FITNESS & HEALTH

Ketika Otak Sudah Ready, Tapi Mulut Malah Glitch!

A. Firdaus
Selasa 09 Juni 2026 / 18:11
Ringkasnya gini..
  • Fenomena ini sebenarnya sangat wajar dan punya penjelasan ilmiah, yang menarik tentang bagaimana sistem kendali bahasa di kepala, bekerja saat sedang memproses kata-kata.
  • Salah satu bentuk kesalahan ucapan yang sangat informatif adalah spoonerism.
  • Kekeliruan ini menjadi bukti nyata bahwa ucapan manusia, tidak diproduksi secara eceran atau satu demi satu kata.
Jakarta: Pernah merasa tidak, kalau di dalam kepala sudah tahu persis ingin berbicara apa, tetapi pas keluar dari mulut justru jadi berantakan? Fenomena ini sebenarnya sangat wajar dan punya penjelasan ilmiah, yang menarik tentang bagaimana sistem kendali bahasa di kepala, bekerja saat sedang memproses kata-kata.

Proses manusia menghasilkan pembicaraan, ternyata tidak terjadi dalam satu langkah instan. Ketika sedang mengobrol, seseorang akan terus memantau apa yang akan diucapkan, sekaligus apa yang baru saja tersampaikan. 

Mekanisme ini bekerja mirip sebuah editor internal, yang bertugas menyaring dan menangkap kesalahan tidak terhitung jumlahnya, sebelum suara tersebut benar-benar terdengar oleh orang lain.

Pada kenyataannya, mayoritas kekeliruan tersebut berhasil dibendung oleh sistem pemantauan ini. Namun, terkadang ada satu atau dua kesalahan yang tetap lolos ke dunia luar. 

Jika hal itu terjadi, pembicara biasanya akan mengambil jeda sejenak, mengulang kembali awal kalimat, atau langsung membetulkan ucapannya di tengah-tengah pembicaraan. 
 

Selain itu, penggunaan kata pengisi seperti “um,” “uh,” atau “well” sering kali muncul secara refleks, saat seseorang sedang berupaya mencari kosakata yang tepat atau merencanakan kelanjutan kalimatnya.

Meskipun kebiasaan ragu-ragu ini kerap kali dinilai negatif, hasil penelitian Stollznow pada 2026 justru membuktikan, bahwa jeda tersebut memegang fungsi komunikatif yang krusial.

Kehadiran kata pengisi ini efektif membantu pembicara, untuk mempertahankan giliran bicara agar tidak dipotong, memberikan sinyal adanya ketidakpastian, sekaligus mengulur waktu demi menemukan kata yang pas.

Daripada dicap sebagai cerminan komunikasi yang buruk, jeda-jeda ini justru menjadi bukti otentik dari sistem bahasa manusia, yang sangat fleksibel dan adaptif. Berbagai studi pun mengonfirmasi bahwa kata pengisi ini muncul secara reguler dalam obrolan harian di berbagai bahasa di dunia, yang menandakan bahwa interupsi kecil ini adalah hal yang sangat normal.
 

Rahasia di balik kata yang meleset


Dilansir dari Psychology Today, menurut Karen Stollznow Ph.D., para psikolog sejak lama menaruh minat besar, pada fenomena kesalahan ucapan ini. Alasan utamanya adalah karena kekeliruan tersebut, bisa memberikan petunjuk penting tentang, bagaimana sebuah ucapan diatur dan disusun di dalam pikiran.

Salah satu bentuk kesalahan ucapan yang sangat informatif adalah spoonerism. Istilah ini diambil dari nama seorang pendeta Inggris abad ke-19 dan akademisi Oxford, yaitu Reverend William Archibald Spooner. Fenomena spoonerism ini terjadi sewaktu bunyi dari beberapa kata tanpa sengaja saling tertukar. 
 

Mekanisme perakitan bahasa di kepala


Daya tarik utama dari spoonerism terletak pada kemampuannya, mengungkap bagaimana sebuah ucapan direncanakan di dalam kepala. Supaya bunyi bisa saling bertukar posisi di antara kata-kata, hal itu menandakan, bahwa otak sebenarnya sudah mempersiapkan beberapa kata sekaligus dalam satu waktu yang sama. 

Kekeliruan ini menjadi bukti nyata bahwa ucapan manusia, tidak diproduksi secara eceran atau satu demi satu kata. Sebaliknya, beberapa potong frasa yang akan dilemparkan ke luar, tampaknya sudah diaktifkan bersama-sama di dalam pikiran sebelum dilafalkan.

Fenomena ini memperlihatkan bahwa elemen bunyi, suku kata, makna, hingga tatanan gramatikal dikerjakan pada jalur yang terpisah, lalu dirakit dengan kecepatan tinggi menjadi sebuah omongan yang mengalir lancar. 

Ketika sesekali ada komponen yang tersasar ke posisi yang keliru, momen itulah yang membongkar proses-proses tersembunyi, yang selama ini membuat komunikasi antarmanusia menjadi mungkin untuk dilakukan.

Secillia Nur Hafifah

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

(FIR)

MOST SEARCH