FITNESS & HEALTH
Cerita Nenek 102 Tahun Operasi Pinggul di Malaysia, Bisa Jalan Lagi dalam 48 Jam
Elang Riki Yanuar
Senin 25 Mei 2026 / 10:00
- Nenek 102 tahun di Malaysia berhasil berjalan lagi dua hari setelah operasi pinggul akibat cedera karena terjatuh.
- Malaysia makin diminati pasien Indonesia untuk medical tourism, termasuk penanganan operasi lansia berisiko tinggi.
- Operasi cepat dan dukungan keluarga jadi kunci pemulihan Popo, pasien 102 tahun yang jalani operasi pinggul.
Jakarta: Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan kesehatan untuk lansia, Malaysia semakin menjadi pilihan banyak pasien Indonesia yang mencari penanganan medis modern dan terintegrasi. Kedekatan jarak, fasilitas rumah sakit bertaraf internasional, hingga dukungan dokter spesialis berpengalaman membuat negara ini terus diminati untuk medical tourism.
Salah satu kisah yang mengundang simpati datang dari Sunway Medical Centre, Sunway City, Kuala Lumpur. Seorang nenek berusia 102 tahun berhasil menjalani operasi pinggul dan kembali berdiri hanya dua hari setelah tindakan medis dilakukan.
Perempuan yang akrab disapa Popo itu dikenal tetap aktif di usia senjanya. Meski telah berumur lebih dari satu abad, ia masih mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri dan ikut membantu usaha keluarga sehari-hari.
Namun sebuah insiden mendadak mengubah rutinitasnya. Popo mengalami jatuh hingga harus segera dibawa ke unit gawat darurat di Sunway Medical Centre. Pemeriksaan dokter menunjukkan ia mengalami neck of femur fracture atau patah tulang pada bagian leher femur di area pinggul.
Cedera tersebut cukup umum dialami lansia karena kondisi tulang yang semakin rapuh seiring pertambahan usia. Dalam banyak kasus, patah tulang pinggul pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik secara drastis jika tidak segera ditangani.
Setelah tiba di rumah sakit, Popo langsung mendapat penanganan melalui layanan Fracture Liaison Service atau FLS. Program ini merupakan sistem perawatan multidisiplin khusus pasien lansia dengan kasus patah tulang yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Tim medis yang menangani terdiri dari dokter ortopedi, dokter geriatri, ahli anestesi, hingga rehabilitasi medis. Penanganan dipimpin langsung oleh dokter spesialis ortopedi Dr Jeffrey Jaya Raj yang menilai operasi cepat menjadi langkah penting demi menjaga kualitas hidup pasien.
“Intervensi dini adalah kuncinya. Jika operasi ditunda, pasien mungkin tidak akan bisa berjalan lagi, dan itu dapat memicu berbagai komplikasi lainnya,” jelas Dr Jeffrey.
Kurang dari 24 jam setelah menjalani perawatan awal, Popo langsung menjalani prosedur bipolar hemiarthroplasty. Operasi ini merupakan tindakan penggantian sebagian sendi pinggul yang dirancang khusus agar lebih aman untuk pasien usia lanjut.
Tim dokter memilih menggunakan anestesi regional dan spinal tanpa bius total untuk menekan risiko komplikasi. Proses operasi berlangsung sekitar satu jam dan berjalan dengan lancar.
Perkembangan kondisi Popo berlangsung sangat cepat. Sehari setelah operasi, ia sudah mulai berdiri dan melangkah perlahan dengan bantuan tim rehabilitasi medis yang mendampinginya selama masa pemulihan.
Pada usia 102 tahun, Popo disebut sebagai pasien tertua yang pernah menjalani operasi di Sunway Medical Centre. Bahkan, kasus tersebut diyakini menjadi salah satu operasi pinggul pada pasien tertua di kawasan Asia Tenggara.
Selain keberhasilan tindakan medis, dukungan keluarga disebut menjadi faktor penting dalam proses pemulihan Popo. Anak, cucu, hingga cicitnya terus mendampingi dan memberikan semangat selama ia menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kalau saya masih bisa berjalan, saya ingin melakukannya,” ujar Popo kepada keluarganya.
Dr Jeffrey menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan pasien lansia seperti Popo tidak hanya bergantung pada operasi, tetapi juga koordinasi seluruh tim medis sejak pasien masuk ruang gawat darurat hingga tahap rehabilitasi.
“Setiap langkah sangat penting,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(ELG)
Salah satu kisah yang mengundang simpati datang dari Sunway Medical Centre, Sunway City, Kuala Lumpur. Seorang nenek berusia 102 tahun berhasil menjalani operasi pinggul dan kembali berdiri hanya dua hari setelah tindakan medis dilakukan.
Perempuan yang akrab disapa Popo itu dikenal tetap aktif di usia senjanya. Meski telah berumur lebih dari satu abad, ia masih mampu melakukan berbagai aktivitas secara mandiri dan ikut membantu usaha keluarga sehari-hari.
Namun sebuah insiden mendadak mengubah rutinitasnya. Popo mengalami jatuh hingga harus segera dibawa ke unit gawat darurat di Sunway Medical Centre. Pemeriksaan dokter menunjukkan ia mengalami neck of femur fracture atau patah tulang pada bagian leher femur di area pinggul.
Cedera tersebut cukup umum dialami lansia karena kondisi tulang yang semakin rapuh seiring pertambahan usia. Dalam banyak kasus, patah tulang pinggul pada lansia dapat menyebabkan penurunan kondisi fisik secara drastis jika tidak segera ditangani.
Setelah tiba di rumah sakit, Popo langsung mendapat penanganan melalui layanan Fracture Liaison Service atau FLS. Program ini merupakan sistem perawatan multidisiplin khusus pasien lansia dengan kasus patah tulang yang membutuhkan penanganan cepat dan terkoordinasi.
Tim medis yang menangani terdiri dari dokter ortopedi, dokter geriatri, ahli anestesi, hingga rehabilitasi medis. Penanganan dipimpin langsung oleh dokter spesialis ortopedi Dr Jeffrey Jaya Raj yang menilai operasi cepat menjadi langkah penting demi menjaga kualitas hidup pasien.
“Intervensi dini adalah kuncinya. Jika operasi ditunda, pasien mungkin tidak akan bisa berjalan lagi, dan itu dapat memicu berbagai komplikasi lainnya,” jelas Dr Jeffrey.
Kurang dari 24 jam setelah menjalani perawatan awal, Popo langsung menjalani prosedur bipolar hemiarthroplasty. Operasi ini merupakan tindakan penggantian sebagian sendi pinggul yang dirancang khusus agar lebih aman untuk pasien usia lanjut.
Tim dokter memilih menggunakan anestesi regional dan spinal tanpa bius total untuk menekan risiko komplikasi. Proses operasi berlangsung sekitar satu jam dan berjalan dengan lancar.
Perkembangan kondisi Popo berlangsung sangat cepat. Sehari setelah operasi, ia sudah mulai berdiri dan melangkah perlahan dengan bantuan tim rehabilitasi medis yang mendampinginya selama masa pemulihan.
Pada usia 102 tahun, Popo disebut sebagai pasien tertua yang pernah menjalani operasi di Sunway Medical Centre. Bahkan, kasus tersebut diyakini menjadi salah satu operasi pinggul pada pasien tertua di kawasan Asia Tenggara.
Selain keberhasilan tindakan medis, dukungan keluarga disebut menjadi faktor penting dalam proses pemulihan Popo. Anak, cucu, hingga cicitnya terus mendampingi dan memberikan semangat selama ia menjalani perawatan di rumah sakit.
“Kalau saya masih bisa berjalan, saya ingin melakukannya,” ujar Popo kepada keluarganya.
Dr Jeffrey menegaskan bahwa keberhasilan pemulihan pasien lansia seperti Popo tidak hanya bergantung pada operasi, tetapi juga koordinasi seluruh tim medis sejak pasien masuk ruang gawat darurat hingga tahap rehabilitasi.
“Setiap langkah sangat penting,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ELG)