FITNESS & HEALTH

Deteksi Dini Kanker Payudara Masih Rendah, Kolaborasi Medis Jadi Kunci

A. Firdaus
Rabu 28 Oktober 2026 / 20:21
Ringkasnya gini..
  • Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut.
  • Kemenkes menargetkan 60% kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal.
  • Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda.
Jakarta: Penanganan kanker payudara tidak berhenti pada diagnosis dan pengobatan. Pemulihan, kualitas hidup, serta kebutuhan setiap pasien juga perlu menjadi bagian dari perjalanan perawatan. Karena itu, kolaborasi berbagai spesialisasi medis menjadi penting untuk memastikan pasien memperoleh penanganan yang sesuai.

Berdasarkan estimasi GLOBOCAN 2024, Indonesia mencatat 93.236 kasus baru kanker payudara dan 38.012 kematian akibat penyakit tersebut. Kanker payudara juga menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan pada perempuan di Indonesia.

Tim Kerja Penyakit Kanker, Direktorat Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Uswatun Hasanah, M.Epid, mengatakan keterlambatan deteksi dan diagnosis masih menjadi tantangan dalam penanganan kanker payudara.
 

“Sebagian besar kasus kanker payudara ditemukan dalam stadium lanjut, sehingga angka keberhasilan pengobatan pun menurun,” ujar dr. Uswatun saat media & community gathering bertajuk “Every Story is Unique, Every Journey Matters”, dalam rangka Bulan Kesadaran Kanker Payudara di Jakarta, Rabu (28/10)..

Menurut dr. Uswatun, keterbatasan fasilitas layanan dan rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini turut membuat pasien datang ke fasilitas kesehatan ketika penyakit sudah memasuki stadium lanjut.

Kemenkes menargetkan 60% kasus kanker payudara dapat ditemukan pada stadium awal. Namun, berdasarkan data yang disampaikan Uswatun, capaian deteksi dini pada 2025 baru sekitar 10% secara nasional. Hingga 30 September 2026, angkanya mencapai sekitar 16,19%.

“Dengan penemuan kasus yang lebih awal maka kesintasannya lebih tinggi dibandingkan yang ditemukan di stadium lanjut,” jelasnya.
 

Deteksi dini bisa dimulai dari Puskesmas


Dokter Uswatun mengimbau perempuan untuk lebih peduli terhadap kesehatan payudara dan memanfaatkan fasilitas pemeriksaan yang tersedia. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Puskesmas.

Menurutnya, perempuan berusia 30–69 tahun dapat memanfaatkan layanan skrining atau deteksi dini kanker payudara sesuai ketentuan program. Jika ditemukan hasil pemeriksaan abnormal, pasien akan dirujuk ke fasilitas pelayanan kesehatan tingkat lanjut untuk pemeriksaan berikutnya.

Kemenkes juga telah menerbitkan pedoman tata laksana kanker payudara sebagai acuan bagi tenaga medis dalam menangani pasien.

“Kita semua perlu berkolaborasi menyampaikan bagaimana pentingnya deteksi dini kanker payudara,” tuturnya.
 

Penanganan multidisiplin berpusat pada pasien


Selain deteksi dini, kolaborasi tenaga medis dari berbagai spesialisasi diperlukan agar penanganan kanker dapat disesuaikan dengan kondisi setiap pasien.

Chief Executive Officer MRCCC Siloam Semanggi, Tries Nainggolan, menyampaikan bahwa setiap pasien memiliki perjalanan perawatan dan kebutuhan yang berbeda. Karena itu, pendekatan multidisiplin diperlukan, mulai dari penentuan terapi hingga perhatian terhadap kualitas hidup pasien.

“Setiap pasien memiliki perjalanan perawatan yang berbeda. Karena itu, kami berkomitmen untuk terus memperkuat kolaborasi multidisiplin agar setiap pasien mendapatkan penanganan yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhannya, tidak hanya dari sisi pengobatan, tetapi juga kualitas hidupnya,” ujarnya.

Pendekatan ini menegaskan bahwa perawatan kanker tidak hanya berfokus pada penyakit, tetapi juga pada kebutuhan pasien secara menyeluruh.

Deteksi dini, diagnosis yang tepat, penanganan sesuai kondisi pasien, serta dukungan selama pemulihan menjadi bagian penting dalam perjalanan perawatan kanker payudara.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH