Layaknya Seperti Baterai, Pasien Bradiaritmia Gunakan Leadless Pacemaker Tak Bisa MRI?
- Leadless pacemaker merupakan alat pacu jantung yang tidak memerlukan baterai terpisah di bawah kulit atau kabel yang menuju ke jantung.
- Alat pacu jantung atau leadless pacemaker ini dibutuhkan ketika seseorang mengalami bradiaritmia.
- Alat ini juga memiliki masa waktu dengan rentang waktu hingga 12 tahun.
Jakarta: Leadless pacemaker merupakan alat pacu jantung yang tidak memerlukan baterai terpisah di bawah kulit atau kabel yang menuju ke jantung. Namun, apakah pasien bisa melakukan MRI?
Leadless pacemaker lebih jelasnya merupakan perangkat kecil satu bagian yang dimasukkan oleh penyedia layanan kesehatan ke dalam jantung untuk mencegah detak jantung yang lambat atau bradiaritmia.
Menurut dr. Budi Ario Tejo, Sp.JP(K), FIHA selaku Dokter Spesialis Jantung di Siloam Hospitals TB Simatupang, sekitar 6,1 persen penduduk Indonesia mengalami penyakit kardiovaskular.
Salah satu yang tidak terlihat atau sering tak disadari adalah bradiaritmia. Bradiaritmia adalah kondisi ketika jantung berdetak lebih lambat dari normal, yaitu di bawah 60 denyut per menit akibat gangguan irama atau kelistrikan jantung.
"Irama yang terlalu lambat ini tentu menyebabkan kebutuhan tubuhnya tidak tercukupi. Jadi, kita tahu bahwa fungsi jantung adalah memompa darah ke seluruh tubuh, termasuk ke otak. Jadi, untuk mencukupi kebutuhan tubuh itu tentu diperlukan laju jantung yang cukup," kata dr. Budi dalam diskusi media secara daring, Rabu, 2 September 2026.
Alat pacu jantung atau leadless pacemaker ini dibutuhkan ketika seseorang mengalami bradiaritmia. Alat ini dapat mendeteksi sinyal listrik jantung diri sendiri. Alat ini juga dapat memberikan impuls listrik tambahan ketika impuls alami tidak cukup sering.
Alat pacu jantung tanpa kabel ini memiliki panjang sekitar 1 hingga 1,5 inci (3 hingga 4 sentimeter). Perangkat ini tampak seperti silinder logam kecil. Ukurannya lebih kecil dari baterai AAA.
Sebenarnya tujuan pemasangan dari leadless pacemaker ini adalah agar pasien dapat beraktivitas normal kembali dengan pacu jantung yang cukup. Namun, apakah pasien dapat melakukan kegiatan seperti MRI?
Dr. Budi Tejo pun menjelaskan bahwa tidak ada batasan dalam pergerakan aktivitas. Namun, ada catatan kecil untuk kegiatan-kegiatan yang mengandung magnet.
"Catatannya adalah medan magnet. Jadi, pacemaker ini sensitif terhadap medan magnet. Jadi, disarankan untuk menjaga jarak pacemaker dengan medan magnet kurang lebih 30 sentimeter," paparnya.
"Pada pasien yang memerlukan pemeriksaan yang menggunakan medan magnet, katakanlah MRI, itu bisa dilakukan. Namun, ada prosedur yang harus dijalani dulu. Jadi, kita perlu setting dulu alatnya, sehingga aman untuk dilakukan MRI," lanjut dr. Budi.
Selain itu, alat ini juga memiliki masa waktu dengan rentang waktu hingga 12 tahun. Namun, bukan berarti pasien akan dilepaskan begitu saja jika mendekati waktu masa habis.
Menurut dr. Budi, tim medis akan melakukan pemantauan kondisi secara berkala sejak awal pemasangan. Pemantauan dilakukan 6 bulan hingga 1 tahun secara berkala untuk melihat apakah alatnya memiliki masalah atau tidak.
"Kalau dari pemeriksaan tersebut ternyata memang kita lihat sudah memasuki fase kritis, atau kita bilang adalah elective replacement interval, nah itu harus sudah perlu diperimbangkan untuk diganti atau dipasang baterai baru," imbuhnya.
(FIR)