FITNESS & HEALTH

Superfetasi: Kamu Baru Tahu Kalau Hamil Lagi Saat Lagi Hamil Itu Nyata!

Yatin Suleha
Kamis 19 Februari 2026 / 13:00
Ringkasnya gini..
  • Superfetasi adalah fenomena sangat langka di mana pembuahan sel telur kedua terjadi saat ibu sudah hamil.
  • Superfetasi menghasilkan dua janin dengan usia gestasi berbeda di rahim.
  • Lalu bagaimana dengan gejalanya? Simak yuk di bawah ini.
Jakarta: Fenomena superfetasi sering disalahartikan sebagai kehamilan kembar biasa. Padahal, keduanya memiliki proses yang berbeda secara biologis.

Superfetasi terjadi ketika satu embrio sudah tertanam di rahim, lalu terjadi pembuahan kedua beberapa waktu kemudian sehingga terbentuk janin lain dengan usia kehamilan berbeda.

Secara normal, setelah kehamilan dimulai, perubahan hormon dalam tubuh akan menghentikan ovulasi. Proses alami ini membuat pembuahan kedua hampir mustahil terjadi. Namun dalam kasus yang sangat jarang, ovulasi tetap berlangsung.
 
“Superfetasi terjadi ketika setelah kehamilan dimulai, sel telur (ovum) kedua dibuahi dan menempel, menghasilkan dua bayi dengan usia kehamilan yang berbeda,” jelas Sasha Andrews, MD, spesialis kedokteran maternal-fetal yang bersertifikat di Pediatrix Medical Group di Denver, Colorado dalam Parents.

Dalam beberapa laporan medis, selisih usia janin bisa mencapai dua hingga empat minggu. Bahkan ada kasus lama yang mencatat perbedaan usia hingga empat minggu antara dua bayi dalam satu rahim.

Superfetasi lebih sering terjadi dalam konteks pengobatan kesuburan. “Superfetasi lebih sering terjadi dalam konteks reproduksi bantu atau pengobatan kesuburan, dengan obat-obatan yang menyebabkan pelepasan beberapa ovum,” jelas dr. Andrews.



(Superfetasi adalah fenomena sangat langka di mana pembuahan sel telur kedua terjadi saat ibu sudah hamil, menghasilkan dua janin dengan usia gestasi berbeda di rahim. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)

Lalu bagaimana dengan gejalanya? Ternyata tidak ada tanda khusus yang bisa langsung menunjukkan terjadinya superfetasi. “Tidak ada gejala unik dari kehamilan superfetasi,” kata Kelli V. Burroughs, MD, kepala staf dan ketua departemen obstetri dan ginekologi di Memorial Hermann Sugar Land Hospital.

“Pasien mungkin tidak mengalami gejala sama sekali atau gejala kehamilan yang umum, termasuk mual, payudara sensitif, dan kenaikan berat badan,” tambahnya.

Sebagian besar kasus baru terdeteksi melalui pemeriksaan ultrasound. Biasanya dokter menyadari adanya perbedaan ukuran janin.

“Berdasarkan beberapa laporan kasus superfetasi, perbedaan pertumbuhan pada superfetasi bisa berkisar antara dua hingga empat minggu; ini kemungkinan disebabkan oleh perbedaan frekuensi ovulasi,” katanya.

Bahkan, diagnosis kadang baru terungkap setelah bayi lahir atau melalui tes genetika bertahun-tahun kemudian. 

“Menariknya, ada kasus superfetasi yang didiagnosis melalui tes genealogi di rumah, setelah sepasang kembar berusia 50-an menemukan bahwa mereka memiliki ayah yang berbeda,” kata dr. Andrews.

Perlu dibedakan dengan jelas dari kehamilan kembar biasa. “Kehamilan kembar terjadi ketika satu sel telur dibuahi dan membelah menjadi dua embrio (kembar identik), atau ketika dua sel telur dibuahi secara bersamaan oleh sel sperma yang berbeda (kembar fraternal),” kata dr. Andrew.
 
“Superfetasi terjadi ketika embrio atau janin sudah tertanam, dan sel telur kedua dibuahi dan tertanam,” tambahnya.

Kesimpulannya, superfetasi adalah fenomena medis yang sangat langka dan berbeda dari kehamilan kembar pada umumnya. Jika muncul pertanyaan atau kekhawatiran terkait perkembangan kehamilan, berkonsultasi dengan dokter tetap menjadi langkah paling bijak.
 

Secillia Nur Hafifah


Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(TIN)

MOST SEARCH