FITNESS & HEALTH

Bukan Lebay, Ini Alasan Emosi Bisa Makin Naik Turun

A. Firdaus
Sabtu 03 Oktober 2026 / 11:43
Ringkasnya gini..
  • Emosi yang berubah-ubah bisa dipengaruhi perubahan tubuh, otak, serta kondisi lingkungan.
  • Mengenali sinyal tubuh dan memberi nama pada emosi membantu memahami apa yang sebenarnya dirasakan.
  • Menjaga kondisi tubuh dan mencari dukungan saat emosi terasa berat juga penting.

Jakarta: Baru aja ketawa bareng teman, beberapa jam kemudian malah kesel, sedih, atau pengen menyendiri? Emosi yang berubah-ubah kayak roller coaster memang bisa bikin bingung. Tapi bukan berarti kamu lebay atau terlalu sensitif. Ada banyak faktor yang bisa bikin emosi terasa lebih kuat dan sulit ditebak.

BBC Bitesize membahas hal ini bersama Dr Emma Hepburn, psikolog klinis yang dikenal sebagai The Psychology Mum. Menurut Emma, emosi merupakan bagian normal dari cara kerja otak dan tubuh. Kemampuan untuk mengenali, memahami, dan merespons emosi juga bukan sesuatu yang harus langsung dikuasai. Skill ini bisa dipelajari dan dilatih.

 

Cozy Journaling in Warm Sunlight

(Seseorang mengenali dan memahami emosinya melalui journaling. Foto: AI Generated)

 

Kenapa emosi bisa naik turun?

Masa remaja dipenuhi berbagai perubahan pada tubuh dan otak. Perubahan hormon selama pubertas dapat memengaruhi respons emosional. Di saat yang sama, bagian otak yang berhubungan dengan perencanaan, pengendalian impuls, pemecahan masalah, dan regulasi emosi masih berkembang.

Faktor dari luar juga ikut berpengaruh. Ujian, tuntutan sekolah, perubahan pertemanan, pengalaman baru, sampai makin sadar terhadap diri sendiri bisa membuat tekanan terasa lebih besar.

Kebiasaan sehari-hari pun nggak kalah penting. Kurang tidur, jarang bergerak, makan nggak teratur, kurang minum, dan stres berlebihan dapat membuat tubuh lebih sulit menghadapi tekanan.

 

Coba kenali sinyal dari tubuh

Langkah awal untuk memahami emosi adalah menyadari apa yang sedang terjadi. Kamu bisa menggunakan skala sederhana: hijau ketika merasa oke, kuning saat mulai tertekan, dan merah ketika emosi terasa sangat intens.

Perhatikan juga respons tubuh. Bahu tegang, telapak tangan berkeringat, pikiran berlarian, atau tubuh terasa gelisah bisa menjadi tanda adanya emosi tertentu.

Coba juga cari polanya. Kapan perasaan tersebut muncul? Apa yang terjadi sebelumnya? Dengan memahami pola, kamu bisa lebih cepat menyadari saat mulai kewalahan.

 


 

Jangan cuma bilang “bad mood”

Daripada berhenti di “lagi bad mood”, coba kasih nama yang lebih spesifik. Bisa jadi kamu sebenarnya sedang kecewa, cemas, iri, frustrasi, sedih, atau khawatir.

Kemampuan membedakan emosi secara lebih detail disebut emotional granulation. Semakin banyak kosakata emosi yang kamu punya, semakin mudah memahami apa yang sedang dirasakan dan menentukan respons yang sesuai.

 

Jangan lupa isi ulang energi

Kondisi tubuh juga berpengaruh terhadap emosi. Tidur cukup, makan teratur, minum air yang cukup, bergerak, dan menyisihkan waktu untuk aktivitas yang menyenangkan bisa membantu menjaga energi tetap terisi.

Kalau emosi lagi naik turun, nggak perlu buru-buru menghakimi diri sendiri. Emosi bukan sesuatu yang harus selalu dilawan atau disembunyikan. Justru, semakin kita paham apa yang sedang dirasakan, semakin mudah menentukan cara untuk meresponsnya.
 

Jadi, saat tiba-tiba merasa sedih, marah, cemas, atau overwhelmed, coba berhenti sebentar dan dengarkan sinyal dari tubuh. Cari tahu apa yang memicunya, kasih nama pada perasaannya, lalu lakukan hal yang bisa membantu tubuh dan pikiran kembali lebih tenang.

Kalau semuanya terasa terlalu berat untuk dihadapi sendirian, nggak ada salahnya cerita kepada orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional. Minta bantuan bukan berarti lemah. Kadang, kita memang cuma butuh seseorang untuk membantu melihat apa yang sedang kita rasakan.

Desi I.



Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH