FITNESS & HEALTH
Flu Lagi Naik, Anak Perlu Vaksin Influenza? Ini Kata IDAI
A. Firdaus
Selasa 22 September 2026 / 07:28
- Aktivitas influenza meningkat di Asia Tenggara.
- IDAI merekomendasikan vaksin influenza setiap tahun bagi anak mulai usia enam bulan.
- Vaksinasi bukan satu-satunya langkah yang perlu dilakukan orang tua.
Jakarta: Flu mungkin terlihat seperti penyakit ringan yang biasa dialami anak. Namun, influenza dapat menyebabkan komplikasi dan pada kondisi tertentu membuat anak harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi influenza setiap tahun bagi anak mulai usia enam bulan. Vaksinasi dinilai menjadi salah satu upaya untuk menurunkan risiko infeksi sekaligus mengurangi keparahan penyakit dan komplikasinya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), menjelaskan vaksin influenza perlu diberikan setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan.
“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin tahun ini dirancang untuk mencocokkan strain yang diprediksi akan bersirkulasi,” kata Anggraini dalam keterangan resmi.
Selain melindungi anak yang mendapatkan vaksin, vaksinasi juga dapat memberikan perlindungan tidak langsung bagi anggota keluarga lainnya. Salah satunya bayi berusia di bawah enam bulan yang belum dapat menerima vaksin influenza.
Rekomendasi IDAI tersebut disampaikan ketika aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui WHO Western Pacific Region untuk periode 1 September 2025 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas influenza di kawasan tersebut terus meningkat.
Di Indonesia, pemantauan sentinel menunjukkan aktivitas influenza yang berfluktuasi sepanjang tahun. Puncak aktivitas tercatat pada akhir 2025 dan kembali mengalami lonjakan pada pertengahan 2026.
Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan subtipe Influenza A H3N2 subklad K telah terdeteksi di 13 provinsi. Lonjakan pasien influenza juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur.
Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), mengatakan anak termasuk kelompok yang rentan mengalami infeksi influenza.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa,” ujar Hikari.
Menurutnya, sistem imun anak masih berkembang sehingga tubuh belum sekuat orang dewasa dalam mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut membuat anak berpotensi menjadi sumber penularan influenza di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Data IDAI menunjukkan sekitar lima persen anak yang terinfeksi influenza membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak berusia di bawah dua tahun, sementara 50 persen lainnya berusia kurang dari enam bulan.
Anggraini menjelaskan vaksin influenza tersedia dalam beberapa bentuk, yakni vaksin inaktif trivalen atau kuadrivalen. Selain itu, terdapat vaksin hidup yang diberikan melalui hidung untuk kelompok usia 2–49 tahun dalam kondisi sehat.
Vaksinasi influenza disebut dapat mengurangi risiko infeksi sekitar 40–60 persen. Selain menurunkan kemungkinan terinfeksi, vaksin juga dapat membantu mengurangi keparahan penyakit dan risiko komplikasi.
Namun, vaksinasi bukan satu-satunya langkah yang perlu dilakukan orang tua.
IDAI juga mengingatkan pentingnya kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menggunakan masker ketika diperlukan, menerapkan etika batuk dan tidak membawa anak yang sedang sakit ke sekolah atau tempat bermain hingga benar-benar pulih.
Anak yang terinfeksi influenza diketahui dapat menularkan virus sejak sekitar 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya.
Karena itu, ketika anak mulai sakit, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan atau hidrasi, serta memberikan obat penurun demam sesuai indikasi.
Untuk anak yang termasuk kelompok berisiko tinggi atau mengalami gejala berat, obat antivirus atau obat lain dapat diberikan berdasarkan resep dokter. Dosis obat perlu disesuaikan dengan usia dan berat badan anak dan, idealnya, diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.
Orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya influenza pada anak. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, demam tinggi yang tidak kunjung turun, penurunan kesadaran, atau tanda dehidrasi.
Dengan vaksinasi tahunan dan penerapan kebiasaan hidup bersih, risiko influenza dan komplikasinya pada anak dapat ditekan sekaligus membantu melindungi anggota keluarga lainnya.
(FIR)
Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) merekomendasikan vaksinasi influenza setiap tahun bagi anak mulai usia enam bulan. Vaksinasi dinilai menjadi salah satu upaya untuk menurunkan risiko infeksi sekaligus mengurangi keparahan penyakit dan komplikasinya.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropis IDAI, Prof. Dr. dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp IPT(K), menjelaskan vaksin influenza perlu diberikan setiap tahun karena virus influenza terus mengalami perubahan.
Baca Juga :
Influenza A vs Flu Biasa, Emang Bedanya Apa?
“Vaksinasi influenza harus diberikan setiap tahun karena virus influenza terus berevolusi melalui antigenic drift dan antigenic shift. Vaksin tahun ini dirancang untuk mencocokkan strain yang diprediksi akan bersirkulasi,” kata Anggraini dalam keterangan resmi.
Selain melindungi anak yang mendapatkan vaksin, vaksinasi juga dapat memberikan perlindungan tidak langsung bagi anggota keluarga lainnya. Salah satunya bayi berusia di bawah enam bulan yang belum dapat menerima vaksin influenza.
Aktivitas Influenza Meningkat
Rekomendasi IDAI tersebut disampaikan ketika aktivitas influenza di kawasan Asia Tenggara menunjukkan peningkatan.
Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melalui WHO Western Pacific Region untuk periode 1 September 2025 hingga 30 Agustus 2026, aktivitas influenza di kawasan tersebut terus meningkat.
Di Indonesia, pemantauan sentinel menunjukkan aktivitas influenza yang berfluktuasi sepanjang tahun. Puncak aktivitas tercatat pada akhir 2025 dan kembali mengalami lonjakan pada pertengahan 2026.
Kementerian Kesehatan RI juga melaporkan subtipe Influenza A H3N2 subklad K telah terdeteksi di 13 provinsi. Lonjakan pasien influenza juga dilaporkan terjadi di Jawa Timur.
Anak Lebih Rentan Terinfeksi
Sekretaris Umum Pengurus Pusat IDAI, DR Dr Hikari Ambara Sjakti, Sp.A, Subsp H.Onk(K), mengatakan anak termasuk kelompok yang rentan mengalami infeksi influenza.
“Data global menunjukkan bahwa anak usia 0–17 tahun memiliki risiko dua kali lebih tinggi untuk mengalami infeksi influenza simtomatik dibandingkan orang dewasa,” ujar Hikari.
Menurutnya, sistem imun anak masih berkembang sehingga tubuh belum sekuat orang dewasa dalam mengendalikan dampak infeksi virus. Anak juga cenderung melepaskan virus dalam jumlah lebih banyak dan dalam waktu yang lebih lama.
Kondisi tersebut membuat anak berpotensi menjadi sumber penularan influenza di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Data IDAI menunjukkan sekitar lima persen anak yang terinfeksi influenza membutuhkan perawatan di rumah sakit. Dari jumlah tersebut, sekitar 80 persen merupakan anak berusia di bawah dua tahun, sementara 50 persen lainnya berusia kurang dari enam bulan.
Vaksin Influenza Bisa Diberikan Setiap Tahun
Anggraini menjelaskan vaksin influenza tersedia dalam beberapa bentuk, yakni vaksin inaktif trivalen atau kuadrivalen. Selain itu, terdapat vaksin hidup yang diberikan melalui hidung untuk kelompok usia 2–49 tahun dalam kondisi sehat.
Vaksinasi influenza disebut dapat mengurangi risiko infeksi sekitar 40–60 persen. Selain menurunkan kemungkinan terinfeksi, vaksin juga dapat membantu mengurangi keparahan penyakit dan risiko komplikasi.
Namun, vaksinasi bukan satu-satunya langkah yang perlu dilakukan orang tua.
IDAI juga mengingatkan pentingnya kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan, menggunakan masker ketika diperlukan, menerapkan etika batuk dan tidak membawa anak yang sedang sakit ke sekolah atau tempat bermain hingga benar-benar pulih.
Anak yang terinfeksi influenza diketahui dapat menularkan virus sejak sekitar 24 jam sebelum gejala muncul hingga 10 hari setelahnya.
Karena itu, ketika anak mulai sakit, orang tua perlu memastikan anak mendapatkan istirahat yang cukup, memenuhi kebutuhan cairan atau hidrasi, serta memberikan obat penurun demam sesuai indikasi.
Untuk anak yang termasuk kelompok berisiko tinggi atau mengalami gejala berat, obat antivirus atau obat lain dapat diberikan berdasarkan resep dokter. Dosis obat perlu disesuaikan dengan usia dan berat badan anak dan, idealnya, diberikan dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul.
Orang tua juga perlu mengenali tanda bahaya influenza pada anak. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan apabila mengalami sesak napas, demam tinggi yang tidak kunjung turun, penurunan kesadaran, atau tanda dehidrasi.
Dengan vaksinasi tahunan dan penerapan kebiasaan hidup bersih, risiko influenza dan komplikasinya pada anak dapat ditekan sekaligus membantu melindungi anggota keluarga lainnya.
(FIR)