FITNESS & HEALTH

Alergi Susu Sapi jadi Penyebab Terjadinya Gangguan Saluran Cerna

Raka Lestari
Kamis 14 Oktober 2021 / 21:22
Jakarta: Gejala alergi yang terjadi pada anak, bisa terlihat pada saluran cerna. Akan tetapi gangguan pada saluran cerna bisa juga terjadi karena faktor lainnya. Misalnya saja karena adanya functional gastrointestinal disorder (FGID) yang juga disebut dengan gangguan saluran cerna fungsional.

Untuk membedakan keduanya, menurut dr. Frieda Handayani, SpA (K), Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi, biasanya gangguan saluran cerna yang disebabkan karena alergi disertai dengan gejala alergi lain. Seperti ruam atau merah di kulit.

“Sedangkan ganguan saluran cerna fungsional adalah gejala saluran cerna kronis, mapun rekuren yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya. Contohnya adalah kolik, gumoh, dan konstipasi,” ujar dr. Frieda, dalam acara Bicara Gizi dengan tema: Gejala Alergi Saluran Cerna VS Gangguan Saluran Cerna Fungsional: Cara Membedakannya.

Orang tua memiliki peran penting dalam memahami dan mengenali gejala alergi pada anak dan penanganan yang tepat, sehingga anak tetap mendapatkan nutrisi seimbang. Mengenali gejala alergi, terutama pada saluran cerna anak dan cara penanganannya juga dapat mengoptimalkan tumbuh kembang mereka agar dapat menjadi anak hebat.   
 

Alergi susu sapi menjadi yang paling banyak terjadi


Gangguan saluran cerna dapat bermanifestasi sebagai gejala alergi makanan, salah satunya adalah alergi susu sapi. Alergi yang terbanyak pada bayi adalah alergi susu sapi.

"Biasanya pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Setelah berusia lebih dari 6 bulan, maka bisa banyak alergi yang terjadi pada tubuh bayi,” kata dr. Frieda.

“Termasuk alergi terhadap telur, produk susu, kacang-kacangan, ikan, sereal, dan kemudian dapat juga terhadap tungau, debu rumah, debu hewan, dan lainnya. Namun perlu diingat bahwa alergi susu sapi biasanya terjadi dalam 1 bulan pertama kehidupan atau setelah bayi mendapatkan protein susu sapi selama 1 minggu lamanya,” ujar dr. Frieda.

Menurut dr. Frieda, alergi susu sapi ini terjadinya di awal kehidupan atau di bulan pertama kehidupannya. Jika gejala alergi dan melibatkan reaksi imunitas atau daya tahan tubuh tentunya manifestasi klinis atau gejalanya bisa terjadi dimana-mana.

Bisa terjadi di organ kulit, saluran napas, di sistemik atau saluran darah yang menyebabkan gejala parah, karena dapat membuat penyempitan pembuluh darah dan penyempitan pembuluh darah di paru.

"Sehingga menyebabkan sesak dan kesulitan bernapas. Tentu saja kejadian ini mengancam nyawa dan disebut dengan syok anafilaksis. Namun kejadiannya hanya sekitar 1-2 persen,” kata dr. Frieda.

Pada umumnya anak-anak mengalami gejala ringan-sedang. Gejala ringan-sedang itu mencakup sekitar 85-90 persen anak-anak.

"Misalnya, gejala ringan itu adalah kulitnya gatal, kemerahan, sedikit bengkak, kemudian ada sedikit gumoh, muntah, konstipasi atau sembelit ringan,” jelas dr. Frieda.

“Namun kalau misalnya gejala alergi yang berat, bisa syok, kesulitan bernapas, BAB berdarah, bisa juga terjadi anemia karena sering terjadi perdarahan di saluran cerna, serta terjadi gagal tumbuh,”  tambah dr. Frieda.
 

Pentingnya melakukan deteksi dini


"Melakukan deteksi dini pada gejala alergi saluran cerna anak sangatlah penting. “Kami menghadirkan Allergy-Tummy Checker untuk mempermudah orang tua membedakan gejala gangguan saluran cerna yang disebabkan oleh alergi atau hanya gangguan saluran cerna biasa,” ujar Gut and Care Manager Danone Indonesia, Shiera Maulidya.

“Dengan Allergy-Tummy Checker, nantinya para orang tua dapat mengetahui tata laksana yang diperlukan anak untuk menghindari kondisi pemicu alergi, termasuk pada pemilihan nutrisi untuk anak yang tidak cocok mengonsumsi susu sapi,” tutup Shiera.
(FIR)

MOST SEARCH