FITNESS & HEALTH
Pernah Operasi Perut? Kenali Risiko Perlengketan Usus
A. Firdaus
Senin 26 Oktober 2026 / 21:10
- Perlengketan usus dapat terjadi setelah operasi perut dan tidak selalu membutuhkan operasi lanjutan.
- Perlengketan usus terjadi ketika jaringan parut membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ lain di sekitarnya.
- Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kondisi organ dan mencari kemungkinan komplikasi.
Jakarta: Operasi di area perut, seperti operasi usus buntu atau operasi caesar, dapat meninggalkan jaringan parut sebagai bagian dari proses penyembuhan. Dalam kondisi tertentu, jaringan tersebut bisa menyebabkan perlengketan antarorgan di dalam rongga perut atau dikenal sebagai adhesi.
Perlengketan usus tidak selalu menimbulkan gejala dan tidak semua pasien membutuhkan operasi lanjutan. Namun, pada kasus tertentu, kondisi ini dapat mengganggu pergerakan usus hingga menyebabkan komplikasi yang memerlukan penanganan medis.
Penanganan perlengketan usus menjadi lebih kompleks ketika kondisi tersebut melibatkan organ lain di sekitarnya, termasuk saluran kemih. Karena itu, evaluasi menyeluruh dan kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dapat diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Melalui Digestive Center dan Urology Nephrology Center, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan kolaborasi dokter spesialis bedah digestif dan urologi rekonstruksi untuk menangani kasus kompleks yang melibatkan usus dan saluran kemih.
Perlengketan usus terjadi ketika jaringan parut membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ lain di sekitarnya. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan operasi di rongga perut, tetapi juga dapat terjadi akibat peradangan atau infeksi.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, tidak semua perlengketan usus membutuhkan tindakan operasi.
“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pada kasus yang lebih kompleks, kolaborasi antar dokter spesialis menjadi penting untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat,” jelas dr. Eko.
Pada sebagian pasien, perlengketan dapat menimbulkan nyeri perut berulang, perut kembung, hingga gangguan pergerakan usus. Jika perlengketan menyebabkan sumbatan usus, pasien dapat mengalami nyeri perut hebat, muntah, perut membesar, serta kesulitan buang air besar atau buang angin.
Gejala tersebut perlu mendapat perhatian medis. Terutama jika nyeri terasa hebat, muntah berulang, atau perut semakin membesar, pasien perlu segera mencari pertolongan medis.
Pemeriksaan diperlukan untuk menilai penyebab keluhan, tingkat keparahan, dan kemungkinan komplikasi sebelum dokter menentukan langkah penanganan.
Penanganan perlengketan usus dapat menjadi lebih rumit apabila jaringan parut berada dekat atau melibatkan saluran kemih, khususnya ureter. Ureter merupakan saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Dalam kondisi tersebut, dokter perlu mempertimbangkan kondisi usus sekaligus menjaga fungsi organ lain yang berdekatan. Pelepasan jaringan yang melekat, misalnya, perlu direncanakan dengan cermat untuk mengurangi risiko cedera pada organ di sekitarnya.
Untuk menangani kasus kompleks seperti ini, dr. Eko berkolaborasi dengan dr. Donny Eka Putra, Sp.U., (K), Subsp. Trauma and Reconstructive Urology, Dokter Spesialis Urologi Konsultan Trauma dan Rekonstruksi Urogenital.
Dokter bedah digestif berperan mengevaluasi dan menangani gangguan pada usus, termasuk melepaskan perlengketan jika tindakan tersebut diperlukan. Sementara itu, dokter urologi rekonstruksi mengevaluasi keterlibatan saluran kemih serta melakukan perbaikan atau rekonstruksi apabila terdapat indikasi medis.
“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” ungkap dr. Donny.
Kolaborasi lintas spesialisasi ini memungkinkan perencanaan tindakan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, terutama ketika perlengketan melibatkan lebih dari satu organ.
Sebelum menentukan terapi, dokter akan mengevaluasi riwayat operasi, melakukan pemeriksaan fisik, dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti CT scan sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kondisi organ dan mencari kemungkinan komplikasi. Meski demikian, perlengketan tidak selalu dapat terlihat secara langsung pada pemeriksaan pencitraan. Pada sejumlah kasus, keberadaan dan tingkat perlengketan baru dapat dipastikan saat tindakan operasi dilakukan.
Tidak semua pasien memerlukan pembedahan. Jika tidak terdapat komplikasi yang mengharuskan operasi, dokter dapat mempertimbangkan penanganan konservatif dan pemantauan sesuai kondisi pasien.
Sebaliknya, apabila perlengketan menyebabkan sumbatan usus atau komplikasi lain, tindakan medis lebih lanjut mungkin diperlukan. Keputusan ini mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
Pengembangan layanan Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong menjadi bagian dari upaya menghadirkan penanganan kasus kompleks melalui kolaborasi dokter spesialis dan dukungan fasilitas diagnostik terintegrasi.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menyampaikan bahwa pendekatan multidisiplin merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang berpusat pada kebutuhan pasien.
“Bagi kami, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Melalui kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dan dukungan fasilitas medis yang terintegrasi, kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga dalam setiap proses perawatan,” ujar dr. Margareth.
Melalui pendekatan tersebut, penanganan perlengketan usus dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien, mulai dari evaluasi, penentuan terapi, hingga pemulihan. Kolaborasi dokter spesialis menjadi salah satu aspek penting, terutama ketika kondisi tersebut melibatkan usus dan saluran kemih sekaligus.
(FIR)
Perlengketan usus tidak selalu menimbulkan gejala dan tidak semua pasien membutuhkan operasi lanjutan. Namun, pada kasus tertentu, kondisi ini dapat mengganggu pergerakan usus hingga menyebabkan komplikasi yang memerlukan penanganan medis.
Penanganan perlengketan usus menjadi lebih kompleks ketika kondisi tersebut melibatkan organ lain di sekitarnya, termasuk saluran kemih. Karena itu, evaluasi menyeluruh dan kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dapat diperlukan untuk menentukan penanganan yang sesuai.
Melalui Digestive Center dan Urology Nephrology Center, Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan kolaborasi dokter spesialis bedah digestif dan urologi rekonstruksi untuk menangani kasus kompleks yang melibatkan usus dan saluran kemih.
Mengenal Perlengketan Usus dan Gejalanya
Perlengketan usus terjadi ketika jaringan parut membuat bagian usus menempel pada jaringan atau organ lain di sekitarnya. Kondisi ini paling sering berkaitan dengan operasi di rongga perut, tetapi juga dapat terjadi akibat peradangan atau infeksi.
Menurut Dokter Spesialis Bedah Digestif Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Eko Priatno, Sp.B-KBD, tidak semua perlengketan usus membutuhkan tindakan operasi.
“Perlengketan merupakan salah satu kondisi yang dapat ditemukan setelah operasi di area perut. Tidak semua pasien mengalami gangguan, sehingga penanganannya perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing. Pada kasus yang lebih kompleks, kolaborasi antar dokter spesialis menjadi penting untuk memastikan setiap organ yang terlibat mendapatkan penanganan yang tepat,” jelas dr. Eko.
Pada sebagian pasien, perlengketan dapat menimbulkan nyeri perut berulang, perut kembung, hingga gangguan pergerakan usus. Jika perlengketan menyebabkan sumbatan usus, pasien dapat mengalami nyeri perut hebat, muntah, perut membesar, serta kesulitan buang air besar atau buang angin.
Gejala tersebut perlu mendapat perhatian medis. Terutama jika nyeri terasa hebat, muntah berulang, atau perut semakin membesar, pasien perlu segera mencari pertolongan medis.
Pemeriksaan diperlukan untuk menilai penyebab keluhan, tingkat keparahan, dan kemungkinan komplikasi sebelum dokter menentukan langkah penanganan.
Mengapa Perlu Kolaborasi Bedah Digestif dan Urologi?
Penanganan perlengketan usus dapat menjadi lebih rumit apabila jaringan parut berada dekat atau melibatkan saluran kemih, khususnya ureter. Ureter merupakan saluran yang membawa urine dari ginjal menuju kandung kemih.
Dalam kondisi tersebut, dokter perlu mempertimbangkan kondisi usus sekaligus menjaga fungsi organ lain yang berdekatan. Pelepasan jaringan yang melekat, misalnya, perlu direncanakan dengan cermat untuk mengurangi risiko cedera pada organ di sekitarnya.
Untuk menangani kasus kompleks seperti ini, dr. Eko berkolaborasi dengan dr. Donny Eka Putra, Sp.U., (K), Subsp. Trauma and Reconstructive Urology, Dokter Spesialis Urologi Konsultan Trauma dan Rekonstruksi Urogenital.
Dokter bedah digestif berperan mengevaluasi dan menangani gangguan pada usus, termasuk melepaskan perlengketan jika tindakan tersebut diperlukan. Sementara itu, dokter urologi rekonstruksi mengevaluasi keterlibatan saluran kemih serta melakukan perbaikan atau rekonstruksi apabila terdapat indikasi medis.
“Pada kasus perlengketan yang kompleks, penanganan tidak cukup hanya berfokus pada satu organ. Kami perlu memahami hubungan antar organ yang terlibat agar tindakan dapat direncanakan secara menyeluruh, termasuk menjaga fungsi saluran kemih dan melakukan rekonstruksi jika diperlukan,” ungkap dr. Donny.
Kolaborasi lintas spesialisasi ini memungkinkan perencanaan tindakan mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh, terutama ketika perlengketan melibatkan lebih dari satu organ.
Penanganan Disesuaikan dengan Kondisi Pasien
Sebelum menentukan terapi, dokter akan mengevaluasi riwayat operasi, melakukan pemeriksaan fisik, dan mempertimbangkan pemeriksaan penunjang seperti CT scan sesuai kebutuhan.
Pemeriksaan tersebut membantu dokter menilai kondisi organ dan mencari kemungkinan komplikasi. Meski demikian, perlengketan tidak selalu dapat terlihat secara langsung pada pemeriksaan pencitraan. Pada sejumlah kasus, keberadaan dan tingkat perlengketan baru dapat dipastikan saat tindakan operasi dilakukan.
Tidak semua pasien memerlukan pembedahan. Jika tidak terdapat komplikasi yang mengharuskan operasi, dokter dapat mempertimbangkan penanganan konservatif dan pemantauan sesuai kondisi pasien.
Sebaliknya, apabila perlengketan menyebabkan sumbatan usus atau komplikasi lain, tindakan medis lebih lanjut mungkin diperlukan. Keputusan ini mempertimbangkan manfaat, risiko, serta kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan.
Pengembangan layanan Digestive Center Bethsaida Hospital Gading Serpong menjadi bagian dari upaya menghadirkan penanganan kasus kompleks melalui kolaborasi dokter spesialis dan dukungan fasilitas diagnostik terintegrasi.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, menyampaikan bahwa pendekatan multidisiplin merupakan bagian dari komitmen rumah sakit dalam memberikan pelayanan yang berpusat pada kebutuhan pasien.
“Bagi kami, pelayanan kesehatan bukan hanya tentang menangani suatu penyakit, tetapi juga memahami kondisi pasien secara menyeluruh. Melalui kolaborasi dokter dari berbagai spesialisasi dan dukungan fasilitas medis yang terintegrasi, kami ingin memastikan pasien mendapatkan penanganan yang tepat, sekaligus memberikan rasa aman dan ketenangan bagi keluarga dalam setiap proses perawatan,” ujar dr. Margareth.
Melalui pendekatan tersebut, penanganan perlengketan usus dapat direncanakan berdasarkan kebutuhan masing-masing pasien, mulai dari evaluasi, penentuan terapi, hingga pemulihan. Kolaborasi dokter spesialis menjadi salah satu aspek penting, terutama ketika kondisi tersebut melibatkan usus dan saluran kemih sekaligus.
(FIR)