FITNESS & HEALTH

'Joker' Asal Jepang, Dilihat dari Sisi Psikologis

Yatin Suleha
Rabu 03 November 2021 / 20:11
Jakarta: Kejadian mengerikan terjadi pada 31 Oktober 2021. Seorang lelaki berpakaian mirip baju Joker melakukan tindakan keji di malam Halloween. 

Dikutip dari Kompas, pria tersebut bernama Kyota Hattori (24), melakukan serangan di sebuah kereta di Tokyo, Jepang. Ia menusuk 17 orang dan membakar kursi di gerbong kereta. Dari 17 orang yang tertusuk dikabarkan satu orang mengalami kritis

Bahkan dalam Kyodo News disebutkan ia mengaku ia menyukai sosok Joker, karakter jahat dalam film Batman, kata polisi pada Senin, 1 November 2021. Hattori sengaja menjalankan aksinya karena ia memang ingin membunuh orang dan mendapat hukuman mati.
 

Mengapa seseorang bisa berlaku seperti itu? 


Menurut Psikolog anak, remaja, dan keluarga Efnie Indrianie, M.Psi dari Fakultas Psikologi, Universitas Kristen Maranatha, Bandung, seseorang bisa melakukan tindakan yang bersifat antisosial pada umumnya di dasari oleh dua hal:
 

1. Faktor biologis


Studi menemukan laki-laki yang melakukan tindakan antisosial memang terkadang memiliki kadar hormon kortisol (hormon stres) yang fluktuatif di tubuhnya dan kadar hormon testosteron yang fluktuatif pula. Ini menjadi pemicu perilaku agresi
 

2. Social learning and imitation 


Sejak dini orang tersebut sudah terpapar pada hal-hal yang bernuansa agresi sejak dini. Meskipun terkadang hanya dari sebuah tayangan kartun, namun bisa saja adegannya ada unsur agresi seperti memukul, menendang, dan lainnya. 

Sejak dini seorang anak melihat hal-hal seperti itu tanpa pendampingan khusus dan penjelasan, maka mereka akan membentuk sebuah pola pikir “bahwa melakukan tindakan tersebut adalah hal biasa”. 

"Sang anak akan menyerap secara otomatis dan meniru. Jika tidak ditanggulangi ini bisa sampai dewasa," terang Efnie.


joker jepang
(Kunci utama adalah berhati-hati dengan informasi, seperti informasi yang kita dapatkan dari tayangan yang memuat tokoh tertentu yang dapat membuat kita larut dalam hal yang negatif. Foto: Ilustrasi/Pexels.com) 
 

Mengapa, ketika kita terlalu mengagumi seorang tokoh, bisa terimplementasi?


"Saat kita menonton tayangan yang menampilkan tokoh tertentu, dan pada saat itu kita sangat terkesima dan hanyut pada suasana tanyangan tersebut, maka gelombang otak kita akan mengalami penurunan sehingga posisi sistem kerja otak kita berada pada level terhipnotis," papar Efnie.

"Saat inilah fungsi critical thinking dari otak depan akan berhenti. Efeknya adalah secara otomatis kita menyerap tanyangan dan tokoh tersebut ke alam pra-sadar kita. Ini yang membuat kita akan mengalami apa yang disebut dengan 'relational schema', yaitu hadirnya tokoh tersebut di pikiran kita meskipun tokoh tersebut sebenarnya tidak nyata," ujar penulis buku "Survive Menghadapi Quarter Life Crisis" ini.

"Ini akan memberikan influence yang sangat besar pada perilaku yang akan kita tampilkan," tambah Efnie lagi.
 

Apa yang harus kita lakukan agar terhindar dari hal seperti itu?


Psikolog ramah ini memberikan tips. "Kunci utamanya adalah berhati-hati dengan informasi, seperti informasi yang kita dapatkan dari tayangan yang memuat tokoh tertentu. Saat kita larut dalam suasana tayangan/informasi tersebut maka kita secara otomatis dan tanpa kita sadari mengimitasi perilaku tersebut," pungkas Efnie.
(TIN)

MOST SEARCH