FITNESS & HEALTH
Michelle Ziudith Tekankan Perawatan Gigi Bukan Cuma Soal Penampilan, Tapi Juga Fungsi
Elang Riki Yanuar
Rabu 29 April 2026 / 14:00
- Michelle Ziudith akhirnya puas setelah perawatan Invisalign baru, rasakan perubahan signifikan dalam satu tahun setelah gagal sebelumnya.
- Masalah gigitan dan midline jadi fokus perawatan, Michelle tekankan pentingnya fungsi gigi bukan hanya estetika.
- Michelle soroti peran dokter dalam treatment planning, sebut teknologi saja tak cukup tanpa strategi yang tepat.
Jakarta: Aktris Michelle Ziudith membagikan pengalaman pribadinya setelah menjalani perawatan Invisalign yang akhirnya memberikan hasil sesuai harapannya. Setelah sempat menjalani perawatan serupa selama tiga tahun di tempat lain tanpa hasil maksimal, Michelle mengaku baru merasakan perubahan signifikan dalam waktu sekitar satu tahun terakhir.
Sebelumnya, Michelle telah menjalani perawatan Invisalign selama kurang lebih tiga tahun dan beberapa kali melalui tahap refinement. Namun, hasil yang didapat saat itu belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasinya, terutama terkait susunan gigi dan keseimbangan gigitan.
Menurut Michelle, masalah utama yang ia rasakan bukan hanya soal estetika, tetapi juga kenyamanan saat menggigit. Posisi gigi yang belum seimbang membuat hasil akhir perawatan sebelumnya terasa belum memuaskan.
Ia kemudian memulai perawatan baru pada Mei 2025 dengan pendekatan yang berbeda. Dalam proses ini, Michelle merasa penjelasan yang detail sejak awal menjadi salah satu hal yang membuatnya lebih yakin menjalani perawatan.
“Dulu aku sudah pernah Invisalign dan beberapa kali refinement, tapi hasilnya belum benar-benar sesuai dengan yang aku harapkan. Di Dokgi, rencana perawatannya dijelaskan sangat detail sejak awal, dan progresnya terasa signifikan mengikuti roadmap yang sudah direncanakan,” ujar Michelle.
Kasus yang dialami Michelle berkaitan dengan ketidakseimbangan gigitan atau bite serta pergeseran posisi garis tengah gigi yang dikenal sebagai midline. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan saat tersenyum, tetapi juga dapat berdampak pada distribusi beban kunyah dan kenyamanan rahang dalam jangka panjang.
Penanganan masalah seperti ini, menurut dokter gigi spesialis ortodonti, membutuhkan perencanaan yang matang. Teknologi aligner seperti Invisalign memang membantu proses perawatan, tetapi hasil akhirnya tetap sangat bergantung pada strategi treatment planning dari dokter.
“Teknologi seperti Invisalign adalah alat yang sangat powerful, tetapi hasil akhirnya sangat ditentukan oleh treatment planning dari dokter. Dengan perencanaan yang matang, setiap pergerakan gigi dapat dirancang lebih terkontrol dan prediktif," jelas drg. Indriani Kusno, DiplClinDent (Orth), MSc Orth (UK), Invisalign Specialist di Dokgi Dental Clinic.
Michelle pun mengaku pengalaman ini memberinya sudut pandang baru. Ia menyadari bahwa teknologi canggih saja tidak cukup jika tidak didukung oleh perencanaan yang tepat dari tenaga medis yang berpengalaman.
Baginya, keberhasilan perawatan bukan hanya soal gigi yang terlihat rapi, tetapi juga soal fungsi dan kenyamanan jangka panjang. Hal ini menjadi alasan mengapa ia lebih memperhatikan proses dibanding sekadar hasil instan.
“Aku jadi sadar bahwa teknologi memang penting, tapi yang paling menentukan adalah bagaimana dokter merancang perawatannya. Kombinasi keduanya bisa membuat perbedaan yang sangat besar,” tutup Michelle.
Pengalaman ini juga membuat Michelle lebih terbuka membagikan pentingnya memahami kebutuhan perawatan gigi secara menyeluruh. Ia menilai banyak orang masih fokus pada penampilan luar tanpa mempertimbangkan fungsi dasar seperti gigitan dan kesehatan rahang.
Melalui pengalamannya, Michelle ingin menunjukkan bahwa perawatan ortodonti bukan sekadar untuk mempercantik senyum, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan mulut dan kualitas hidup sehari-hari. Bagi dirinya, hasil terbaik datang ketika teknologi dan keahlian dokter berjalan seimbang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Sebelumnya, Michelle telah menjalani perawatan Invisalign selama kurang lebih tiga tahun dan beberapa kali melalui tahap refinement. Namun, hasil yang didapat saat itu belum sepenuhnya sesuai dengan ekspektasinya, terutama terkait susunan gigi dan keseimbangan gigitan.
Menurut Michelle, masalah utama yang ia rasakan bukan hanya soal estetika, tetapi juga kenyamanan saat menggigit. Posisi gigi yang belum seimbang membuat hasil akhir perawatan sebelumnya terasa belum memuaskan.
Ia kemudian memulai perawatan baru pada Mei 2025 dengan pendekatan yang berbeda. Dalam proses ini, Michelle merasa penjelasan yang detail sejak awal menjadi salah satu hal yang membuatnya lebih yakin menjalani perawatan.
“Dulu aku sudah pernah Invisalign dan beberapa kali refinement, tapi hasilnya belum benar-benar sesuai dengan yang aku harapkan. Di Dokgi, rencana perawatannya dijelaskan sangat detail sejak awal, dan progresnya terasa signifikan mengikuti roadmap yang sudah direncanakan,” ujar Michelle.
Kasus yang dialami Michelle berkaitan dengan ketidakseimbangan gigitan atau bite serta pergeseran posisi garis tengah gigi yang dikenal sebagai midline. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi penampilan saat tersenyum, tetapi juga dapat berdampak pada distribusi beban kunyah dan kenyamanan rahang dalam jangka panjang.
Penanganan masalah seperti ini, menurut dokter gigi spesialis ortodonti, membutuhkan perencanaan yang matang. Teknologi aligner seperti Invisalign memang membantu proses perawatan, tetapi hasil akhirnya tetap sangat bergantung pada strategi treatment planning dari dokter.
“Teknologi seperti Invisalign adalah alat yang sangat powerful, tetapi hasil akhirnya sangat ditentukan oleh treatment planning dari dokter. Dengan perencanaan yang matang, setiap pergerakan gigi dapat dirancang lebih terkontrol dan prediktif," jelas drg. Indriani Kusno, DiplClinDent (Orth), MSc Orth (UK), Invisalign Specialist di Dokgi Dental Clinic.
Michelle pun mengaku pengalaman ini memberinya sudut pandang baru. Ia menyadari bahwa teknologi canggih saja tidak cukup jika tidak didukung oleh perencanaan yang tepat dari tenaga medis yang berpengalaman.
Baginya, keberhasilan perawatan bukan hanya soal gigi yang terlihat rapi, tetapi juga soal fungsi dan kenyamanan jangka panjang. Hal ini menjadi alasan mengapa ia lebih memperhatikan proses dibanding sekadar hasil instan.
“Aku jadi sadar bahwa teknologi memang penting, tapi yang paling menentukan adalah bagaimana dokter merancang perawatannya. Kombinasi keduanya bisa membuat perbedaan yang sangat besar,” tutup Michelle.
Pengalaman ini juga membuat Michelle lebih terbuka membagikan pentingnya memahami kebutuhan perawatan gigi secara menyeluruh. Ia menilai banyak orang masih fokus pada penampilan luar tanpa mempertimbangkan fungsi dasar seperti gigitan dan kesehatan rahang.
Melalui pengalamannya, Michelle ingin menunjukkan bahwa perawatan ortodonti bukan sekadar untuk mempercantik senyum, tetapi juga bagian dari menjaga kesehatan mulut dan kualitas hidup sehari-hari. Bagi dirinya, hasil terbaik datang ketika teknologi dan keahlian dokter berjalan seimbang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)