FITNESS & HEALTH
5 Tanda Kamu Diam-diam Sedang Masuk Survival Mode
A. Firdaus
Jumat 28 Agustus 2026 / 17:12
- Sering lupa, gampang tersinggung, sulit tidur, hingga ingin mengendalikan semuanya? Kenali 5 tanda kamu mungkin sedang berada dalam survival mode.
- Ketika hidup terasa kacau dan tidak bisa diprediksi, seseorang mungkin berusaha mengendalikan sebanyak mungkin hal di sekitarnya.
- Latihan tersebut dapat membantu mengalihkan tubuh dari respons fight or flight atau lawan.
Jakarta: Ketika hidup sedang terasa berat, entah karena urusan pekerjaan, masalah pribadi, atau berbagai tekanan lainnya, seseorang bisa masuk ke kondisi yang disebut survival mode atau mode bertahan hidup.
Sekilas, orang yang berada dalam kondisi ini mungkin terlihat baik-baik saja. Mereka tetap bekerja, menjalani rutinitas, bahkan terlihat produktif seperti biasa. Namun, di balik itu, tubuh dan pikiran sebenarnya sedang bekerja keras menghadapi tekanan.
Menurut Real Simple, mengutip Antara, seseorang dalam survival mode cenderung memusatkan energi untuk melewati masa sulit. Akibatnya, hal-hal lain seperti istirahat, emosi, hingga kebutuhan diri sendiri bisa terabaikan.
Lantas, apa saja tanda seseorang mulai masuk survival mode?
Sering lupa menaruh barang, kehilangan arah saat bercerita, atau tiba-tiba lupa apa yang ingin dikatakan? Bisa jadi otak sedang kelelahan.
Pekerja sosial klinis berlisensi sekaligus pendiri Temperance Psychotherapy, Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan otak yang terus memantau potensi ancaman dan berbagai tuntutan akan mengalokasikan lebih sedikit energi untuk fungsi seperti memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif.
Dengan kata lain, bukan selalu karena seseorang ceroboh. Pikiran yang terlalu sibuk menghadapi tekanan juga bisa membuat kemampuan mengingat dan berkonsentrasi ikut terganggu.
Tubuh memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, jika seseorang berulang kali terbangun di tengah malam atau dini hari dan sulit kembali tidur, kondisi tersebut patut diperhatikan.
Dokter spesialis gawat darurat sekaligus ahli pemulihan kelelahan kerja, Archana Shrestha, MD, mengatakan kondisi ini dapat terjadi ketika pikiran belum benar-benar berhenti meskipun tubuh sedang beristirahat.
Alhasil, seseorang bisa terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir memikirkan berbagai hal.
Menurut Shrestha, situasi tersebut dapat membuat sistem saraf simpatik tetap aktif. Sistem ini berperan dalam respons tubuh terhadap stres atau ancaman.
Hal kecil yang biasanya tidak terlalu mengganggu tiba-tiba terasa bikin emosi? Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Ivelevitch menjelaskan kelelahan dan sistem saraf yang terus berada dalam kondisi tertekan dapat membuat seseorang lebih mudah marah.
Dalam kondisi tersebut, amigdala yang berperan dalam memproses emosi bisa menjadi lebih reaktif. Sementara itu, korteks prefrontal yang membantu mengatur respons dan pengambilan keputusan dapat bekerja kurang optimal.
Akibatnya, toleransi terhadap gangguan kecil pun ikut menurun. Sesuatu yang biasanya hanya membuat kesal sedikit bisa terasa jauh lebih menguras emosi.
Saat sedang berada dalam tekanan, wajar jika seseorang merasa sedih, marah, kecewa, atau cemas. Namun, masalah bisa muncul ketika seseorang terus-menerus terjebak dalam emosi tersebut.
Shrestha mengatakan terlalu lama merenungkan emosi negatif dapat meningkatkan stres dan berpotensi berkontribusi terhadap masalah kesehatan lainnya.
Jika pikiran terus berputar pada masalah yang sama tanpa menemukan jeda, tubuh pun seolah tidak mendapat kesempatan untuk benar-benar beristirahat.
Ketika hidup terasa kacau dan tidak bisa diprediksi, seseorang mungkin berusaha mengendalikan sebanyak mungkin hal di sekitarnya.
Ivelevitch mengatakan orang yang biasanya santai bisa berubah menjadi lebih perfeksionis atau merasa semua hal harus berjalan persis sesuai rencana.
Namun, menurutnya, kebutuhan untuk mengendalikan situasi tersebut tidak selalu berarti ingin mengontrol orang lain. Bisa jadi seseorang hanya sedang berusaha menciptakan rasa aman dan sesuatu yang dapat diprediksi.
Keluar dari survival mode tidak selalu bisa dilakukan dalam sekejap. Namun, Shrestha menyarankan latihan sederhana untuk membantu tubuh dan pikiran kembali merasa aman.
Salah satunya dengan menarik napas dalam-dalam melalui hidung, kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut.

Latihan sederhana untuk membantu tubuh dan pikiran kembali merasa aman. Ilustrasi Magnific
Setelah itu, coba perhatikan kondisi di sekitar. Apa yang terlihat, terdengar, dan terasa. Sambil melakukannya, katakan kepada diri sendiri bahwa saat ini kamu berada dalam kondisi aman.
Latihan tersebut dapat membantu mengalihkan tubuh dari respons fight or flight atau lawan dan lari yang berkaitan dengan aktivitas sistem saraf simpatik menuju kondisi yang lebih tenang melalui sistem saraf parasimpatik.
Yang tidak kalah penting, jangan menganggap kelelahan emosional sebagai sesuatu yang harus selalu ditanggung sendirian. Jika tekanan terasa terus-menerus mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
(FIR)
Sekilas, orang yang berada dalam kondisi ini mungkin terlihat baik-baik saja. Mereka tetap bekerja, menjalani rutinitas, bahkan terlihat produktif seperti biasa. Namun, di balik itu, tubuh dan pikiran sebenarnya sedang bekerja keras menghadapi tekanan.
Menurut Real Simple, mengutip Antara, seseorang dalam survival mode cenderung memusatkan energi untuk melewati masa sulit. Akibatnya, hal-hal lain seperti istirahat, emosi, hingga kebutuhan diri sendiri bisa terabaikan.
Lantas, apa saja tanda seseorang mulai masuk survival mode?
1. Jadi lebih pelupa
Sering lupa menaruh barang, kehilangan arah saat bercerita, atau tiba-tiba lupa apa yang ingin dikatakan? Bisa jadi otak sedang kelelahan.
Pekerja sosial klinis berlisensi sekaligus pendiri Temperance Psychotherapy, Nicole Ivelevitch, LCSW, mengatakan otak yang terus memantau potensi ancaman dan berbagai tuntutan akan mengalokasikan lebih sedikit energi untuk fungsi seperti memori kerja, perhatian, perencanaan, dan fungsi eksekutif.
Dengan kata lain, bukan selalu karena seseorang ceroboh. Pikiran yang terlalu sibuk menghadapi tekanan juga bisa membuat kemampuan mengingat dan berkonsentrasi ikut terganggu.
2. Sering terbangun dini hari
Tubuh memang membutuhkan waktu untuk beristirahat. Namun, jika seseorang berulang kali terbangun di tengah malam atau dini hari dan sulit kembali tidur, kondisi tersebut patut diperhatikan.
Dokter spesialis gawat darurat sekaligus ahli pemulihan kelelahan kerja, Archana Shrestha, MD, mengatakan kondisi ini dapat terjadi ketika pikiran belum benar-benar berhenti meskipun tubuh sedang beristirahat.
Alhasil, seseorang bisa terbangun dengan perasaan cemas atau khawatir memikirkan berbagai hal.
Menurut Shrestha, situasi tersebut dapat membuat sistem saraf simpatik tetap aktif. Sistem ini berperan dalam respons tubuh terhadap stres atau ancaman.
3. Jadi gampang tersinggung
Hal kecil yang biasanya tidak terlalu mengganggu tiba-tiba terasa bikin emosi? Jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri.
Ivelevitch menjelaskan kelelahan dan sistem saraf yang terus berada dalam kondisi tertekan dapat membuat seseorang lebih mudah marah.
Dalam kondisi tersebut, amigdala yang berperan dalam memproses emosi bisa menjadi lebih reaktif. Sementara itu, korteks prefrontal yang membantu mengatur respons dan pengambilan keputusan dapat bekerja kurang optimal.
Akibatnya, toleransi terhadap gangguan kecil pun ikut menurun. Sesuatu yang biasanya hanya membuat kesal sedikit bisa terasa jauh lebih menguras emosi.
4. Terlalu lama memikirkan emosi negatif
Saat sedang berada dalam tekanan, wajar jika seseorang merasa sedih, marah, kecewa, atau cemas. Namun, masalah bisa muncul ketika seseorang terus-menerus terjebak dalam emosi tersebut.
Shrestha mengatakan terlalu lama merenungkan emosi negatif dapat meningkatkan stres dan berpotensi berkontribusi terhadap masalah kesehatan lainnya.
Jika pikiran terus berputar pada masalah yang sama tanpa menemukan jeda, tubuh pun seolah tidak mendapat kesempatan untuk benar-benar beristirahat.
5. Merasa harus mengendalikan semuanya
Ketika hidup terasa kacau dan tidak bisa diprediksi, seseorang mungkin berusaha mengendalikan sebanyak mungkin hal di sekitarnya.
Ivelevitch mengatakan orang yang biasanya santai bisa berubah menjadi lebih perfeksionis atau merasa semua hal harus berjalan persis sesuai rencana.
Namun, menurutnya, kebutuhan untuk mengendalikan situasi tersebut tidak selalu berarti ingin mengontrol orang lain. Bisa jadi seseorang hanya sedang berusaha menciptakan rasa aman dan sesuatu yang dapat diprediksi.
Bagaimana Keluar dari Survival Mode?
Keluar dari survival mode tidak selalu bisa dilakukan dalam sekejap. Namun, Shrestha menyarankan latihan sederhana untuk membantu tubuh dan pikiran kembali merasa aman.
Salah satunya dengan menarik napas dalam-dalam melalui hidung, kemudian mengembuskannya perlahan melalui mulut.

Latihan sederhana untuk membantu tubuh dan pikiran kembali merasa aman. Ilustrasi Magnific
Setelah itu, coba perhatikan kondisi di sekitar. Apa yang terlihat, terdengar, dan terasa. Sambil melakukannya, katakan kepada diri sendiri bahwa saat ini kamu berada dalam kondisi aman.
Latihan tersebut dapat membantu mengalihkan tubuh dari respons fight or flight atau lawan dan lari yang berkaitan dengan aktivitas sistem saraf simpatik menuju kondisi yang lebih tenang melalui sistem saraf parasimpatik.
Yang tidak kalah penting, jangan menganggap kelelahan emosional sebagai sesuatu yang harus selalu ditanggung sendirian. Jika tekanan terasa terus-menerus mengganggu tidur, aktivitas sehari-hari, pekerjaan, atau hubungan dengan orang lain, berbicara dengan tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi langkah yang tepat.
(FIR)