawatan mandiri harus memenuhi standar keamanan dan kualitas. Penggunaan produk yang tidak tepat juga berisiko, termasuk memicu resistensi antimikroba.
Manjula menegaskan, penguatan self-care merupakan bagian penting dalam mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC). Upaya ini membutuhkan ketersediaan obat dan produk kesehatan dengan harga terjangkau, penguatan layanan digital, serta pelayanan yang berpusat pada kebutuhan masyarakat.
WHO juga mendorong penghapusan hambatan sosial, gender, dan budaya yang membuat sebagian kelompok kesulitan memperoleh layanan kesehatan berkualitas.
Menurut Manjula, pemerintah, tenaga kesehatan, regulator, industri, dan masyarakat perlu bekerja sama agar perawatan diri dapat diterapkan secara aman, inklusif, dan berbasis bukti.
"Perawatan diri menciptakan jembatan penting di antara kita semua dan pekerjaan yang kita lakukan," tuturnya.
(FIR)
Hal tersebut disampaikan perwakilan WHO, Manjula Narasimhan, dalam forum APSMI Summit 2026 di Bali, Jumat 30 Oktober 2026. Ia menjelaskan, sistem kesehatan dunia menghadapi tantangan mulai dari perubahan iklim, penuaan populasi, migrasi, ancaman pandemi, resistensi antimikroba, hingga krisis kemanusiaan.
Kesenjangan akses juga masih besar. WHO mencatat sekitar 4,6 miliar orang belum memiliki akses terhadap layanan kesehatan esensial, sementara 2,1 miliar orang menghadapi kesulitan keuangan serius untuk memperoleh layanan kesehatan. Dunia juga diproyeksikan kekurangan 10 juta hingga 15 juta tenaga kesehatan. Selain itu, hampir 50 persen fasilitas kesehatan belum memiliki layanan kebersihan dasar.
"Jadi, benar-benar perlu ada cara untuk memikirkan kembali bagaimana kita melakukannya secara berbeda," ujar Manjula.
Self-Care Harus Melengkapi Layanan Medis
Menurut Manjula, self-care bukan konsep baru. Masyarakat telah lama melakukan berbagai upaya untuk menjaga kesehatan secara mandiri. Namun, pendekatan ini perlu mendapat perhatian lebih besar sebagai bagian dari sistem kesehatan modern.
WHO mulai mengembangkan pedoman global mengenai perawatan diri sejak 2018. Pedoman tersebut mendorong sistem kesehatan yang lebih berpusat pada manusia, mengutamakan pencegahan, serta menghubungkan individu dengan layanan yang sesuai kebutuhannya.
Meski demikian, self-care bukan pengganti tenaga medis. Pendekatan ini harus melengkapi layanan kesehatan, bukan membuat masyarakat terpaksa menangani masalah kesehatan sendiri karena tidak memiliki akses ke fasilitas medis.
"Perawatan diri ini komplementer terhadap perawatan kesehatan yang ada," jelasnya.
Manjula mencontohkan peran self-care dalam mendukung target eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90. Target tersebut mencakup 90 persen anak perempuan mendapatkan vaksinasi HPV, 70 persen perempuan menjalani skrining, dan 90 persen perempuan yang terdiagnosis mendapatkan pengobatan.
Salah satu cara memperluas skrining adalah melalui HPV self-sampling atau pengambilan sampel HPV secara mandiri. Metode ini dapat membantu menjangkau perempuan yang menghadapi hambatan untuk datang ke fasilitas kesehatan.
Ia juga menyoroti endometriosis yang diperkirakan memengaruhi 10 persen atau lebih perempuan. Kondisi ini dapat berdampak pada kesehatan fisik dan mental, pendidikan, pekerjaan, serta hubungan sosial. Karena itu, dukungan bagi perempuan dengan endometriosis perlu mencakup edukasi, kesehatan mental, dukungan komunitas, dan pendampingan berkelanjutan.
Akses Digital dan Keamanan Produk Harus Dijaga
WHO juga melihat teknologi digital seperti telemedicine, telehealth, dan aplikasi kesehatan berpotensi memperluas akses informasi serta layanan. Namun, Manjula mengingatkan bahwa kemajuan digital tidak otomatis membuat akses kesehatan lebih merata.
"Jangkauan digital bukanlah sinonim untuk akses yang adil," tegasnya.
Sebagai contoh, WHO mengembangkan Self-Care Wheel dalam format digital dan cetak agar informasi kesehatan tetap dapat diakses masyarakat yang belum memiliki perangkat atau koneksi digital.
Selain akses informasi, kualitas produk kesehatan juga harus diperhatikan. Manjula menyebut WHO memperkirakan satu dari 10 obat di negara berpendapatan rendah dan menengah merupakan produk di bawah standar atau palsu.
Karena itu, pengawasan terhadap obat dan produk kesehatan yang beredar melalui apotek, toko ritel, platform daring, maupun distribusi komunitas menjadi penting. Produk yang digunakan untuk perawatan mandiri harus memenuhi standar keamanan dan kualitas. Penggunaan produk yang tidak tepat juga berisiko, termasuk memicu resistensi antimikroba.
Kolaborasi untuk Kesehatan yang Lebih Inklusif
Manjula menegaskan, penguatan self-care merupakan bagian penting dalam mencapai cakupan kesehatan semesta atau Universal Health Coverage (UHC). Upaya ini membutuhkan ketersediaan obat dan produk kesehatan dengan harga terjangkau, penguatan layanan digital, serta pelayanan yang berpusat pada kebutuhan masyarakat.
WHO juga mendorong penghapusan hambatan sosial, gender, dan budaya yang membuat sebagian kelompok kesulitan memperoleh layanan kesehatan berkualitas.
Menurut Manjula, pemerintah, tenaga kesehatan, regulator, industri, dan masyarakat perlu bekerja sama agar perawatan diri dapat diterapkan secara aman, inklusif, dan berbasis bukti.
"Perawatan diri menciptakan jembatan penting di antara kita semua dan pekerjaan yang kita lakukan," tuturnya.
(FIR)