Wamenkes Pertegas Obesitas Bukan Hanya Soal Penampilan
- Menurut Prof. Dante, masih banyak yang merasa obesitas hanya perkara penampilan atas ke bawah.
- Padahal, obesitas justru harus diutamakan persoalan kesehatan.
- Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor.
Jakarta: Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) sekaligus Ketua Himpunan Studi Obesitas Indonesia (HISOBI) Prof. dr. Dante Saksono Harbuwono, Sp.PD-KEMD, Ph.D. mengatakan bahwa obesitas bukan soal penampilan saja.
Menurut Prof. Dante, masih banyak yang merasa obesitas hanya perkara penampilan atas ke bawah. Padahal, obesitas justru harus diutamakan persoalan kesehatan.
"Jangan lupa bahwa di dalam tubuh yang obesitas itu, peradangan kita berjalan terus," paparnya dalam peluncuran kampanye Berani Bicara Berat dari APL, Jumat, 14 Agustus 2026.
Data nasional terbaru yang tersedia dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi obesitas pada penduduk berusia 18 tahun ke atas mencapai 23,4 persen. Angka tersebut meningkat dibandingkan 21,8 persen pada 2018.
Obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari faktor biologis dan genetik, perilaku kesehatan, kondisi medis yang mendasari, hingga faktor lingkungan. Jadi, sebenarnya keluarga penting untuk membantu kontrol obesitas.

Bahkan, menurut Prof. Dante, penanganan obesitas tidak hanya dibebankan terhadap individu. Namun, keluarga juga memiliki kepentingan sama; itulah sebabnya perlu memperhatikan sejak dini.
Menurut Prof. Dr. dr. Em Yunir, Sp.PD-KEMD, Ketua Umum Perhimpunan Endokrinologi Indonesia (PERKENI), tubuh memiliki mekanisme biologis yang secara alami mempertahankan berat badan. Jadi, pencapaian penurunan berat badan yang signifikan dan berkelanjutan melalui perubahan gaya hidup saja dapat menjadi tantangan.
"Oleh karena itu, penanganan obesitas memerlukan pendekatan jangka panjang, dengan tujuan meningkatkan kesehatan dan menurunkan risiko komplikasi," jelas Prof. Yunir.
Menurut dr. Erwin Christianto, M.Gizi, Sp.GK, Ketua Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Gizi Klinik Indonesia (PDGKI), asesmen gizi klinis membantu menentukan strategi nutrisi yang sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.
Strategi tersebut kemudian dapat dilengkapi dengan perubahan perilaku, dukungan psikologis, dan terapi medis, sehingga membentuk pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan untuk mendukung kesehatan dan kualitas hidup yang lebih baik.
Sementara itu, kampanye “Berani Bicara Berat” hadir untuk meluruskan berbagai persepsi tersebut dengan menempatkan obesitas sebagai penyakit kronis yang kompleks yang memerlukan penanganan medis berkelanjutan serta dukungan yang tepat dari tenaga kesehatan.
"Didorong oleh misi APL untuk membuat layanan kesehatan lebih mudah diakses, kami percaya bahwa sudah saatnya kita membangun kembali percakapan mengenai berat badan dan mengubah secara mendasar cara kita memandang obesitas," ujar Ay Lie Widjaja, Chief Operating Officer, Commercialization, PT Anugerah Pharmindo Lestari (APL).
"Melalui kampanye Berani Bicara Berat, kami berupaya memberdayakan masyarakat melalui edukasi berbasis sains, sekaligus mendorong mereka untuk mengambil langkah selanjutnya dengan mencari dukungan dan penanganan yang dibutuhkan melalui konsultasi dengan tenaga kesehatan," tutupnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(FIR)