FITNESS & HEALTH
RSCM dan HeartSpan.ai Berhasil Tanamkan LVAD Terkecil Pertama di Asia
A. Firdaus
Kamis 06 Agustus 2026 / 12:14
- LVAD adalah alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh.
- Angka berat ini dikatakan lebih ringan dibandingkan beberapa alat yang serupa di dunia.
- Teknologi CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok.
Jakarta: Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) bersama Heartspan.ai berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6. Ini adalah yang pertama di Asia.
LVAD adalah alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini telah terbukti meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang harapan hidup pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.
Keberhasilan ini dinilai membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut. Selama ini memiliki pilihan terapi sangat terbatas akibat sulitnya memperoleh donor jantung maupun tenaga ahli transplantasi.
Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, teknologi LVAD menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis. Hal ini karena hadirnya tantangan penanganan gagal jantung karena keterbatasan di Indonesia.
"Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar di RSCM, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, namun, menjadi pemain utama dalam pengembangannya.
Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional. Hal ini agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, mengatakan bahwa ukuran dari alat ini sekitar 90 grams.
Angka berat ini dikatakan lebih ringan dibandingkan beberapa alat yang serupa di dunia. HeartSpan.ai sendiri mendonasikan kepada satu pasien di Indonesia yang ditangani dokter-dokter jantung RSCM.
Pada proses operasi, diperkirakan waktunya sekitar 4-5 jam secara keseluruhan. Namun, untuk pemasangan alat ini, membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam saja.
Kolaborasi antara HeartSpan.ai, RSCM, dan berbagai mitra internasional mencakup donasi perangkat, pelatihan dokter, transfer pengetahuan, hingga pengembangan sistem layanan berbasis kecerdasan buatan (Al).
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," ujar Dr. Wei.
Saat ini, teknologi CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Bahkan, pada sebagian pasien, perangkat dapat dilepas setelah dua hingga tiga tahun karena fungsi jantung kembali membaik.
Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan keberhasilan implantasi LVAD CoreHeart 6 menjadi tonggak baru layanan jantung nasional. Hal ini sekaligus bukti kepercayaan dunia internasional terhadap kemampuan tenaga medis Indonesia.
"Ini merupakan harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Kami ingin RSCM menjadi pusat pengembangan teknologi ini di kawasan Asia," jelas Supriyanto.
Supriyanto lebih lanjut berharap kerja sama dengan HeartSpan.ai terus berkembang sehingga RSCM dapat menjadi pusat pelatihan (training center) teknologi LVAD di Asia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)
LVAD adalah alat bantu pompa jantung yang dipasang melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri memompa darah ke seluruh tubuh. Teknologi ini telah terbukti meningkatkan kualitas hidup serta memperpanjang harapan hidup pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.
Keberhasilan ini dinilai membuka harapan baru bagi pasien gagal jantung stadium lanjut. Selama ini memiliki pilihan terapi sangat terbatas akibat sulitnya memperoleh donor jantung maupun tenaga ahli transplantasi.
Menurut Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan, Azhar Jaya, teknologi LVAD menjadi lompatan besar dalam penanganan gagal jantung kronis. Hal ini karena hadirnya tantangan penanganan gagal jantung karena keterbatasan di Indonesia.
"Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," ujar Azhar di RSCM, Jakarta, Rabu, 5 Agustus 2026.
Azhar menegaskan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) ingin rumah sakit nasional tidak hanya menjadi pengguna teknologi kesehatan, namun, menjadi pemain utama dalam pengembangannya.
Karena itu, pemerintah terus mendorong kolaborasi internasional. Hal ini agar transfer teknologi, peningkatan kompetensi dokter, dan inovasi layanan dapat berlangsung lebih cepat.
Proses operasi menggunakan LVAD
Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group sekaligus pendiri HeartSpan.ai, Dr. Wei Siang Yu, mengatakan bahwa ukuran dari alat ini sekitar 90 grams.
Angka berat ini dikatakan lebih ringan dibandingkan beberapa alat yang serupa di dunia. HeartSpan.ai sendiri mendonasikan kepada satu pasien di Indonesia yang ditangani dokter-dokter jantung RSCM.
Pada proses operasi, diperkirakan waktunya sekitar 4-5 jam secara keseluruhan. Namun, untuk pemasangan alat ini, membutuhkan waktu sekitar 1-2 jam saja.
LVAD menjadi penanda pemberdayaan ekosistem kesehatan
Kolaborasi antara HeartSpan.ai, RSCM, dan berbagai mitra internasional mencakup donasi perangkat, pelatihan dokter, transfer pengetahuan, hingga pengembangan sistem layanan berbasis kecerdasan buatan (Al).
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," ujar Dr. Wei.
Saat ini, teknologi CoreHeart 6 telah digunakan pada lebih dari 1.500 pasien di Tiongkok. Bahkan, pada sebagian pasien, perangkat dapat dilepas setelah dua hingga tiga tahun karena fungsi jantung kembali membaik.
Direktur Utama RSCM, Supriyanto Dharmoredjo, mengatakan keberhasilan implantasi LVAD CoreHeart 6 menjadi tonggak baru layanan jantung nasional. Hal ini sekaligus bukti kepercayaan dunia internasional terhadap kemampuan tenaga medis Indonesia.
"Ini merupakan harapan baru bagi masyarakat Indonesia. Kami ingin RSCM menjadi pusat pengembangan teknologi ini di kawasan Asia," jelas Supriyanto.
Supriyanto lebih lanjut berharap kerja sama dengan HeartSpan.ai terus berkembang sehingga RSCM dapat menjadi pusat pelatihan (training center) teknologi LVAD di Asia.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)