FITNESS & HEALTH
Dokter Ungkap Bahaya Aritmia Tanpa Gejala, Bisa Berujung Kematian Mendadak
Fatha Annisa
Kamis 30 Juli 2026 / 17:50
- Dokter mengingatkan gangguan irama jantung (aritmia) tidak selalu menimbulkan gejala, padahal dapat berujung pada stroke hingga kematian mendadak.
- Hampir satu dari tiga pasien fibrilasi atrium tidak menyadari kondisinya dan baru terdiagnosis setelah mengalami stroke.
- Pemeriksaan elektrokardiogram (EKG) dan pemantauan EKG berkala penting dilakukan untuk mendeteksi aritmia yang sering kali tidak bergejala.
Jakarta: Gangguan irama jantung atau aritmia tidak selalu disertai gejala irama jantung abnormal. Justru, kondisi yang paling membahayakan adalah aritmia yang tidak disadari penderitanya hingga menimbulkan komplikasi serius seperti stroke atau henti jantung.
Hal tersebut disampaikan Dr. dr. Simon Salim, Sp.pd - KKV, Mkes, AIFO, FINASIM, FACP, FICA, FHRS, FACC, Konsultan Elektrofisiologi/Terapi Alat & Kardiologi Intervensi Brawijaya Hospital, dalam acara talkshow “Saving Time, Saving Organ, Saving Future”.
“Justru yang kita takutkan adalah adanya gangguan irama tanpa keluhan. Jadi ada beberapa orang itu asimtomatik, tanpa gangguan yang dirasakan, padahal memiliki gangguan irama yang konsekuensinya berat sekali,” ujar Simon, Kamis, 30 Juli 2026.
Menurut Simon, salah satu contoh yang sering ditemui adalah Atrial Fibrilasi, yakni aritmia di mana serambi atas jantung berdenyut cepat dan tidak beraturan. Ia menyebut hampir 1 dari 3 pasien Atrial Fibrilasi tidak memiliki gejala dan baru diketahui saat sudah mengidap stroke.
Selain itu, aritmia juga bisa menyebabkan kematian mendadak meskipun tidak ada riwayat jantung koroner. Kondisi ini kerap menjadi penyebab seseorang tiba-tiba kolaps saat sedang berolahraga.
“Jadi kalau misalnya ada orang lagi olahraga meninggal mendadak, padahal tidak pernah punya penyakit jantung koroner, itu kemungkinan juga karena gangguan irama jantung yang sebelumnya tidak ada gejala,” kata Simon.
Simon lantas menekankan bahwa gangguan pada sistem kelistrikan jantung sering kali muncul tanpa tanda peringatan sehingga sulit dikenali sejak awal. Oleh karenanya, kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja.
Meski demikian, bukan berarti kondisi tersebut tidak bisa dideteksi. Simon menjelaskan, sebagian pasien memang dapat menunjukkan petunjuk awal, tetapi sebagian besar kasus gangguan listrik jantung tidak disertai gejala.
"Ada beberapa yang beruntung kita dapat petunjuk di awal kecenderungan untuk henti jantung tiba-tiba atau sebagainya, tapi kebanyakan itu kalau khusus gangguan jantung tiba-tiba karena listrik itu tidak ada gejalanya,” tuturnya.
Karena itu, pemeriksaan objektif seperti rekam elektrokardiogram (EKG), termasuk penggunaan alat perekam EKG portable selama 24 jam atau lebih, menjadi penting untuk membantu mendeteksi gangguan irama jantung yang tidak selalu muncul saat pemeriksaan singkat di rumah sakit.
“Biasanya kita merekam EKG secara berkala, yang tampak pada pemeriksaan. Yang pertama, kelainannya di mana. Tapi kalau misalnya kelainan jantung diperiksa EKG nanti konsul, itu hasilnya bisa normal, jadi harus diperiksa pada saat lagi kambuh,” tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)
Hal tersebut disampaikan Dr. dr. Simon Salim, Sp.pd - KKV, Mkes, AIFO, FINASIM, FACP, FICA, FHRS, FACC, Konsultan Elektrofisiologi/Terapi Alat & Kardiologi Intervensi Brawijaya Hospital, dalam acara talkshow “Saving Time, Saving Organ, Saving Future”.
“Justru yang kita takutkan adalah adanya gangguan irama tanpa keluhan. Jadi ada beberapa orang itu asimtomatik, tanpa gangguan yang dirasakan, padahal memiliki gangguan irama yang konsekuensinya berat sekali,” ujar Simon, Kamis, 30 Juli 2026.
| Baca juga: Pemerataan Dokter Jantung & Cath Lab: Biar Akses Kesehatan Makin Sat-set! |
Menurut Simon, salah satu contoh yang sering ditemui adalah Atrial Fibrilasi, yakni aritmia di mana serambi atas jantung berdenyut cepat dan tidak beraturan. Ia menyebut hampir 1 dari 3 pasien Atrial Fibrilasi tidak memiliki gejala dan baru diketahui saat sudah mengidap stroke.
Selain itu, aritmia juga bisa menyebabkan kematian mendadak meskipun tidak ada riwayat jantung koroner. Kondisi ini kerap menjadi penyebab seseorang tiba-tiba kolaps saat sedang berolahraga.
“Jadi kalau misalnya ada orang lagi olahraga meninggal mendadak, padahal tidak pernah punya penyakit jantung koroner, itu kemungkinan juga karena gangguan irama jantung yang sebelumnya tidak ada gejala,” kata Simon.
| Baca juga: Atrial Fibrillation jadi Pemicu Stroke, Ini Pentingnya Periksa Nadi Rutin |
Simon lantas menekankan bahwa gangguan pada sistem kelistrikan jantung sering kali muncul tanpa tanda peringatan sehingga sulit dikenali sejak awal. Oleh karenanya, kondisi ini bisa terjadi kapan saja dan pada siapa saja.
Meski demikian, bukan berarti kondisi tersebut tidak bisa dideteksi. Simon menjelaskan, sebagian pasien memang dapat menunjukkan petunjuk awal, tetapi sebagian besar kasus gangguan listrik jantung tidak disertai gejala.
"Ada beberapa yang beruntung kita dapat petunjuk di awal kecenderungan untuk henti jantung tiba-tiba atau sebagainya, tapi kebanyakan itu kalau khusus gangguan jantung tiba-tiba karena listrik itu tidak ada gejalanya,” tuturnya.
| Baca juga: Kapan Waktunya Melakukan EKG yang Benar? Dokter Jawab Begini |
Karena itu, pemeriksaan objektif seperti rekam elektrokardiogram (EKG), termasuk penggunaan alat perekam EKG portable selama 24 jam atau lebih, menjadi penting untuk membantu mendeteksi gangguan irama jantung yang tidak selalu muncul saat pemeriksaan singkat di rumah sakit.
“Biasanya kita merekam EKG secara berkala, yang tampak pada pemeriksaan. Yang pertama, kelainannya di mana. Tapi kalau misalnya kelainan jantung diperiksa EKG nanti konsul, itu hasilnya bisa normal, jadi harus diperiksa pada saat lagi kambuh,” tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(PRI)