FITNESS & HEALTH

Waspada “Ancaman Tak Terlihat” Dokter Ungkap Bahaya Timbal bagi Kesehatan Anak

A. Firdaus
Kamis 09 April 2026 / 09:15
Ringkasnya gini..
  • Timbal di Indonesia masih seperti fenomena gunung es.
  • Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan dalam berbagai produk industri.
  • Dampak timbal tidak hanya bersifat akut, tetapi juga kronis.
Jakarta: Paparan zat berbahaya di lingkungan kini menjadi isu yang semakin mendapat perhatian, termasuk di Indonesia. Di tengah fokus pada penyakit infeksi, ancaman lain yang tak kalah serius justru datang dari paparan logam berat seperti timbal. Meski sering tidak disadari, dampaknya bisa berlangsung jangka panjang dan memengaruhi kualitas hidup, terutama pada anak-anak.

Timbal di Indonesia masih seperti fenomena gunung es, yang terlihat hanya sebagian kecil. Sementara kasus sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.

Kurangnya pemeriksaan dan surveillance membuat banyak kasus tidak terdeteksi. Padahal dampaknya sudah mulai terasa di masyarakat.
 
Timbal merupakan logam berat yang banyak digunakan dalam berbagai produk industri, seperti cat, pipa, hingga bahan bangunan. Meski bermanfaat secara industri, zat ini berbahaya bagi tubuh manusia, jika terakumulasi dalam jumlah besar dan dalam jangka waktu lama. Paparan timbal bisa masuk ke tubuh melalui berbagai jalur, mulai dari pernapasan, makanan dan minuman, hingga kontak kulit.

“Tubuh sebenarnya memiliki mekanisme untuk membuang zat berbahaya, melalui organ seperti ginjal dan hati. Namun, jika paparannya berlebihan dan terjadi terus-menerus, kemampuan tubuh menjadi terbatas. Akhirnya timbal mengendap di jaringan tubuh dan memicu berbagai penyakit kronis,” jelas Dokter Spesialis anak, dr. Reza Fahlevi, Sp.A. dalam acara Membangun Ruang yang Lebih Sehat Melalui Pemilihan Material Bangunan yang Aman di Abeto, Menteng, Jakarta, Rabu (08/04/26).

Dampak timbal tidak hanya bersifat akut, tetapi juga kronis. Pada kasus paparan tinggi, bisa terjadi keracunan akut yang merusak sel darah. Namun, yang lebih sering terjadi adalah paparan jangka panjang, dengan gejala yang tidak langsung terlihat. Timbal dapat menumpuk di organ penting seperti otak, ginjal, hati, tulang, hingga sistem reproduksi.

Pada sistem saraf, timbal dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya ingat, hingga penurunan kecerdasan (IQ), terutama pada anak-anak. “Ini yang paling mengkhawatirkan. Paparan timbal bisa menyebabkan anak kehilangan potensi optimalnya, bahkan berisiko menjadi lost generation,” ungkap dr. Reza.

Selain itu, timbal juga berdampak pada pertumbuhan dan kesehatan tulang, serta fungsi ginjal. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat berkembang menjadi penyakit kronis. Tidak hanya itu, timbal juga berpengaruh terhadap sistem reproduksi, seperti menurunkan kualitas sperma, meningkatkan risiko infertilitas, hingga keguguran pada perempuan.

Yang lebih mengkhawatirkan, timbal dapat menembus plasenta dan berpindah dari ibu ke janin. Artinya, paparan sudah bisa terjadi sejak dalam kandungan, bahkan sebelum anak lahir ke dunia.

Data awal menunjukkan bahwa paparan timbal, pada anak di Indonesia cukup tinggi. Bahkan, disebutkan bahwa sekitar satu dari tujuh anak berpotensi, memiliki kadar timbal yang tinggi dalam tubuhnya. Hal ini menunjukkan, pentingnya peningkatan kesadaran dan langkah pencegahan sejak dini.

Paparan timbal pada anak, berkaitan juga dengan masalah lain seperti malnutrisi. Timbal dapat mengganggu penyerapan zat penting seperti kalsium dan zat besi, yang berperan dalam pertumbuhan dan perkembangan otak. Akibatnya, anak berisiko mengalami gangguan tumbuh kembang, serta penurunan kemampuan belajar.

Sebagai langkah pencegahan, dr. Reza menekankan pentingnya mengenali sumber timbal di lingkungan sekitar, terutama di rumah. Pemilihan bahan bangunan, cat, mainan, serta peralatan makan perlu diperhatikan, agar aman dari kandungan logam berat. Kebersihan juga menjadi kunci, termasuk kebiasaan mencuci tangan dan menjaga higienitas lingkungan.

Selain itu, asupan nutrisi yang cukup seperti kalsium, zat besi, dan vitamin C juga dapat membantu mengurangi penyerapan timbal dalam tubuh. Di tingkat yang lebih luas, diperlukan peran pemerintah dan tenaga kesehatan, dalam meningkatkan deteksi dini serta edukasi kepada masyarakat.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH