FITNESS & HEALTH
Studi UGM: Dengue Rugikan Indonesia Hampir Rp9 Triliun dalam Setahun
A. Firdaus
Sabtu 18 Juli 2026 / 12:11
- Dengue merupakan salah satu prioritas kesehatan masyarakat di Indonesia.
- Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,1–1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue.
- Dengue menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak di Indonesia.
Jakarta: Dengue bukan lagi sekadar penyakit musiman. Di Indonesia, risiko penularannya dapat terjadi sepanjang tahun, sehingga upaya pencegahan perlu dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.
Dampaknya pun tidak hanya terlihat dari jumlah kasus, tetapi juga dari beban ekonomi yang ditanggung sistem kesehatan, pasien, dan keluarga.
Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan bahwa pada 2024, beban ekonomi akibat dengue di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta rawat inap.
Besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan, menunjukkan bahwa dengue merupakan salah satu prioritas kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan pendekatan pencegahan yang lebih komprehensif dan melibatkan berbagai pihak.
Guna memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan dengue, PT Takeda Innovative Medicines bersama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta (IDAI Jaya) telah menyelenggarakan Jakarta Dengue Forum (JDF), sebuah forum ilmiah para ahli yang dihadiri oleh lebih dari 300 tenaga kesehatan untuk memperkuat peran bersama dalam pencegahan dengue di Indonesia.
Studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), oleh Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes, MBA, Apt., memaparkan, total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai angka yang sangat masif, yaitu USD 550,9 juta atau hampir Rp9 triliun.
"Studi terbaru kami pada 2024 menunjukkan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya," ujar Dr. Diah.
Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,1–1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas (termasuk kehilangan pendapatan).
"Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak drastis hingga Rp4,3–5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri," kata Dr. Diah.
Beban tersebut semakin terasa bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, terutama ketika biaya tidak terduga dan kehilangan pendapatan terjadi bersamaan.
Hal ini menjadi bukti kuat bahwa dengue bukan lagi sekadar masalah kesehatan masyarakat biasa, melainkan ancaman nyata yang secara sistemik dapat memicu kemiskinan baru serta memperdalam jurang ketimpangan finansial di Indonesia.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam penanggulangan dengue di Indonesia, Takeda terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas akses masyarakat terhadap upaya pencegahan yang komprehensif.
"Kami sangat prihatin melihat besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh dengue di Indonesia. Kami menyadari bahwa semua orang berisiko terjangkit virus dengue, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi berat yang berisiko fatal," kata Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines.
Apalagi, dengue menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak di Indonesia.
"Di Takeda, kami terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, sektor swasta, sektor pendidikan, masyarakat, media dalam mendukung upaya pencegahan dengue yang komprehensif," ucap Andreas.
"Komitmen ini kami wujudkan melalui edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat, serta upaya perluasan akses terhadap pencegahan dengue yang inovatif, agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat memahami risiko dengue dan mengambil langkah perlindungan sejak dini," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
Dampaknya pun tidak hanya terlihat dari jumlah kasus, tetapi juga dari beban ekonomi yang ditanggung sistem kesehatan, pasien, dan keluarga.
Studi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) memperkirakan bahwa pada 2024, beban ekonomi akibat dengue di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun, dengan lebih dari 2 juta rawat inap.
Besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan, menunjukkan bahwa dengue merupakan salah satu prioritas kesehatan masyarakat di Indonesia, dengan pendekatan pencegahan yang lebih komprehensif dan melibatkan berbagai pihak.
Guna memperkuat komitmen bersama dalam pencegahan dengue, PT Takeda Innovative Medicines bersama dengan Ikatan Dokter Anak Indonesia Cabang DKI Jakarta (IDAI Jaya) telah menyelenggarakan Jakarta Dengue Forum (JDF), sebuah forum ilmiah para ahli yang dihadiri oleh lebih dari 300 tenaga kesehatan untuk memperkuat peran bersama dalam pencegahan dengue di Indonesia.
Studi terbaru dari Pusat Kebijakan Pembiayaan dan Manajemen Asuransi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK), Universitas Gadjah Mada (UGM), oleh Dr. Diah Ayu Puspandari, M.Kes, MBA, Apt., memaparkan, total beban ekonomi akibat dengue di Indonesia pada 2024 mencapai angka yang sangat masif, yaitu USD 550,9 juta atau hampir Rp9 triliun.
"Studi terbaru kami pada 2024 menunjukkan bahwa kepemilikan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) belum sepenuhnya membebaskan pasien dari beban biaya," ujar Dr. Diah.
Pasien JKN masih harus mengeluarkan biaya mandiri (out-of-pocket) rata-rata Rp1,1–1,3 juta saat menghadapi sebuah periode sakit akibat dengue untuk kebutuhan nonmedis seperti transportasi dan akomodasi pendamping, di luar hilangnya produktivitas (termasuk kehilangan pendapatan).
"Sementara bagi pasien yang tidak memiliki asuransi, biayanya melonjak drastis hingga Rp4,3–5,6 juta karena seluruh biaya perawatan medis harus ditanggung sendiri," kata Dr. Diah.
Beban tersebut semakin terasa bagi kelompok masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah, terutama ketika biaya tidak terduga dan kehilangan pendapatan terjadi bersamaan.
Hal ini menjadi bukti kuat bahwa dengue bukan lagi sekadar masalah kesehatan masyarakat biasa, melainkan ancaman nyata yang secara sistemik dapat memicu kemiskinan baru serta memperdalam jurang ketimpangan finansial di Indonesia.
Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang dalam penanggulangan dengue di Indonesia, Takeda terus memperkuat kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memperluas akses masyarakat terhadap upaya pencegahan yang komprehensif.
"Kami sangat prihatin melihat besarnya beban kesehatan dan ekonomi yang ditimbulkan oleh dengue di Indonesia. Kami menyadari bahwa semua orang berisiko terjangkit virus dengue, dan pada sebagian kasus dapat berkembang menjadi kondisi berat yang berisiko fatal," kata Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines.
Apalagi, dengue menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi pada anak di Indonesia.
"Di Takeda, kami terus berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemangku kepentingan terkait pemerintah, organisasi profesi, tenaga kesehatan, sektor swasta, sektor pendidikan, masyarakat, media dalam mendukung upaya pencegahan dengue yang komprehensif," ucap Andreas.
"Komitmen ini kami wujudkan melalui edukasi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan maupun masyarakat, serta upaya perluasan akses terhadap pencegahan dengue yang inovatif, agar semakin banyak keluarga Indonesia dapat memahami risiko dengue dan mengambil langkah perlindungan sejak dini," pungkasnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)