FITNESS & HEALTH
Obesitas pada Perempuan Bisa Ganggu Kesuburan, Kenali Risikonya
Elang Riki Yanuar
Kamis 30 Juli 2026 / 19:00
- Dokter mengingatkan obesitas pada perempuan dapat meningkatkan risiko gangguan reproduksi, penyakit jantung, hingga diabetes tipe 2.
- Obesitas pada perempuan perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang memerlukan penanganan menyeluruh sesuai evaluasi dokter.
- Obesitas dan PMOS saling berkaitan sehingga dapat mempersulit pengelolaan berat badan serta meningkatkan risiko komplikasi kesehatan.
Jakarta: Obesitas pada perempuan tidak lagi bisa dipandang sekadar persoalan berat badan atau penampilan. Kondisi ini merupakan penyakit metabolik kronis yang dapat memengaruhi berbagai aspek kesehatan, mulai dari metabolik, jantung, kesehatan mental, hingga fungsi reproduksi.
Pesan tersebut menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women’s Health yang diselenggarakan Novo Nordisk Indonesia. Melalui forum ini, masyarakat diajak memahami bahwa obesitas memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan perempuan di berbagai fase kehidupan, mulai dari masa remaja hingga pascamenopause.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, menjelaskan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Selain penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, perempuan juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan reproduksi akibat kondisi tersebut.
"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi. Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan. Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," ujar dr. Cynthia Agnes Susanto.
Ia menambahkan bahwa salah satu kondisi yang berkaitan erat dengan obesitas adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome atau PMOS, yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan nama ini menunjukkan bahwa gangguan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormon dan metabolisme tubuh secara menyeluruh.
Menurut dr. Cynthia, sekitar 35 hingga 50 persen perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas. Kondisi ini dapat memperparah gejala yang muncul sekaligus meningkatkan risiko komplikasi metabolik maupun gangguan reproduksi.
"Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang," tambah dr. Cynthia.

Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya berfokus pada perubahan pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga dapat melibatkan dukungan psikologis, terapi obat sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.
Salah satu inovasi yang kini digunakan adalah terapi GLP-1 receptor agonist atau GLP-1 RA. Terapi ini bekerja pada mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak sehingga dapat membantu pengelolaan berat badan apabila diberikan berdasarkan evaluasi dokter. Pendekatan tersebut juga bertujuan menghasilkan quality weight loss dengan mengurangi massa lemak tanpa mengorbankan massa otot.
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa obesitas harus dipahami sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan tepat, bukan sekadar persoalan estetika.
"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan, Novo Nordisk Indonesia juga menghadirkan platform edukasi NovoCare.id. Situs tersebut menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, termasuk kalkulator indeks massa tubuh atau BMI, informasi mengenai risiko kesehatan, hingga panduan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Melalui edukasi yang lebih luas, Novo Nordisk Indonesia berharap semakin banyak perempuan memahami bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat ditangani secara tepat melalui pendekatan berbasis sains. Dengan diagnosis dan terapi yang sesuai, kualitas hidup perempuan diharapkan dapat meningkat sekaligus menurunkan risiko berbagai komplikasi kesehatan di masa depan," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)
Pesan tersebut menjadi sorotan dalam diskusi bertajuk The Missing Conversation: Weight and Women’s Health yang diselenggarakan Novo Nordisk Indonesia. Melalui forum ini, masyarakat diajak memahami bahwa obesitas memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan perempuan di berbagai fase kehidupan, mulai dari masa remaja hingga pascamenopause.
Dokter spesialis obstetri dan ginekologi, dr. Cynthia Agnes Susanto, BMedSc, Sp.OG, menjelaskan bahwa obesitas dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit serius. Selain penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, perempuan juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan reproduksi akibat kondisi tersebut.
"Obesitas bisa memengaruhi berbagai aspek kesehatan dan menurunkan kualitas hidup. Bahkan pada perempuan, obesitas bukan hanya meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2, tapi juga berisiko memengaruhi kesehatan reproduksi. Mulai dari gangguan siklus menstruasi dan ovulasi, meningkatnya risiko infertilitas dan komplikasi pada kehamilan. Karena itu, obesitas perlu dipandang sebagai penyakit kronis yang membutuhkan penanganan komprehensif yang disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu, sesuai evaluasi dokter," ujar dr. Cynthia Agnes Susanto.
Ia menambahkan bahwa salah satu kondisi yang berkaitan erat dengan obesitas adalah Polyendocrine Metabolic Ovarian Syndrome atau PMOS, yang sebelumnya dikenal sebagai Polycystic Ovary Syndrome (PCOS). Perubahan nama ini menunjukkan bahwa gangguan tersebut bukan hanya berkaitan dengan ovarium, tetapi juga melibatkan sistem hormon dan metabolisme tubuh secara menyeluruh.
Menurut dr. Cynthia, sekitar 35 hingga 50 persen perempuan dengan PMOS juga mengalami obesitas. Kondisi ini dapat memperparah gejala yang muncul sekaligus meningkatkan risiko komplikasi metabolik maupun gangguan reproduksi.
"Pada sebagian perempuan, obesitas bisa memperburuk gejala dan dampak metabolik PMOS. Sementara perubahan hormonal dan metabolik yang berkaitan dengan PMOS juga bisa membuat pengelolaan berat badan menjadi lebih menantang," tambah dr. Cynthia.

Seiring berkembangnya ilmu kedokteran, penanganan obesitas kini dilakukan melalui pendekatan yang lebih menyeluruh. Penanganan tidak hanya berfokus pada perubahan pola makan dan aktivitas fisik, tetapi juga dapat melibatkan dukungan psikologis, terapi obat sesuai indikasi medis, hingga tindakan bedah bariatrik pada pasien tertentu.
Salah satu inovasi yang kini digunakan adalah terapi GLP-1 receptor agonist atau GLP-1 RA. Terapi ini bekerja pada mekanisme biologis yang mengatur rasa lapar dan kenyang di otak sehingga dapat membantu pengelolaan berat badan apabila diberikan berdasarkan evaluasi dokter. Pendekatan tersebut juga bertujuan menghasilkan quality weight loss dengan mengurangi massa lemak tanpa mengorbankan massa otot.
Associate Director Medical and Regulatory Novo Nordisk Indonesia, dr. Riyanny Meisha Tarliman, menegaskan bahwa obesitas harus dipahami sebagai kondisi medis yang membutuhkan penanganan tepat, bukan sekadar persoalan estetika.
"Obesitas bukan sekadar persoalan penampilan, melainkan kondisi kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas hidup perempuan di berbagai fase kehidupan. Perempuan perlu memiliki informasi yang tepat agar dapat mengenali risikonya, mencari bantuan medis saat diperlukan, dan memperoleh penanganan yang sesuai bersama tenaga kesehatan," jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi kesehatan, Novo Nordisk Indonesia juga menghadirkan platform edukasi NovoCare.id. Situs tersebut menyediakan informasi berbasis sains mengenai obesitas, termasuk kalkulator indeks massa tubuh atau BMI, informasi mengenai risiko kesehatan, hingga panduan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.
"Melalui edukasi yang lebih luas, Novo Nordisk Indonesia berharap semakin banyak perempuan memahami bahwa obesitas merupakan penyakit kronis yang dapat ditangani secara tepat melalui pendekatan berbasis sains. Dengan diagnosis dan terapi yang sesuai, kualitas hidup perempuan diharapkan dapat meningkat sekaligus menurunkan risiko berbagai komplikasi kesehatan di masa depan," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ELG)