FITNESS & HEALTH

Jangan Anggap Sepele Nyeri Pinggang, Bisa Jadi Tanda Batu Ginjal

A. Firdaus
Sabtu 25 Juli 2026 / 17:12
Ringkasnya gini..
  • Perkembangan teknologi medis kini tidak hanya berfokus pada mengeluarkan batu.
  • Kasus ini lebih banyak dialami laki-laki, terutama pada usia produktif 40–50 tahun.
  • Tidak semua pasien batu saluran kemih harus menjalani operasi terbuka.
Jakarta: Batu saluran kemih masih menjadi salah satu penyakit urologi yang paling sering ditemukan. Selain memicu nyeri hebat, kondisi ini juga memiliki risiko kekambuhan yang tinggi jika penyebab utamanya tidak ditangani secara menyeluruh.

Spesialis Urologi RS Premier Bintaro, dr. Teguh Risesa Djufri, Sp.U, FICS, mengatakan perkembangan teknologi medis kini tidak hanya berfokus pada mengeluarkan batu, tetapi juga mencegah agar batu tidak kembali terbentuk.

"Banyak masyarakat menganggap batu saluran kemih hanya menyebabkan nyeri. Padahal jika tidak ditangani dengan baik, batu dapat menyebabkan sumbatan saluran kemih, infeksi berat, gangguan fungsi ginjal, bahkan meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis. Oleh karena itu, diagnosis dan penanganan yang tepat sangat penting," ujar dr. Teguh dalam media gathering bertajuk Penanganan Terkini Batu Saluran Kemih di Jakarta.

Menurutnya, batu saluran kemih terbentuk akibat endapan mineral di ginjal atau saluran kemih. Kondisi ini dapat dipicu oleh gangguan metabolisme, kurang minum air putih, pola makan tertentu, infeksi saluran kemih, hingga faktor genetik.

Kasus ini lebih banyak dialami laki-laki, terutama pada usia produktif 40–50 tahun. Risiko juga meningkat pada orang dengan obesitas, gaya hidup kurang aktif, serta mereka yang tinggal di wilayah beriklim panas.
 

Nyeri hebat bukan satu-satunya gejala


Gejala yang paling sering muncul adalah nyeri hebat di pinggang yang datang tiba-tiba dan dapat menjalar ke perut bagian bawah, selangkangan, hingga alat kelamin. Intensitas nyerinya bahkan kerap disamakan dengan nyeri persalinan.

Selain itu, penderita juga bisa mengalami:

- Mual dan muntah.
- Nyeri saat buang air kecil.
- Urine bercampur darah.
- Demam apabila sudah terjadi infeksi.

Namun, pada sebagian orang batu saluran kemih tidak menimbulkan gejala sehingga baru diketahui saat menjalani pemeriksaan kesehatan rutin.

Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya memulai pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) karena aman dan tidak menggunakan radiasi. Jika diperlukan, pemeriksaan dilanjutkan dengan CT Scan tanpa kontras (Non-Contrast CT Scan/NCCT) yang menjadi standar emas untuk mengetahui ukuran, lokasi, dan karakteristik batu sehingga terapi dapat ditentukan secara lebih akurat.
 

Penanganan kini makin minim invasif


Dr. Teguh menjelaskan, tidak semua pasien batu saluran kemih harus menjalani operasi terbuka. Pada batu berukuran kecil, dokter dapat memberikan obat untuk membantu batu keluar secara alami.

Namun, tindakan aktif diperlukan bila batu menyebabkan sumbatan, infeksi, nyeri berulang, berukuran besar, atau berisiko merusak fungsi ginjal.

Beberapa prosedur yang kini tersedia antara lain:

- Shock Wave Lithotripsy (SWL/ESWL) untuk memecahkan batu menggunakan gelombang kejut dari luar tubuh tanpa sayatan.
- Ureteroscopy (URS) dan Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS) yang memanfaatkan alat endoskopi melalui saluran kemih untuk menghancurkan batu dengan laser tanpa sayatan pada kulit.
- Percutaneous Nephrolithotomy (PCNL) dan Mini-PCNL untuk menangani batu ginjal berukuran besar melalui sayatan yang sangat kecil.

Perkembangan terbaru di bidang endourologi juga menghadirkan teknologi Thulium Fibre Laser yang dinilai mampu menghancurkan batu lebih efektif dengan waktu tindakan yang lebih singkat. Selain itu, sistem suction modern membantu menjaga tekanan di dalam ginjal selama prosedur sehingga dapat menurunkan risiko infeksi sekaligus mempercepat proses pemulihan pasien.
 

Cegah batu terbentuk kembali


Menurut dr. Teguh, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan batu saluran kemih adalah tingginya angka kekambuhan. Karena itu, pengobatan tidak berhenti setelah batu berhasil dikeluarkan.

Pasien tetap perlu menjalani evaluasi metabolik untuk mengetahui penyebab pembentukan batu sekaligus menerapkan perubahan gaya hidup agar risiko kekambuhan dapat ditekan.

"Minum air putih yang cukup, menjaga berat badan ideal, mengurangi konsumsi garam berlebih, serta menerapkan pola makan seimbang merupakan langkah sederhana yang sangat berperan dalam mencegah batu terbentuk kembali," pungkasnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)

MOST SEARCH