FITNESS & HEALTH
Jangan Tunggu Sakit, Ini Tanda Ginjal Mulai Bermasalah di Usia Muda
A. Firdaus
Selasa 01 September 2026 / 15:56
- Penyakit ginjal tidak hanya menyerang lansia. Kenali penyebab, tanda awal, faktor risiko, dan pentingnya cek fungsi ginjal sejak dini.
- Minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal.
- Salah satu alasan pemeriksaan ginjal penting dilakukan adalah karena kerusakan organ ini bisa berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Jakarta: Penyakit ginjal ternyata bukan cuma masalah yang menghantui orang lanjut usia. Anak muda pun bisa mengalami gangguan ginjal, terutama jika memiliki sejumlah faktor risiko.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis sudah ditemukan pada kelompok usia muda. Prevalensinya tercatat 0,02% pada usia 15–24 tahun, 0,07% pada usia 25–34 tahun, dan 0,11% pada kelompok usia 35–44 tahun.
Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis atau cuci darah sepanjang 2024.
Masalahnya, gangguan ginjal sering kali berkembang secara perlahan dan diam-diam. Pada tahap awal, penyakit ini bahkan bisa tidak menimbulkan keluhan yang khas.
“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas. Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal,” ujar dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Dua di antaranya yang paling penting adalah diabetes dan hipertensi.
Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak sistem penyaringan ginjal. Sementara itu, tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah yang terdapat di organ tersebut.
Lalu, bagaimana dengan kebiasaan minum minuman manis?
Menurut dr. Mutalib, minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal. Namun, konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Jika diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal pun bisa ikut terdampak.

Minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal. Namun, konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Ilustrasi Magnific
“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” jelasnya.
Selain diabetes dan hipertensi, pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta berat badan yang tidak terkontrol juga perlu diperhatikan.
Penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan juga sebaiknya tidak dilakukan sembarangan karena pada kondisi tertentu dapat berdampak terhadap fungsi ginjal.
Gangguan ginjal juga dapat berkaitan dengan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.
Karena gejala awalnya sering samar, seseorang bisa saja tidak menyadari fungsi ginjalnya mulai menurun. Meski begitu, ada beberapa perubahan yang patut diperhatikan, antara lain:
- Perubahan frekuensi atau jumlah urine.
- Urine berbusa secara menetap.
- Kaki mengalami pembengkakan.
- Tubuh lebih mudah lelah.
- Mual.
- Nafsu makan menurun.
- Tekanan darah sulit dikontrol.
Bukan berarti setiap orang yang mengalami gejala tersebut pasti mengalami penyakit ginjal. Namun, jika keluhan berlangsung terus-menerus, terlebih bila memiliki diabetes, hipertensi, atau faktor risiko lainnya, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.
Salah satu alasan pemeriksaan ginjal penting dilakukan adalah karena kerusakan organ ini bisa berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah fungsi ginjal mulai mengalami penurunan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih awal.
Dokter biasanya dapat mengevaluasi fungsi ginjal melalui pemeriksaan darah, termasuk kadar kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus atau eGFR. Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk melihat adanya albumin atau protein dalam urine.
Selain itu, tekanan darah dan kadar gula darah juga penting diperiksa karena keduanya berkaitan erat dengan risiko penyakit ginjal kronis.
“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” kata dr. Mutalib.
Pemeriksaan rutin bukan berarti seseorang pasti akan berakhir dengan cuci darah. Penyakit ginjal juga tidak otomatis membuat pasien harus menjalani hemodialisis.
Hemodialisis umumnya diperlukan ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan yang sangat berat dan organ tersebut tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai.
Upaya mendeteksi dan menangani gangguan ginjal sejak dini juga membutuhkan layanan yang berkesinambungan.
Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Urology & Nephrology Clinic, layanan terpadu yang menangani berbagai gangguan ginjal, saluran kemih, dan prostat.
Layanan tersebut mencakup konsultasi dan deteksi dini, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, terapi medis, tindakan minimal invasif, hingga hemodialisis sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan pendekatan menyeluruh dibutuhkan dalam menangani penyakit ginjal dan saluran kemih.
“Kami percaya bahwa penanganan penyakit ginjal dan saluran kemih membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Margareth.
Menurutnya, keberadaan layanan terpadu tersebut diharapkan dapat memperkuat kesinambungan perawatan, mulai dari pencegahan dan deteksi dini hingga diagnosis, pemilihan terapi, serta pemantauan jangka panjang.
Dengan begitu, penanganan bisa dilakukan sesuai kondisi pasien sekaligus membantu mempertahankan kualitas hidup.
(FIR)
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan penyakit ginjal kronis sudah ditemukan pada kelompok usia muda. Prevalensinya tercatat 0,02% pada usia 15–24 tahun, 0,07% pada usia 25–34 tahun, dan 0,11% pada kelompok usia 35–44 tahun.
Sementara itu, data BPJS Kesehatan yang dikutip Kementerian Kesehatan mencatat sebanyak 134.057 pasien gagal ginjal kronis menjalani hemodialisis atau cuci darah sepanjang 2024.
Masalahnya, gangguan ginjal sering kali berkembang secara perlahan dan diam-diam. Pada tahap awal, penyakit ini bahkan bisa tidak menimbulkan keluhan yang khas.
“Banyak pasien merasa baik-baik saja karena penyakit ginjal pada tahap awal bisa tidak memberikan gejala yang jelas. Karena itu, orang dengan faktor risiko sebaiknya tidak menunggu keluhan muncul untuk memeriksakan ginjal,” ujar dr. Mutalib Abdullah, Sp.PD-KGH, FINASIM, Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Ginjal Hipertensi di Bethsaida Hospital Gading Serpong.
Kenapa Ginjal Bisa Rusak?
Ada sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Dua di antaranya yang paling penting adalah diabetes dan hipertensi.
Kadar gula darah yang tinggi dalam waktu lama dapat merusak sistem penyaringan ginjal. Sementara itu, tekanan darah tinggi bisa merusak pembuluh darah yang terdapat di organ tersebut.
Lalu, bagaimana dengan kebiasaan minum minuman manis?
Menurut dr. Mutalib, minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal. Namun, konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Jika diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal pun bisa ikut terdampak.

Minuman manis tidak serta-merta menyebabkan gagal ginjal. Namun, konsumsi gula secara berlebihan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Ilustrasi Magnific
“Minuman manis bukan berarti langsung menyebabkan gagal ginjal. Yang perlu diwaspadai adalah konsumsi gula berlebihan yang dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes. Bila diabetes tidak terkontrol dalam jangka panjang, ginjal dapat ikut mengalami kerusakan,” jelasnya.
Selain diabetes dan hipertensi, pola makan tinggi garam, kurang aktivitas fisik, kebiasaan merokok, serta berat badan yang tidak terkontrol juga perlu diperhatikan.
Penggunaan obat pereda nyeri, jamu, atau suplemen tanpa pengawasan juga sebaiknya tidak dilakukan sembarangan karena pada kondisi tertentu dapat berdampak terhadap fungsi ginjal.
Gangguan ginjal juga dapat berkaitan dengan batu atau sumbatan saluran kemih, penyakit autoimun, infeksi, kelainan bawaan, hingga faktor genetik.
Kenali Tanda Ginjal Mulai Bermasalah
Karena gejala awalnya sering samar, seseorang bisa saja tidak menyadari fungsi ginjalnya mulai menurun. Meski begitu, ada beberapa perubahan yang patut diperhatikan, antara lain:
- Perubahan frekuensi atau jumlah urine.
- Urine berbusa secara menetap.
- Kaki mengalami pembengkakan.
- Tubuh lebih mudah lelah.
- Mual.
- Nafsu makan menurun.
- Tekanan darah sulit dikontrol.
Bukan berarti setiap orang yang mengalami gejala tersebut pasti mengalami penyakit ginjal. Namun, jika keluhan berlangsung terus-menerus, terlebih bila memiliki diabetes, hipertensi, atau faktor risiko lainnya, pemeriksaan medis sebaiknya tidak ditunda.
Cek Fungsi Ginjal, Jangan Tunggu Keluhan
Salah satu alasan pemeriksaan ginjal penting dilakukan adalah karena kerusakan organ ini bisa berlangsung tanpa gejala yang jelas.
Pemeriksaan dapat membantu mengetahui apakah fungsi ginjal mulai mengalami penurunan sehingga penanganan bisa dilakukan lebih awal.
Dokter biasanya dapat mengevaluasi fungsi ginjal melalui pemeriksaan darah, termasuk kadar kreatinin dan estimasi laju filtrasi glomerulus atau eGFR. Pemeriksaan urine juga dapat dilakukan untuk melihat adanya albumin atau protein dalam urine.
Selain itu, tekanan darah dan kadar gula darah juga penting diperiksa karena keduanya berkaitan erat dengan risiko penyakit ginjal kronis.
“Pasien dengan hipertensi, diabetes, batu saluran kemih berulang, atau riwayat penyakit ginjal dalam keluarga sebaiknya menjalani pemeriksaan secara berkala,” kata dr. Mutalib.
Pemeriksaan rutin bukan berarti seseorang pasti akan berakhir dengan cuci darah. Penyakit ginjal juga tidak otomatis membuat pasien harus menjalani hemodialisis.
Hemodialisis umumnya diperlukan ketika fungsi ginjal sudah mengalami penurunan yang sangat berat dan organ tersebut tidak lagi mampu menjalankan fungsinya secara memadai.
Layanan Ginjal Terpadu
Upaya mendeteksi dan menangani gangguan ginjal sejak dini juga membutuhkan layanan yang berkesinambungan.
Bethsaida Hospital Gading Serpong menghadirkan Urology & Nephrology Clinic, layanan terpadu yang menangani berbagai gangguan ginjal, saluran kemih, dan prostat.
Layanan tersebut mencakup konsultasi dan deteksi dini, pemeriksaan penunjang, penegakan diagnosis, terapi medis, tindakan minimal invasif, hingga hemodialisis sesuai kondisi dan kebutuhan pasien.
Direktur Bethsaida Hospital Gading Serpong, dr. Margareth Aryani Santoso, MARS, mengatakan pendekatan menyeluruh dibutuhkan dalam menangani penyakit ginjal dan saluran kemih.
“Kami percaya bahwa penanganan penyakit ginjal dan saluran kemih membutuhkan pendekatan yang menyeluruh, terkoordinasi, dan berorientasi pada kebutuhan pasien,” ujar Margareth.
Menurutnya, keberadaan layanan terpadu tersebut diharapkan dapat memperkuat kesinambungan perawatan, mulai dari pencegahan dan deteksi dini hingga diagnosis, pemilihan terapi, serta pemantauan jangka panjang.
Dengan begitu, penanganan bisa dilakukan sesuai kondisi pasien sekaligus membantu mempertahankan kualitas hidup.
(FIR)