FITNESS & HEALTH
Sering Dapat Like dan Pujian? Hati-hati, Bisa Bikin Kamu Merasa Berhak
A. Firdaus
Rabu 23 September 2026 / 09:15
- Terlalu terbiasa mendapat like, pujian, dan validasi instan di media sosial bisa memengaruhi ekspektasi di dunia nyata dan memicu rasa berhak.
- Validasi daring dapat menjadi penguat emosional yang kuat, terutama pada individu yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap pengakuan sosial.
- Pada akhirnya, like, komentar, dan jumlah followers memang menyenangkan.
Jakarta: Pernah merasa kesal ketika unggahanmu sudah dibuat sebagus mungkin, tetapi responsnya ternyata biasa saja? Atau merasa orang lain seharusnya memberikan perhatian lebih karena kamu terbiasa mendapat banyak pujian di media sosial?
Perasaan seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, menurut Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed, Ph.D., kebiasaan mendapatkan validasi secara instan di media sosial dapat memengaruhi ekspektasi seseorang ketika berinteraksi di dunia nyata.
Dilansir dari tulisannya di Psychology Today, Reed menjelaskan bahwa fitur sederhana seperti tombol like, komentar, jumlah penonton, dan followers memberikan respons yang cepat kepada pengguna.
Sekali mengunggah sesuatu, dalam hitungan menit seseorang bisa langsung mengetahui apakah kontennya mendapat perhatian. Pujian dan respons positif tersebut kemudian dapat menjadi bentuk penguatan sosial yang membuat pengguna ingin mendapatkan pengalaman serupa lagi.
Media sosial memang dirancang untuk memberikan respons secara cepat.
Seseorang mengunggah foto, video, pencapaian, atau pendapat. Tidak lama kemudian, muncul notifikasi berupa like, komentar, share, atau follower baru.
Masalahnya bukan pada like atau komentar itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai terbiasa menjadikan respons tersebut sebagai ukuran untuk menilai dirinya sendiri.
Menurut Reed, validasi daring dapat menjadi penguat emosional yang kuat, terutama pada individu yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap pengakuan sosial.
Jika pola ini berlangsung terus-menerus, seseorang bisa mulai membawa ekspektasi dari dunia maya ke kehidupan sehari-hari.
Di media sosial, misalnya, satu unggahan bisa mendapatkan puluhan bahkan ratusan respons dalam waktu singkat. Sementara dalam kehidupan nyata, perhatian orang lain tidak selalu datang secepat itu.
Teman mungkin tidak langsung memuji pencapaian kita. Rekan kerja belum tentu memberikan apresiasi setiap kali pekerjaan selesai. Bahkan orang terdekat pun tidak selalu memberikan respons sesuai yang kita harapkan.
Perbedaan inilah yang menurut Reed dapat menciptakan apa yang ia sebut sebagai frustration gap, atau jarak antara harapan dan kenyataan.
Bayangkan kamu terbiasa mendapat komentar positif setiap kali membagikan sesuatu di media sosial.
Lalu suatu hari kamu melakukan sesuatu yang menurutmu cukup membanggakan. Kamu berharap orang-orang di sekitar memberikan respons yang sama.
Ternyata tidak ada yang terlalu memperhatikan.
Alih-alih merasa biasa saja, kamu justru kecewa. Bahkan bisa muncul pikiran seperti, “Kok enggak ada yang menghargai?” atau “Kenapa orang lain enggak memperlakukan aku seperti di media sosial?”
Menurut Reed, ketika harapan mendapatkan pengakuan tersebut tidak terpenuhi, rasa kecewa dapat berkembang menjadi kemarahan yang berkaitan dengan perasaan berhak mendapatkan perlakuan tertentu.
Inilah yang membuat validasi digital menarik untuk diperhatikan.
Bukan karena mendapatkan like adalah sesuatu yang buruk, melainkan karena otak dan emosi manusia dapat terbiasa dengan pola penghargaan yang berulang.
Ada persoalan lain yang sering luput ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial.
Sebagian besar konten yang muncul di lini masa sudah melalui proses kurasi.
Orang cenderung membagikan foto ketika liburan, bukan saat masih mengumpulkan uang untuk pergi. Membagikan pencapaian setelah berhasil mendapatkan pekerjaan, bukan puluhan lamaran yang sebelumnya ditolak.
Kita melihat rumah yang sudah rapi, bukan proses membereskannya. Melihat hasil proyek, bukan lembur dan revisi di belakang layar.
Akibatnya, media sosial dapat membuat pencapaian terlihat jauh lebih cepat dan mudah daripada kenyataannya.
Ketika terbiasa melihat hasil akhir orang lain, seseorang bisa tanpa sadar membandingkannya dengan proses dirinya sendiri.
Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Lalu, apakah solusinya harus menghapus semua media sosial? Tidak juga.
Reed menyarankan pengguna untuk membangun kesadaran kritis ketika berselancar di dunia maya. Artinya, kita perlu menyadari bahwa validasi digital hanyalah salah satu bentuk respons sosial dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.
Coba perhatikan bagaimana perasaanmu setelah membuka media sosial.
Apakah kamu merasa terhibur, mendapatkan informasi, dan terhubung dengan orang lain? Atau justru semakin sering membandingkan diri, mengejar like, dan merasa kesal ketika tidak mendapatkan perhatian?
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu melihat apakah penggunaan media sosial sudah mulai memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.
Pada akhirnya, like, komentar, dan jumlah followers memang menyenangkan. Mendapat apresiasi juga merupakan hal yang wajar membuat seseorang merasa senang.
Namun, kehidupan nyata tidak memiliki tombol like untuk setiap hal yang kita lakukan.
Tidak semua kerja keras akan langsung dipuji. Tidak semua kebaikan mendapatkan ucapan terima kasih. Bahkan pencapaian yang menurut kita besar mungkin saja dianggap biasa oleh orang lain.
Dan itu bukan berarti usaha kita menjadi tidak berarti.
Karena itu, penting untuk membangun sumber kepuasan yang tidak sepenuhnya bergantung pada respons orang lain.
Nikmati proses ketika belajar sesuatu. Hargai pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Rayakan pencapaian tanpa harus selalu mengunggahnya.
Sebab, ketika validasi tidak datang dalam bentuk notifikasi, kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan punya arti.
Media sosial boleh menjadi tempat mencari inspirasi dan terhubung dengan orang lain. Tapi jangan sampai jumlah like menentukan seberapa berharga diri kita.
(FIR)
Perasaan seperti itu mungkin terdengar sepele. Namun, menurut Guru Besar Psikologi Swansea University, Phil Reed, Ph.D., kebiasaan mendapatkan validasi secara instan di media sosial dapat memengaruhi ekspektasi seseorang ketika berinteraksi di dunia nyata.
Dilansir dari tulisannya di Psychology Today, Reed menjelaskan bahwa fitur sederhana seperti tombol like, komentar, jumlah penonton, dan followers memberikan respons yang cepat kepada pengguna.
Sekali mengunggah sesuatu, dalam hitungan menit seseorang bisa langsung mengetahui apakah kontennya mendapat perhatian. Pujian dan respons positif tersebut kemudian dapat menjadi bentuk penguatan sosial yang membuat pengguna ingin mendapatkan pengalaman serupa lagi.
Ketika like berubah menjadi ekspektasi
Media sosial memang dirancang untuk memberikan respons secara cepat.
Seseorang mengunggah foto, video, pencapaian, atau pendapat. Tidak lama kemudian, muncul notifikasi berupa like, komentar, share, atau follower baru.
Masalahnya bukan pada like atau komentar itu sendiri. Yang perlu diperhatikan adalah ketika seseorang mulai terbiasa menjadikan respons tersebut sebagai ukuran untuk menilai dirinya sendiri.
Menurut Reed, validasi daring dapat menjadi penguat emosional yang kuat, terutama pada individu yang memiliki kebutuhan tinggi terhadap pengakuan sosial.
Jika pola ini berlangsung terus-menerus, seseorang bisa mulai membawa ekspektasi dari dunia maya ke kehidupan sehari-hari.
Di media sosial, misalnya, satu unggahan bisa mendapatkan puluhan bahkan ratusan respons dalam waktu singkat. Sementara dalam kehidupan nyata, perhatian orang lain tidak selalu datang secepat itu.
Teman mungkin tidak langsung memuji pencapaian kita. Rekan kerja belum tentu memberikan apresiasi setiap kali pekerjaan selesai. Bahkan orang terdekat pun tidak selalu memberikan respons sesuai yang kita harapkan.
Perbedaan inilah yang menurut Reed dapat menciptakan apa yang ia sebut sebagai frustration gap, atau jarak antara harapan dan kenyataan.
Dunia nyata tidak bekerja seperti kolom komentar
Bayangkan kamu terbiasa mendapat komentar positif setiap kali membagikan sesuatu di media sosial.
Lalu suatu hari kamu melakukan sesuatu yang menurutmu cukup membanggakan. Kamu berharap orang-orang di sekitar memberikan respons yang sama.
Ternyata tidak ada yang terlalu memperhatikan.
Alih-alih merasa biasa saja, kamu justru kecewa. Bahkan bisa muncul pikiran seperti, “Kok enggak ada yang menghargai?” atau “Kenapa orang lain enggak memperlakukan aku seperti di media sosial?”
Menurut Reed, ketika harapan mendapatkan pengakuan tersebut tidak terpenuhi, rasa kecewa dapat berkembang menjadi kemarahan yang berkaitan dengan perasaan berhak mendapatkan perlakuan tertentu.
Inilah yang membuat validasi digital menarik untuk diperhatikan.
Bukan karena mendapatkan like adalah sesuatu yang buruk, melainkan karena otak dan emosi manusia dapat terbiasa dengan pola penghargaan yang berulang.
Media sosial juga tidak memperlihatkan seluruh cerita
Ada persoalan lain yang sering luput ketika melihat kehidupan orang lain di media sosial.
Sebagian besar konten yang muncul di lini masa sudah melalui proses kurasi.
Orang cenderung membagikan foto ketika liburan, bukan saat masih mengumpulkan uang untuk pergi. Membagikan pencapaian setelah berhasil mendapatkan pekerjaan, bukan puluhan lamaran yang sebelumnya ditolak.
Kita melihat rumah yang sudah rapi, bukan proses membereskannya. Melihat hasil proyek, bukan lembur dan revisi di belakang layar.
Akibatnya, media sosial dapat membuat pencapaian terlihat jauh lebih cepat dan mudah daripada kenyataannya.
Ketika terbiasa melihat hasil akhir orang lain, seseorang bisa tanpa sadar membandingkannya dengan proses dirinya sendiri.
Padahal, apa yang terlihat di layar hanyalah sebagian kecil dari kehidupan seseorang.
Bukan berarti harus berhenti main media sosial
Lalu, apakah solusinya harus menghapus semua media sosial? Tidak juga.
Reed menyarankan pengguna untuk membangun kesadaran kritis ketika berselancar di dunia maya. Artinya, kita perlu menyadari bahwa validasi digital hanyalah salah satu bentuk respons sosial dan tidak seharusnya menjadi satu-satunya ukuran nilai diri.
Coba perhatikan bagaimana perasaanmu setelah membuka media sosial.
Apakah kamu merasa terhibur, mendapatkan informasi, dan terhubung dengan orang lain? Atau justru semakin sering membandingkan diri, mengejar like, dan merasa kesal ketika tidak mendapatkan perhatian?
Pertanyaan sederhana tersebut bisa membantu melihat apakah penggunaan media sosial sudah mulai memengaruhi cara kita memandang diri sendiri.
Belajar menikmati proses, bukan cuma respons
Pada akhirnya, like, komentar, dan jumlah followers memang menyenangkan. Mendapat apresiasi juga merupakan hal yang wajar membuat seseorang merasa senang.
Namun, kehidupan nyata tidak memiliki tombol like untuk setiap hal yang kita lakukan.
Tidak semua kerja keras akan langsung dipuji. Tidak semua kebaikan mendapatkan ucapan terima kasih. Bahkan pencapaian yang menurut kita besar mungkin saja dianggap biasa oleh orang lain.
Dan itu bukan berarti usaha kita menjadi tidak berarti.
Karena itu, penting untuk membangun sumber kepuasan yang tidak sepenuhnya bergantung pada respons orang lain.
Nikmati proses ketika belajar sesuatu. Hargai pekerjaan yang berhasil diselesaikan. Rayakan pencapaian tanpa harus selalu mengunggahnya.
Sebab, ketika validasi tidak datang dalam bentuk notifikasi, kita tetap bisa tahu bahwa apa yang kita lakukan punya arti.
Media sosial boleh menjadi tempat mencari inspirasi dan terhubung dengan orang lain. Tapi jangan sampai jumlah like menentukan seberapa berharga diri kita.
(FIR)